Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
RAINA!!


__ADS_3

Ku lihat Dika yang penuh luka tikaman di dadanya.


“Dika!” pekikku


Aku tidak percaya. Dika meninggal secara tragis seperti ini. Aku mulai meneteskan air mata. Meskipun ia pernah menyakitiku. Dari lubuk hatiku masih ku simpan rasa untuknya.


“Ta, lihat deh Raina” ucap Sarah.


Aku memandang Raina. Senyum licik terpancar di bibirnya


“Raina! kau yang membunuh Dika kan. ayo ngaku” pekikku.


Ia memandangku tajam. Tapi secepatnya ia sembunyikan senyum liciknya itu.


“aa.. aku… aku nggak ngerti apa-apa Renata. Bahkan aku nggak kenal sama Dika. Kamu jangan fitnah aku” elaknya


“nggak usah bohong. Kamu kan tadi yang ngasih surat yang tulisannya dari darah” ucapku


“aku nggak ngerti maksud kamu Ta” elaknya dengan wajah memelas.


“Ta, jangan nuduh orang sembarangan” ucap salah satu siswi diikuti yang lainnya.


Aku pun emosi dibuatnya. Ia pandai mencari muka.


Tapi, senyum liciknya tak dapat ia sembunyikan dariku. Aku segera membantu mengurus mayat Dika


“Dika, kamu tenang disana” lirihku memandangi nisan Dika


“yang tabah Ta” ucap Sarah menguatkanku


Selesai dari makam Dika, kami pun pulang ke rumahku. Sarah berjanji akan menginap di rumahku kali ini.


Namun, apa yang ku lihat. Aku disambut bendera kuning di depan rumah. 2 orang manusia terbujur kaku dan berselimut kain putih. Aku tidak dapat menahan air mataku. Musibah bertubi-tubi menimpaku.


“ayah… nenek…” lirihku di tengah isakku


“kamu harus kuat Ta” ucap Sarah yang juga bersedih bersamaku


Ayah dan nenek ditemukan meninggal dengan tikaman di dada. Sama seperti Dika. Arghh, ada apa sebenarnya.


Ku lihat Raina berada di tengah-tengah ibu-ibu yang membacakan tahlil. Ia tersenyum licik padaku. Namun sekilas tak ku lihat lagi keberadaannya.


“aku nggak bisa terus-terusan seperti ini Rah. Satu per satu orang yang kusayang pergi secara tragis” isakku dalam pelukan Sarah


“apa ini ulah Raina” ucap Sarah


“aku juga berfikiran seperti itu Rah. Ia selalu muncul dengan senyum liciknya” balasku


Tiba-tiba saja lampu kamarku mati. Sontak aku dan Sarah ketakutan. Tidak ada siapa-siapa di rumah kecuali aku dan Sarah. Aku dan sarah berjalan keluar mengecek listriknya. Tiba-tiba saja lilin yang kami bawa mati dan lampu hidup seketika. Raina muncul di hadapan kita dengan pisau di tangan kanannya. Aku dan Sarah ketakutan. Ia mendekati kami dengan penuh kebencian.


“kalian akan mati!” ucapnya dan bersiap menghunus kami.


Kami segera berlari keluar.


“Sial! pintunya terkunci Rah” ucapku panik


“gimana ni Ta” balas Sarah tak kalah paniknya


“kalian takkan bisa keluar dari sini” ucap Raina


“mau kamu apa sih!” ucapku berteriak


Ia tertawa. Sungguh menyebalkan tawanya


“jawab! kau sudah membuatku kehilangan orang yang ku sayang” ucapku terisak


“Renata sayang… tidakkah kau mengenalku” ucap Raina


“tentu saja. Kau yang telah membunuh Dika, ayah, dan nenekku” balasku

__ADS_1


“katakan apa mau kamu” tanya Sarah


“aku takkan tenang sebelum dendamku terbalas” ucap Raina dan dengan sigap menarik Sarah


“aa… lepaskan aku!” pekik Sarah


“diam kau bodoh!” ucap Raina


Sarah terus merintih. Aku tak tega melihatnya


“jangan sakiti dia! kau boleh membunuhku. Asal lepaskan dia. Dia tak tau apa-apa” teriakku


“kau yang tidak tau apa-apa!” balasnya sengit.


Ia pun mendorong Sarah hingga terjatuh.


“inilah saatnya” ucap Raina dengan senyum liciknya


“jangan! ku mohon!” ucapku


Raina pun mengangkat pisau di tangannya. Ia arahkan pisau itu ke arah Sarah


“Jangan!! ku mohon, jangan lakukan itu, Raina!!” pekik Sarah


“matilah kau, Linda!!!” ucap Raina yang tengah menghunuskan pisaunya di jantung Sarah


Deg’ itu seperti mimpiku. iya, aku yakin itu. Raina dan Linda. Bayangan silau menerpa mataku.


Dimana aku? sepertinya aku berada di taman kota


“Raina, berhenti mengikutiku” ujar seorang laki-laki.


Itu, ayahku. Raina tetap mengejar ayahku.


“Farhan, aku mohon. Jangan putuskan hubungan kita. Aku sangat mencintaimu” ucap Raina


Sarah!


“Farhan.. aku akan balas dendam ke kamu dan Linda” teriak Raina. Namun ayah tidak menanggapinya.


“Linda, kau harus mati!” ucap Raina dan menusuk jantungnya. Linda pun meninggal seketika.


“Raina!” ucap ayah dan menusuk Raina dengan pisau yang ada di tubuh Linda


Raina pun meninggal di samping Linda. Ayah pun menyeret mayat Raina di sungai. Sementara, mayat Linda ia bawa pulang.


“sekarang giliranmu, Renata sayang” ucap Raina


“aku salah apa Raina.!” teriakku


“hahaha, apa perlu aku ceritakan dari awal” ucap Raina diiringi tawanya


“maksud kamu” tanyaku


“Kau lihat dia, dialah Linda” ucap Raina


“apa, ja.. jadi Sarah itu Linda” ucapku terbata-bata


“iya Renata sayang. Dialah ibu kamu. Aku membunuhnya sesaat kamu berumur 2 tahun. Tapi, ayahmu membunuhku. Dia tidak mau tanggung jawab atas mayatku” ucapnya penuh amarah


“aa.. apa” ucapku tidak percaya


“dan sekarang, giliranmu Renata” ucap Raina dan berjalan ke arahku.


Ia menatapku penuh kebencian. Semakin dekat, bau amis darah tercium. Ia mengarahkan pisau ke dadaku. Aku hanya bisa menjerit dan menutup mataku. Lama tak ada tusukan dari Raina. Aku beranikan membuka mata. Raina! ia tersungkur di depanku.


“Sarah!” ucapku


“Aku Linda, bukan Sarah” lirinya.

__ADS_1


Ia tertatih ke arahku.


“maafin ibu sayang. Ibu nggak bisa jagain kamu” ucap Linda


“i.. ibu” ucapku dan memeluknya. Kurasakan hangat pelukan seorang ibu.


“kurang ajar!” pekik Raina.


“cepat Ta, kamu pergi dari sini” ucap Linda


“tapi.. ibu” ucapku


“biar aku hadapi dia” ucap Linda


Aku segera membuka pintu yang tidak terkunci seperti tadi. Aku berlari keluar. Ku dengar jeritan ibu


“ibuu..” lirihku


Raina muncul dan ke arahku. Ia mengejarku. Ku lemparkan sebuah kayu tajam ke arahnya. Kayu itu mengenai perutnya. Segera aku berlari sebisaku. Ku lihat cahaya mobil tak jauh dariku. Ia menuju ke arahku


“Aaaaa…”


Aku terbangun dari tidurku. Ku lihat sekeliling. Ini kamarku


“Renata, kamu sudah bangun” tanya ayahku yang tengah berada di pintu.


“ayah” teriakku dan memeluknya.


Kami pun menuju ruang makan.


“nenek..” panggilku.


“eh. cucu nenek sudah bangun. Yuk sarapan. Nanti kamu telat” ajak nenek


Ternyata aku bermimpi. Ayah dan nenek masih hidup.


“Renata..” panggil seseorang di depan rumah. Aku pun menghampirinya


“Dika” ucapku


Dika juga masih hidup.


“berangkat bareng yuk” ajaknya


Aku pun menerima ajakannya.


Sesampai di sekolah aku segera mencari-cari Sarah. Kemana ia? apa ia sebenarnya hanyalah anganku.


Aku pun terdiam di taman sekolah. Merenungkan kejadian atau bahkan mimpi yang baru saja ku alami. Sepucuk surat jatuh di hadapanku.


Renata,


Sayang, kamu berhasil melawan Raina. Ibu bangga sama kamu. Maafkan ibu, yang harus ninggalin kamu saat kamu belum tau apa-apa. Jaga ayah sama nenek baik-baik. Jangan merepotkan mereka. Ibu rindu kamu sayang


Linda/Sarah


Apa! jadi kejadian itu benar-benar ada. Sarah, aku pasti akan merindukanmu.


Bel berbunyi. Aku kembali ke kelas. Aku menuju bangkuku.


“Renata, darimana saja” tanya Fiola


“taman Fio” balasku dan menduduki bangkuku


“eh, ada guru baru loh” tambah Fiola


Belum lagi aku bertanya masukkan pak kepsek diikuti seorang guru perempuan. Ia memandang ke arahku.


Ya Tuhan! Raina!

__ADS_1


__ADS_2