Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
Ada Cinta di Ampera


__ADS_3

Kategori: Cerpen Cinta


Judul: Ada Cinta di Ampera


_________________________


Dini hari begini, masih saja kendaraan berlalu-lalang di jalan arah Jakabaring. Hembusan AC yang semilir ini membuat bulu romaku berdiri. Sudah tepat pukul dua, mata yang sebenarnya berat ini tak bisa kupejamkan. Aku baru saja selesai menerjemah buku dan mengedit sebuah majalah sekolah. Teman satu kamar juga sudah tertidur pulas. Hanya saja aku dan suara-suara kendaraan itu yang tersisa. Ampera kian indah bila malam hari. Sungai Musi di bawahnya memantulkan cahaya lampu dari Ampera, terasa seperti air yang kelap-kelip.


Kalau tidak ingat besok aku harus kuliah, kalau tidak ingat besok ada presentasi, kalau tidak ingat besok harus ke kantor penerbitan dan kalau tidak ingat besok masih banyak aktivitas yang kulalui, malam hari ini saja aku tidak akan tidur. Aku ingin memanfaatkan mataku untuk melihat pemandangan dini hari yang masih gelap gulita. Melihat kegelapan dini hari yang nampak terang karena cahaya lampu. Indah memang, terlihat seperti bintang dan kunang-kunang. Tapi aku harus tidur. Pukul sembilan harus sudah ada di tempat presentasi. Di depan dosen pula!


Hembusan AC yang dingin membuat selimut kutarik lebih tinggi. Fikiranku terasa terbang melayang entah kemana. Hingga sepertinya aku mendengar deringan sebuah alarm dan sedikit gemersik yang tiba-tiba membentak.


'Nda, bangun. Udah pagi tau!' seruan itu. Spontan aku langsung duduk.


'Astaga, kurang ajar banget sih loe. Jantungan nih lama-lama gue!' sahutku tak kalah seru.


Seketika itu aku langsung meraih handuk warna biru muda milikku. Hari ini aku kesiangan, seharusnya aku bangun pukul 5 tadi. Ini sudah lewat dua jam. Tak salat subuh, juga tak sempat mencuci baju. Aku hanya fokus dengan bahan-bahan presentasiku. Satu per satu barang yang akan kubawa kumasukkan dalam tas ransel. Sudah berisi laptop, flashdisk, buku-buku dan majalah yang baru saja selesai kuedit.


'Nda, please deh! loe tu kenapa sih? bisa pelan-pelan nggak? mata gue julingan, nih ngeliatin loe melulu!' ujar Desti, teman satu kamarku yang, yah bisa dibilang cerewet.


'Ya udah, nggak usah diliatin geh, susah amat!' sahutku tak kalah hebohnya juga.

__ADS_1


Keadaan menjadi hening.


'Des, sepatu gue mana?' seruku memecah keheningan.


'Yee… mana gue tau! loe 'kan yang punya, masa tanya sama gue' jawab Desti sewot.


'Makanya, loe kalo naro' barang jangan asal. Tuh, gue taro' di lemari paling bawah. Loe naro'nya di depan pintu kamar. Nanti kalo diambil orang loe juga yang kelabakan' jelas Nila, yang lebih perhatian padaku. Dia sudah seperti kakakku sendiri.


'Hee.. gue lupa naro'nya. Makasih ya, La' jawabku seraya meringis dan langsung meluncur ke luar.


'Huu, salam dulu kali, Nda. Langsung nganclong aja!' ujar Desti yang masih kudengar. Lalu kusahut, 'Telat! yang penting kan loe tau gue udah berangkat!'


Aku mulai memacu langkahku lagi. Tas yang cukup membeban ini membuat pundakku sedikit nyeri, belum lagi gulungan proposal di tangan kananku. Mungkin karena aku terlalu fokus melihat sebuah angkutan umum, juga karena aku berjalan dengan cepat dan tidak terlalu memperhatikan sekelilingku. Tiba-tiba,


Braaakk!!


Aku menabrak seorang laki-laki, hingga lembaran proposalku tercecer di pinggir jalan. 'OMG! proposal gue!' seruku. 'Wah, gila loe. Jalan lihat-lihat dong! maen tabrak aja. Tu lihat! proposal gue kabur semua. Mana gue mau presentasi lagi. Wah, kacau nih. Tanggung jawab loe!' tambahku lagi dengan nada memuncak.


'Waduh, waduh… Mbak, saya juga lagi buru-buru nih. ini, juga mesti ada meeting sama klient. Maaf ya Mbak. Saya cuma bisa bantu mengambil lembaran kertas Mbak yang masih saja' sahutnya dengan lembut dan wajah yang tenang meski sedang terburu-buru. Ia lantas membungkuk di hadapanku, memunguti lembaran proposal milikku.


'Haaa… ni cowok baik banget ya, cakep lagi' pikirku.

__ADS_1


Pria itu masih saja memunguti kertas yang berserakan di bawahku. Sedangkan aku hanya memandanginya sampai tak berkedip. Dia tampan, dari wajahnya dia terlihat cerdas dan pembawaannya tenang. Bicaranya halus, sekali lagi dia tampan! Hemm, benar-benar meluluhkan hatiku.


'Mas, Mas… nggak usah dipunguti kok. Saya masih punya software-nya. Maaf ya, saya nggak sengaja' tuturku. Baru pertama kali ini aku menyebut diriku 'saya' kepada orang yang belum kukenal. Apa lagi dia adalah laki-laki yang masih muda. Tapi yang ini benar-benar beda.


'Oh, ya sudah kalau begitu. Maaf, Mbak. Saya permisi dulu' katanya lagi. Aku hanya membalasnya dengan senyum. Merasa kurang puas melihatnya, aku memutar kepalaku. Jalannya tegap dan postur tubuhnya tinggi. 'Sempurna!' pujianku untuknya.


Tiiinn, tin… tin…!!!


'Mbak, buruan jalan dong!' keluh salah satu pengemudi.


'Astaga!!' kataku seraya meneplak dahiku sendiri.


Suara klakson mobil dan seruan pengemudi Pajero Sport mengejutkanku. Rupanya sedari tadi klakson mobil itu berseru, tapi aku baru sadar. Huft, gara-gara laki-laki tak kukenal itu, aku jadi seperti ini. Mudah sekali cinta membuai seseorang. Pantas saja, banyak yang gila karena cinta. Entah mengapa aku merasa telah jatuh cinta pada laki-laki itu. Padahal aku baru melihatnya. Bahkan aku tidak tahu namanya. Tapi kalau jodoh, aku pasti bertemu lagi dengannya di sini, di Jembatan Ampera. Jembatan penuh cinta yang pernah kusambangi.


#***hallo temen temen cerpen makasih yah bagi yang udah mau membaca novel ini makasih bagi yang udah like,koment dan love nya


maaf kalau selama beberapa hari ini tidak update karena hp ku habis di restart jadi file untuk buat cerpen ini hilang dan harus membuat dari awal


btw jangan lupa vote yah


makasih***:)

__ADS_1


__ADS_2