Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
100 Hari dan Kamu


__ADS_3

Kategori: Cerpen Cinta


Judul: 100 Hari dan Kamu


_________________________


Terkadang hal yang disengaja ataupun tidak membuat kita mengerti pada sebuah pengambilan keputusan untuk melakukannya. Rini dan Gugun sedang duduk di pelataran kampus sambil membaca sebuah makalah. Mereka sedang berbincang-bincang mendiskusikan isi dari makalah yang sedang mereka baca. Hingga Gugun saat itu membuka percakapan baru.


'Rin, aku mau mengatakan sesuatu padamu.'


'Apa?'


'Aku punya games untuk kita'


'Games?, maksudnya?'


'Kamu tahu kan di kampus ini mungkin ada beberapa dari kita yang belum punya pasangan. Maksudku bukan berarti kita harus mengikuti apa yang sedang ng-Trend disini. Tapi aku ingin mengajakmu untuk mencoba permainan ku ini, hanya sekadar sebuah permainan saja.'


'Lalu apa yang akan kau tunjukkan?'


'Aku ada permainan. Jadi, aku ingin kita berdua menjadi sepasang kekasih selama 100 hari. Kita hanya perlu bersama selama 100 hari saja. Dan setelah itu kamu boleh melakukan apa saja kita hanya terikat selama 100 hari saja kok. Bagaimana kamu mau mencobanya?'


'Aku tidak yakin Gun'


'Ya sudah kalaupun kau tidak mau aku juga tidak memaksa kok Rin'


'Mm.. Tapi kurasa menarik, okelah aku terima permainanmu ini Gun'


'Benarkah?, kalau begitu mulai besok kita mulai permainannya. Deal?'


'Okke..'


HARI PERTAMA..


Dimulai dari keberangkatan mereka ke kampus, selama satu hari itu pun mereka lewati bersama hingga berlanjut pada hari-hari berikutnya. Memang kalau dilihat-lihat mereka cocok menjadi sepasang kekasih sungguhan. Tapi entah apa yang ada dipikiran mereka yang membuat permainan semacam ini.


HARI KELIMA..


Mereka kini sedang berada di taman kampus, menikmati dinginnya Ice cream rasa coklat kesukaan mereka berdua. Tampak kemesraan tercipta di sekeliling mereka. Canda tawa dan tersenyum selalu menyertai mereka saat itu. Sampai saat mereka sedang asik bercanda ice cream yang sedang Rini makan membuat sebagian wajahnya terkena. Sontak Gugun segera membersikannya dengan penuh hati-hati.


'Rin di pipimu ada Ice cream tuh, sini aku bersihin.' tangan Gugun menyentuh pipi Rini mencoba membersikan bercak ice cream pada wajahnya. Sungguh saat kedua mata mereka saling menatap ada hal yang aneh pada binaran mata mereka.


'Hhe… Makasih ya.'


'Makanya kalau makan ice cream jangan kaya anak kecil deh. Belepotan, Hhe..'


HARI KESEPULUH..


'Rin, aku pulang bersama Dina hari ini kau tidak keberatankan?'


'Kenapa kamu tidak bilang dari tadi Gun, jadi aku tidak perlu susah payah menunggumu disini'


'Ayolah rin, bukan maksudku seperti itu, kamu jangan marah dong!'


'Terserah apa katamu sajalah Gun'


'Iya deh, besok aku janji akan pulang bersamamu Rin, sekarang aku pulang duluan ya. Kasihan Dina menungguku sudah dari tadi. Dadah jelek… hhe..'


Rini hanya terpaku terdiam apa yang sedang dirinya rasakan saat ini. Apakah Ia sedang cemburu?


'Kenapa dia lebih memperdulikan Dina dibanding aku, ahh.. sudahlah inikan hanya permainan, sadar Rin.' ucapnya dalam hati.


HARI KEDUA PULUH LIMA..


'Rin kamu kenapa?'


'Tidak, tidak ada apa-apa kok'


'Kalau tidak, kenapa sedari tadi wajahmu ditekuk seperti itu. Ada masalah ya?'


'Aku tidak ada apa-apa Gun serius deh..'


Ketika itu, gugun membalikkan badannya menghadap Rini dan mencoba memegang tangan Rini.


'Rin kamu ada masalah ya?. Cerita dong sama aku.'


'Tidak ada gun, Kamu kenapa sih jadi ingin tahu sekali tentang aku.'


'Iyalah, karena aku peduli sama kamu, aku khawatir sama kamu. Aku kan pacar kamu'


'Gun ini kan hanya permainan, kenapa kamu menganggapnya seperti kita pacaran sungguhan.'


'Aku hanya berharap itu bisa jadi kenyataan Rin.'


'Apa maksudmu Gun.?'


'Ahh.. Tidak Rin, lupakan saja.'


HARI KELIMA PULUH..


Rini sedang berjalan menuju perpustakaan, Ia hendak mencari tugas yang akan Ia kerjakan setelah pulang kuliah ini. tiba-tiba dari dalam kantongnya terdengar suara dering ponsel dan tanda getarnya, saat tahu Gugun yang meneleponnya Ia bergegas mengangkatnya.


'Hallo Rin.' 'Kamu ada waktu tidak malam ini Rin?'


'Ada, memangnya ada apa?'


'Aku ingin mengajakmu keluar malam ini. Kamu bisa tidak?'


'Sepertinya bisa Gun.'


'Baiklah, nanti malam jam 8 aku tunggu kamu di tempat biasa kita kesana ya'


'Oke..'


'Sampai jumpa.'


Setelah selesai kemudian Ia memasukan kembali ponselnya ke kantong dan berfokus kepada tujuan awal. Ke perpustakaan.


Tamannya indah sekali malam ini terlihat cerah dengan taburan bintang di langit. Tapi kemana Gugun, bukankah Ia menyuruhku datang ke tempat ini?' di kejauhan terlihat seorang laki-laki sedang bediri menghadap langit. Rini pun menghampirinya karena Ia tahu bahwa itu adalah Gugun.


'Sudah lama ya?. Maaf ya aku telat datang.'


'Tidak apa-apa. Aku juga baru datang.'


'Oh iya, ada apa kamu mengajakku kesini?.'

__ADS_1


sambil memberikan kotak berwarna merah, dan memberikannya kepada Rini.


'Untukmu.'


'Apa ini?.'


'Buka aja, maaf ya kalau jelek. Semoga kamu suka itu.'


Rini mulai membukanya dengan hati-hati, takut-takut ada hal yang berharga dalam kotak ini. Ketika Ia telah selesai membuka pembungkusnya dan melihat isinya, terlihat sehelai sapu tangan berwarna hijau muda yang bertuliskan 'forrever together' dengan rajutan benang berwarna merah jambu. Sungguh itu sangat menyentuh hati Rini, tak pernah terpikir bahwa Gugun akan memberikan sapu tangan yang indah kepadanya.


'Gun, sapu tangan?'


'Iya, itu untukmu. Kala kamu menagis gunakan itu untuk menghapus air matamu. Kala kau lelah gunakan sapu tangan itu untuk menghapus keringat dan peluhmu. Kala kau rindu aku gunakan sapu tangan itu untuk mengingatku. Semoga aku akan selalu terkenang di hati kamu Rin.'


'Terima kasih ya Gun, aku senang mendapatkan hadiah ini darimu.'


'Sama-sama, simpan yang baik ya.'


Rini hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan kata-kata Gugun, dalam hatinya Ia berjanji akan menjaga terus pemberian Gugun kepadanya.


HARI KETUJUH PULUH LIMA..


Hujannya lebat sekali, membuat mereka harus terjebak di halte bus di pinggir jalan. Bus yang tak kunjung datang membuat mereka harus menunggu lebih lama. Terlebih lagi Rini yang biasanya membawa payung kini entah kenapa Ia lupa sekali membawanya. Hal tersebut membuat mereka sedikit kebasahan karena biasan-biasan air hujan yang tertiup angin menerpa mereka.


'Rin, kamu kedinginan ya?.'


'Iya Gun, anginnya kencang sekali ini.'


'Ini pake jaketku saja. Dari pada kamu sakit.'


'Ehh.. Jangan Gun, nanti malah kamu yang kedinginan. Aku kuat kok.'


'Sudah, gak usah nolak gitu. Tuhh bibirnya udah gemetar. Nih aku pakein ya.'


Sejenak Gugun memakaikan jaketnya kebadan Rini. Kini Ia hanya menggunakan selembar kemeja pendek kotak-kotak berwarna hijau. Memang Gugun selalu mengenakan pakaian yang rapi kemanapun dan dimanapun. Apalagi dia sangat menyukai kemeja pendek, itulah ciri khasnya.


'Makasih ya Gun. Sudah lebih baik kok.'


'Aku senang kalau kamu baik-baik saja Rin. Aku gak mau denger kamu sakit, lebih baik aku yang sakit dari pada kamu.'


'Gun kamu ngomong apa sih, di dunia ini mana ada yang mau sakit. Aku gak papa kok jangan terlalu khawatir ya.'


'Sungguh Rin, aku gak mau kamu kenapa-napa. Aku khawatir sama kamu. Soalnya aku…'


Jantung Rini berdetak kencang. Tunggu!! Apa yang ingin dikatakan Gugun mengapa Ia terlihat serius seperti itu. Ada apa ini?.


'Kamu kenapa Gun?.'


'Aku…'


Tiba-tiba saja ada sebuah mobil sedan hitam sedang ugal-ugalan di jalan licin karena hujan ini. Sepertinya mobil itu tergelincir sesuatu di jalan. Itu membuat keseimbangan mobil terganggu hingga membuat mobil melaju tidak tentu arah. Ternyata mobil itu mengarah pada halte bus dan telah siap menghantam Rini, karena kebetulan Rini berada di pinggir sebelah kanan tepat dari arah mobil itu datang.


'AWASS Riiinnn!!!.' Teriak Gugun sambil menarik dengan keras dan memeluk erat Rini berusaha lari untuk menghindari tabrakan dan melindungi Rini ke tempat yang lebih aman. Usahanya pun berhasil, Rini terselamatkan namun, tubuhnya bergetar karena ketakutan dan merasa kaget pada kejadian yang baru saja Ia alami. Gugun pun terus menjaga Rini dalam dekapannya, Ia akan terus melindungi Rini. Ia tahu Rini sedang ketakutan dan kini Ia berusaha untuk menenangkannya.


'Gun, aku takut.'


'Tenang Rin, kamu tidak apa-apa kok. Ada aku yang melindungi kamu.'


Rini tidak bisa menjawab lagi, Ia juga tak terlalu kuat menahan rasa takutnya tentang kejadian tadi yang begitu mengejutkan. Di sisi lain jantungnya juga semakin berdetak kencang saat Gugun memeluk erat dan menengangkannya. Dekapan Gugun terus melingkar di tubuhnya. Rasa hangat dan nyaman kini telah merasuki tubuhnya. Benar, kini Ia sudah bisa menenangkan keadaannya. Walau masih tetap ada rasa takut sedikit menyelimutinya. Tapi, semua itu perlahan hilang ketika Gugun ada di sampingnya. Ia merasa sangat dilindungi oleh Gugun.


Semua itu dilakukan Gugun agar Rini merasa tenang dan tidak terlalu panik dan takut, kerena sungguh Rini selamat dari kecelakaan maut itu. Untung saja Gugun bisa bergerak cepat. Kalau tidak. Ia tahu, Ia akan kehilangan pujaan hatinya. Walaupun memang Ia tidak pernah tahu tentang perasaanya selama kurang lebih 70 hari Ia lewati bersama Rini. Awalnya ini hanya permainan yang dia usulkan tapi, entah kenapa Ia menikmati dan ternyata Ia memang jatuh cinta sungguhan kepada Rini. Bisa melindungi Rini, itu memang sangat membuatnya bahagia. Ia tidak mau terpisah dengan Rini, apalagi harus melihat Rini tersakiti. Lebih baik Ia yang tertabrak tadi ketimbang Rini yang harus jadi korban, sungguh itu sangat membuatnya tak sanggup.


HARI KESEMBILAN PULUH SEMBILAN..


Hari ini ulang tahun Gugun yang kedua puluh tiga. Sejak beberapa hari yang lalu Rini telah menyiapkan semuanya. Mulai dari kejutan dan hadiah telah Ia persiapkan, Ia akan merayakan pergantian hari bersama Gugun di sebuah danau taman kota malam nanti. Ia sengaja hari ini menghindar dari Gugun dan berpura-pura tidak tahu bahwa besok hari ulang tahun Gugun. Itu sangat membuat Gugun heran. Saat jam pulang kampus mereka menyempatkan diri duduk di taman hijau kampus sambil ngobrol-ngobrol.


'Rin, ke toko buku yuk nanti?.'


'Maaf ya Gun, Aku gak bisa ada acara hari ini.'


'Tumben banget ada acara, acara apaan. Kok aku gak tahu?.'


'Pokoknya ada deh, lagian kamu mau tahu banget.'


'Kamu kenapa sih, jutek banget sama aku, Dari tadi pagi sikapnya dingin banget gak kaya biasanya. Lagi ada masalah ya?.'


'Gak.'


'Tuhh.. ada yang salah ya sama aku?.'


sambil menatap dan menengok ke arah Rini.


'Gak ada Gun, udah deh.'


'Iya deh, oh iya inget gak besok hari apa dan tanggal berapa?.'


'Hari rabu tanggal 23.'


Sebenarnya Rini tahu kode itu, Gugun mencoba mengingatkan bahwa esok adalah hari ulang tahunnya. Tapi Rini tetap pura-pura dan menunjukan sikap tenang di depan Gugun. Karena sebenarnya Rini telah menyiapkan kejutan besar pada pergantian hari nanti malam.


'Iya memang. Tapi kamu tahu gak itu hari apa?.'


Rini ber-akting berpura-pura melihat jam, dan berkata.


'Udah dulu ya Gun, aku mau pergi sekarang. Buru-buru nih, dadah sampai jumpa besok Gun.'


Seketika Rini berdiri dari posisi duduknya dan berpamitan pergi kepada Gugun, padahal saat itu Gugun belum menyelesaikan pembicaraannya.


'Ehh.. Rin, tunggu dulu aku belum selesai ngomong. Ya udah hati-hati di jalan ya.'


'Iya, nanti malam aku telpon jangan lupa diangkat ya.'


'Sipp..'. Ia sambil menganggukkan kepalanya.


Saat sosok Rini sudah tak terlihat lagi, Gugun masih terdiam, sejenak Ia berfikir.


'Kok Rini gak inget ulang tahun gue ya?.'


Pukul 22.00


Terdengar suara dering ponsel dari atas meja di kamar Gugun. Gugun pun segera mengangkatnya ketika Ia tahu itu telpon dari Rini.


'Hallo Rin, kirain aku kamu gak jadi telpon.'


'Iya Gun, tapi sebenarnya.' Berbicara dengan nada cemas (hanya pura-pura)

__ADS_1


'Kamu kenapa Rin?'


'Aku lagi ada di taman kota Gun, gak ada kendaraan disini. Kamu bisa jemput aku Gun?.'


'Ahh.. Rin, kamu buat aku jadi khawatir saja, ya udah kamu tunggu ya. Aku akan kesana menjemput.'


'Beneran nihh?. Makasih ya Gun.'


'Iya. Kan gak baik perempuan ada di taman kota sendirian. Tunggu aku ya.'


'Iya. Oke, cepat ya.'


saat telpon terputus, Rini segera memeprsiapkan semua kejutan yang Ia telah siapkan untuk Gugun. Ia sangat ingin membuat Gugun kagum pada semua yang Ia lakukan.


Setelah mengganti baju, Gugun segera mengambil motornya dan menancap gas untuk menjemput Rini di taman kota. Saat di perjalanan ingin kesana, Gugun merasakan ada sesuatu yang salah pada motornya. Ia merasa tidak nyaman sekali berkendara. Tapi, semua itu Ia hiraukan, ia terus saja mengendarainya tanpa sadar Ia tidak terlalu memfokuskan pandangannya ke depan. Hingga…


BRUGGG!!!


Tabrakan kencang dialami oleh Gugun, ia menabrak sebuah mobil truk yang berkecepatan tinggi dari arah yang berlawanan. Itu membuatnya terpental dan terluka sangat parah pada bagian kepala. Motor yang ia kendarai pun ikut terpental jauh dan bahkan terlihat rusak parah. Warga yang ada disana bergegas menyelamatkan Gugun dan membawannya ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan segera.


Di taman kota, Rini masih setia menunggu kedatangan Gugun meski Ia tahu sudah lumayan lama Ia menunggu Gugun yang tak kunjung datang. Ia melirik jamnya, terlihat pukul 22.45. pikirannya pun berubah cemas.


'Kenapa gugun belum datang juga ya, Gun kamu dimana sih?.'


Tiba-tiba ponselnya berdering, sesaat setelah membaca nama di depan layar ia terkejut.


'Ayah gugun, ngapain ya telpon malam-malam?.' Pikirnya dalam hati.


'Hallo.. ada apa ya pak telpon Rini malam-malam.'


'Rini, maaf kalau bapak ganggu. bapak hanya mau kasih kabar kalau Gugun. Gugun kecelakaan.'


'Apa pak?. Gugun kecelakaan, bagaimana keadaannya pak?.'


'bapak belum tahu, kamu lebih baik kesini ya Rin, dari tadi Gugun selalu menyebutkan namamu. Bapak takut terjadi apa-apa dengan dia.'


'Baik pak, Rini akan ke rumah sakit segera.'


Tanpa pikir panjang Rini segera pergi ke rumah sakit dengan segala kemampuannya ia secepatnya kesana, ia tak pernah berfikir akan terjadi hal semacam ini. 'Gugun kecelakaan, Ya Tuhan selamatkanlah dia' pikirnya dalam hati. Badannya terasa lemas jantungnya berdetak tak beraturan yang ada di pikirannya hanya ada Gugun, ia sangat khawatir dengan keadaan gugun. Ia takut hal buruk terjadi pada Gugun. Kalau memang itu sampai terjadi, hal itu sangat membuat ia begitu merasa bersalah karena telah menyuruh Gugun untuk menjemputnya di taman kota malam-malam begini.


Saat sampai di rumah sakit, ia segera menanyakan ruang rawat Gugun pada suster di lantai bawah. Setelah tahu ia pun mempercepat langkahnya agar sampai di ruang rawat Gugun pada lantai dua, ia pun memasuki lift. Saat pintu lift terbuka ia langsung mencari ruang yang ditujukan pada kartu yang telah diterimanya di lantai bawah pemberian suster. Ia sangat bersyukur setelah menemukan ruang rawat Gugun. Disana sudah ada Ayah dan Ibu Gugun yang sedang menunggu. Terlihat wajah panik ditunjukan oleh Ibunya gugun, sama halnya dengan orangtua gugun Rini juga terlihat cemas melihat Gugun yang terbaring di ruang rawat.


'Pak, bagaimana keadaan Gugun.?'


'Bapak belum tahu nak, doakan saja Gugun baik-baik saja.'


'Padahal Ibu sudah melarang Gugun untuk jangan pergi, tapi ia bersikeras untuk menjemput kamu nak.'


Ibunya Gugun hanya duduk terdiam sambil menitikkan air mata. Dan harap-harap cemas menanti dokter keluar agar ia tahu bagaimana kondisi anak lelakinya. Rini pun duduk di ruang tunggu tepat di samping tempat duduk Ibunya Gugun.


'Ibu, maafin Rini ya. Gak seharusnya Rini menyuruh Gugun menjemput Rini. Maafin Rini ya bu.'


'Sudahlah nak, biarkan saja. Mungkin rasa cintanya kepadamu membuat ia mau menjemputmu.'


'Apa bu, Gugun mencintai saya?.'


'Iya, Gugun selalu bercerita tentang kamu sama Ibu, tentang perasaanya dan apapun yang telah ia alami bersama kamu. Termasuk permainan 100 hari kalian. Ibu pun tahu, Gugun selalu curhat sama Ibu, dan asal kamu tahu sapu tangan yang diberikannya kepadamu. Itu ia jahitkan sendiri untuk kamu, ia rela tidak tidur malam hanya untuk menjahitkan itu untukmu. Ia memaksa Ibu untuk mengajarinya menjahit, karena itu kemauan Gugun Ibu tidak bisa melarangnya. Gugun ingin sekali membuat kamu bahagia nak.'


Rini hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Ibunya Gugun, ia tak menyangka selama ini ternyata Gugun mencintai Rini. Terlebih lagi saat ia mendengar pernyataan tentang sapu tangan itu. Hal itu membuat air mata Rini tak bisa dihentikan lagi. Ternyata Gugun melakukan semua itu demi dirinya, hanya untuk ia bahagia. Ia menyesal telah menyuruh Gugun untuk menjemputnya. Ia rela kejutannya gagal dari pada harus kehilangan sosok Gugun yang sebenarnya juga ia cintai dan sayangi.


'Maaf Ibu dan Bapak, ada yang bernama Rini disini?.' Kata dokter ketika keluar dari ruang rawat Gugun.


'Saya Rini Dok, bagaimana keadaan Gugun Dok?.' Rini sontak berdiri ketika dokter menyebut namanya.


'Sebaiknya kamu ke dalam, dari tadi Gugun selalu memanggil-manggil nama kamu. Kondisinya kritis saat in, mungkin dengan mendengar suaramu ia bisa kembali semangat untuk bangkit dari rasa sakitnya,'


Secepatnya Rini masuk ke dalam ruang rawat Gugun, dari pintu sudah terlihat sosok Gugun yang sedang terbaring lemas disana. Dikelilingi oleh selang-selang oksigen yang mengalir di hidungnya. Rini medekat dan kini tepat di samping ranjang Gugun. Ia tak kuasa menahan perasaannya melihat keadaan Gugun seperti itu. Air matanya terus menetes dan menetes.


'Hai gun, ini aku Rini. Gun maaf aku telah membuat kamu seperti ini. seharusnya kamu tidak menjemput dan menuruti apa mauku untuk datang ke taman kota Gun. Gun bertahanlah Gun aku mohon…'


tetes demi tetes mengalir di pipiku, sambil kupegang erat kedua tangannya. Kini Rini mulai mendekatkan bibirnya di telinga Gugun sambil berberbicara.


'Gun, kamu tahu gak kita masih bermain 100 hari berpacaran Gun, kamu ingatkan?. Ayo Gun bangun kita selesaikan permainan itu. Gun ayo bangun Gun.'


Tiba-tiba jam alarm berbunyi pada pukul 00.00 menandakan pergantian hari. Ya benar hari itu tepatlah sudah hari ulang tahun Gugun yang kedua puluh tiga. Setelah mematikannya Rini kembali berbisik di telinga Gugun.


'Happy birthday Gugun, selamat ulang tahun. Semoga kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.' Rini semakin terisak atas semua perkataannya, ia bingung harus melaukan apa. Hingga pada akhirnya Ia mengeluarkan sapu tangan pemberian Gugun beberapa minggu lalu.


'Gun, makasih ya kamu udah rela ngebuatin sapu tangan ini untuk aku, aku udah mendengar semua itu dari Ibu kamu. Makasih juga atas semua pengorbanan kamu terhadap aku, kebaikan kamu, kasih sayang kamu. Kenapa aku baru sadar ternyata kamu mencintai aku Gun, kenapa kamu gak bilang itu Gun.' Sambil menangis Rini meneruskan perkataannya.


'Aku baru sadar perkataan kamu beberapa minggu lalu, tindakan kamu menyelamatkan aku dari kecelakaan itu, bodohnya aku tidak menyadari itu. Gun aku mohon kamu bangun ya, buka matamu. Ada aku disini. Kita ulangi lagi dari awal kita ulangi lagi semua kisah cinta kita gun. Gun ayo gun bangun.'


Rini kini membuka tasnya dan mengeluarkan lagi sesuatu untuk yang kedua kalinya. Tapi ternyata ini adalah kado ulang tahun Gugun untuk hari ini.


'Gun, aku bawa kado untuk kamu, coba kamu dengerin ya.' Rini menekan tombol yang ada di bawah lampu hiasan itu. Saat itu muncul sebuah angsa yang berbentuk miniatur dan lampunya seketika menyala dan memutarkan sebuah musik romantis. Diakhir pertunjukan angsa itu terdengar kalimat di speaker yaitu _I LOVE YOU_ dengan nada suara seperti anak kecil.


'Gimana gun, kamu suka itu Gun?, Gun selama 100 hari ini aku belajar ketulusan, belajar pengorbanan dan kasih sayang dari kamu. Kamu mengajariku arti cinta sesungguhnya. Cinta bukan karena fisik tapi karena hati, dan kini aku telah mengerti itu. Kamu mengajarkan aku apa yang tidak aku ketahui gun. Hari ini sudah tepat kita berpacaran selama 100 hari, di hari ulang tahun kamu. Hari istimewa kamu. Ayo gun bangunlah, banyak yang sudah mencemaskan keadaan dan mengkhawatirkan kamu. Termasuk aku gun.'


Rini sejenak mengapus air mantanya yang tak kunjung berhenti karena Gugun yang dari tadi belum juga sadarkan diri.


'Gun aku tahu walau sebenarnya ini bisa dibilang terlambat. Tapi… tapi sungguh, aku juga mencintai kamu. Perasaan tidak mau jauh dari kamu timbul saat aku berada di dekat kamu, perhatian kamu membuat aku nyaman. Aku menyukai kamu Gun, aku juga mencintai kamu Gun.' Sejenak ia menghapus air matanya dan kembali menatap Gugun.


'AKU SAYANG KAMU.' Kata-kata itu terlontar sudah halus dari mulut Rini, diakhiri dengan cium di dahinya Gugun.


Mungkin itu terdengar di telinga Gugun, saat itu tiba-tiba Gugun menunjukan reaksinya dengan menggerakkan tangannya. Rini yang sedang menunduk di ranjang rawat terkaget melihat tangan Gugun bergerak. Perlahan mata Gugun terbuka den melihat langsung ke arah Rini.


'Gun, kamu sudah bangun. Alhamdulillah akhirnya.' Rini begitu senang dan menatap Gugun.


'Aku juga mencintaimu, Sayang.' Jawab Gugun dengan suara yang sedikit samar-samar.


'Iya, kamu cepat sembuh ya.' Sambil membelai kepala Gugun air matanya mengalir lagi, namun ini adalah tangisan bahagia karena harapannya untuk kehilangan Gugun musnah sudah.



'Aku senang kamu bisa jadi milik aku, dulu aku hanya bermimpi untuk bisa memiliki kamu.' Kata Gugun polos kepada Rini.


Mereka sedang duduk di pinggir taman yang pada bulan lalu mereka kunjungi. Rini sedang bersandar santai di bahu Gugun menikmati ramainya taman dan kesejukan udara sore.


'kenapa bicaranya seperti itu.' Rini kini menengokkan kepalanya ke arah Gugun tapi tetap masih berada dalam sandran di bahu Gugun.


'Saat kutahu ada cinta yang memandang fisik, itu membuat aku minder saat mendekati wanita, apalagi kamu. Aku tahu aku gak sesempurna lelaki lain. Tapi setelah aku renungi cinta itu tidak butuh kesempurnaan, melainkan dengan cinta itu semua menjadi sempurna. Cinta itu pengorbanan dan jadikan pengorbanan itu sesuatu yang sempurna' Jawab Gugun pada pertanyaan Rini. Rini bangun dari sandarannya dan meihat wajah Gugun secara utuh.


'Tetap jadi milik aku ya Rin, tetap sempurnakan hidupku dengan kamu ada di dalamnya. Tetaplah bersemi di hati aku untuk selamanya.' Lanjut Gugun sambil memegang tangan Rini.


Mendengar kata-kata itu Rini terkagum dengan senyum mengembang di bibirnya, pilihannya memang benar dan Ia akan terus bersama dengan Gugun karena Ia juga telah menyadari Gugun adalah seseorang yang membuatnya sempurna.

__ADS_1


THE END


8


__ADS_2