Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
GARIS (Part 2)


__ADS_3

Kategori: Cerpen Fantasi Fiksi


Judul: GARIS (Part 2)


_________________________


Evelyne Carine Porter alias Evi, ayahnya seorang veteran Inggris dan Ibunya dari Sumatera. Dia terlahir istimewa dengan bakat meramal lewat mimpi. Sebagian pertanda yang dilihat lewat mimpi, bila diterjemahkan bisa mengarah pada suatu kejadian. Karena itulah, ayahnya meraup untung besar dalam bisnisnya.


Meski terlihat menyenangkan, Evi sendiri pernah bercerita padaku mengenai mimpi yang dilihatnya.


'Di dalam mimpi, saya hanya melihat warna biru tua, hitam, putih, abu-abu dan warna tanah. Kalau ada yang berwarna lain, itu hanyalah darah.'


Mungkin karena pengaruh itu, dia juga menyukai warna- warna itu. Setiap sudut interior dan perkakas di kamarnya selalu mengandung warna-warna tadi. Termasuk pakaiannya. Pernah suatu kali kutanyakan mengapa dia menyukai warna itu, dan dia menjawab,


'Meski saya memejamkan mata dan saya tertidur, saya seolah sedang terjaga di dunia dengan warna- warna itu. Di sana terasa sangat nyata. Saya berjalan, saya mendengar, dan saya melihat. Bahkan rasanya dunia ini yang bagai mimpi. Ada banyak warna, banyak ekspresi dan banyak orang. Tapi saya merasa tidak aman di dunia ini, karena saya tidak tahu banyak hal…'


Dengan santai aku menjawab, 'Kalau begitu nona belajar saja hal- hal di dunia ini.'


Lagipula, Evi tidak pernah bersekolah di sekolah formal. Sejak kecil dia hanya mengenyam home schooling. Dulu, dia pernah sekali duduk di sebuah sekolah saat TK. Dan malamnya dia mengigau terus. Dia memimpikan banyak orang dalam kepalanya.


Begitulah cara kerja bakatnya, dia akan memimpikan orang yang dekat dengannya atau dilihatnya. Dia baru bisa mengendalikan itu sejak usia 12 tahun. Tidak terbayang bagaimana rasanya tersiksa melihat nasib orang- orang memenuhi mimpimu.


'Belajar? Apa yang harus kupelajari?' tanyanya.


'Banyak sekali.'


'Kalau begitu, maukah anda mengajariku semua itu pada saya?' tanyanya.

__ADS_1


'Saya tidak yakin, non.'


'Apa anda tidak bisa mengajarkannya? Kalau begitu, katakan pada papa, aku


ingin belajar semua itu!'


'Bukan, saya tidak yakin dengan kondisi nona. Saya khawatir, justru belajar tentang kehidupan di dunia ini akan menyiksa nona..'


Dia kembali diam. Dia memang tipe perempuan yang tidak banyak berdebat dan beradu argumen. Cenderung diam dan tidak cerewet. Dia kembali menunduk.


Aku jadi merasa bersalah, 'Emh, mungkin nona hanya perlu menguatkan perasaan saja kalau belajar tentang kehidupan ini. termasuk menerima omongan saya yang kadang kurang enak.'


'Aku sudah pernah melihatnya dalam mimpi. Kalau suatu hari aku akan masuk ke dalam sebuah labirin, dan bila aku lolos dari sana, maka aku akan mendapatkan hadiah.' Ucapnya.


'Ngng.. apa menurut nona, saya ini labirinnya?'


Dia menggeleng, 'Justru aku melihat sosok mirip dengan anda yang akan menemani saya masuk dalam labirin.'


'Sehari setelah anda resmi bekerja di sini. Bagi anda tidak mempercayai mimpi saya mungkin biasa. Tapi, bagi saya yang sudah hidup 24 tahun bersama kemampuan ini… Pertanda apapun itu…' dia tidak melanjutkan omongannya.


——————————————————————


Sudah 11 bulan aku menjaganya, hanya beberapa kali saja dia pergi meninggalkan rumah hanya untuk ke plasa, berbelanja beberapa baju dan ke kafe. Saat melihat sebuah butik besar yang menawarkan beragam jenis pakaian berwarna- warni dan beragam model, dia seperti seorang yang memasuki surga. Dia mengusap sudut matanya dan berkata,


'Rey, tidakkah anda pikir semua ini begitu indah dan terasa seperti mimpi? Warna- warninya begitu nyata..'


'Yah, ini memang dunia nyata. Beli saja beberapa potong, dan pakailah. Saya rasa nona perlu suasana baru dalam berpakaian.'

__ADS_1


'rey, kami tidak mempekerjakan anda untuk mengomentari gaya berpakaian!' dia merengut masam. Aku sempat keheranan ketika dia protes begitu.


Jarang- jarang saja dia membantah, apalagi sampai merengut. Tambah manis saja wajahnya.


'Tapi aku merasa tenang kalau aku memakai warna seperti dalam mimpiku.' Ujarnya kemudian.


'Bagaimanapun pakaian anda, anda yang tentukan.' Aku menjawab pasrah, tidak ingin diomeli lagi.


'Apa menurut anda aku pantas dengan gaun kuning itu?' tunjuknya. 'Pantas. Cocok dengan kulit anda, non.' Jawabku cepat.


Pada akhirnya dia berhasil membeli beberapa potong baju yang berwarna lain, beberapa dengan motif bunga. Setelah itu dia berjalan ke sebuah kafe tidak jauh dari butik. Dia mengajakku untuk memesan beberapa makanan. Dan di situlah kami bercerita banyak. Di tempat itu juga aku bisa melihat dia tertawa puas, bicara dengan nada naik-turun, serta mimik di wajahnya mulai mengguratkan garis- garis kehidupan.


'Rey, anda punya mimpi apa dalam hidup anda?' tanyanya tiba- tiba.


'Eh, mimpi? Hmm.. Saya sih orangnya nggak suka bermimpi, tapi lebih suka membuat sebuah visi. Karena kalau mimpi, akan sirna ketika kita bangun. Sedangkan visi, tidak akan hilang meski kita bangun atau tidur.'


'Oh, jadi karena itu anda cenderung skeptis dengan mimpi saya ya, rey?'


Malu aku jujur, aku hanya mengalihkan pandanganku darinya. Aku hanya takut berbicara sesuatu yang bodoh dan menyinggung nona ini.


'Kalau gitu saya ganti pertanyaannya. Visi anda apa, rey?'


Aku hanya bisa tersenyum, ternyata Evi bisa juga bercanda seperti ini. aku kembali menghadapkan wajahku padanya.


'Saya mau jadi sukses. Saya mau jadi orang berpengaruh dan punya banyak uang.'


'Lalu, apa tidak ada bayangan berkeluarga?' Tanyanya.

__ADS_1


'Sama sekali belum ada.' Jawabku lugas. Evi tertawa lagi, kini sampai terkekeh tidak berhenti. Aku jadi ikut tertawa, membayangkan wajah bodohku yang menjawab pertanyaannya.


-bersambung-


__ADS_2