Cerita Pendek (Cerpen)

Cerita Pendek (Cerpen)
That Star is You


__ADS_3

Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati Terpendam


Judul: That Star is you


_______________


OIK’s POV


Mungkin ini adalah yang akhir dari cerita hidupku. Penantian yang tak berujung. Aku sudah tak sanggup menahan segalanya. Aku sudah lelah. Lelah untuk melakukan semuanya. Aku sudah tak sanggup. Maafkan aku…



Cakka Jason. Lelaki yang sangat berarti dalam hidupku. Dialah yang membuatku masih bisa bertahan hingga saat ini. Aku berdiri di sampingnya menatap indahnya pemandangan kota Jogja dari atas. Menghirup udara segar malam hari yang mungkin tak dapat kuhirup lagi. Aku menolehkan wajahku ke arah Cakka.


'Kka, kok kamu ngajak aku kesini? Bukannya akhir-akhir ini kamu pacaran ya sama Shilla? Dan mulai ngelupain aku sebagai sahabat kamu?' tanyaku. Cakka menolehkan wajahnya kearahku sehingga mataku dan matanya saling menatap. Cakka menepuk bahuku.


'Aku sama shilla udah putus.' ucap Cakka lesu. Mungkin seharusnya aku gembira. Tapi aku tak boleh bahagia di atas penderitaan sahabat sendiri. Mungkin harus menguburnya dalam-dalam. Aku balas menepuk pundak Cakka.


'Putus? Kenapa putus? Bukannya kamu cinta sama Shilla?' Cakka melepaskan pegangannya di pundakku ia berbalik dan berjalan menjauh dariku mendekat ke arah dekat pohon pinus. Aku mengejarnya dan berdiri di belakang Cakka. Cakka mengambil buah pinus yang berada di tanah.


'Mungkin memang cintaku ini seperti buah pinus ini. Belum saatnya untuk jatuh tapi sudah jatuh duluan karena diganggu.' ucap Cakka sambil memainkan buah pinus yang belum masak itu. Andaikan kamu tahu Cakka ada yang aku sembunyikan darinya.


'Maksudmu, Shilla mengkhianatimu?'


'Bisa dibilang seperti itu. Tapi ternyata dia memang pengkhianat. Sekali aku lengah dia perpaling. Dia anggap cinta itu adalah sebuah permainan yang bisa berganti-ganti.' Cakka membuang buah pinus itu ke bawah hingga terjatuh entah kemana. 'Tapi, sekarang aku mulai melupakannya dan menghapus cintaku pada Shilla.' Cakka terduduk di sampingku.


'Semangat!! Pasti kamu bisa move on dari Shilla. Yakinlah di langit masih banyak bintang-bintang. Pasti ada satu di antara beribu-ribu bintang di langit sana yang bersinar seterang bintang yang kamu pancarkan. Kelak bintang itu akan datang padamu.' Ucapku sebenarnya sakit untuk mengatakan itu. Kenapa aku mengatakan itu? Dan sebenarnya aku berharap bintang itu adalah aku! Cakka menarik kepalaku dan menyandarkan kepalaku di bahunya.


'Makasih, Ik. Aku gak tau mau balas kebaikan kamu dengan apa. Kamu memang sahabat yang paling baik di dunia ini. Aku yakin kelak kamu juga akan mendapatkan bintang yang kau cari.' Aku hanya diam tak bergeming dan memejamkan mataku sejenak sebelum membuka kembali menatap indahnya bintang-bintang.



Aku hendak masuk ke dalam mobil jemputanku. Tapi langkahku terhenti ketika mendengar suara itu.


'Oik…' Aku menoleh ke arah suara dan mendekatinya. Cakka masih terduduk di atas motor ninja merahnya.


'Ada apa Kka?'


'Ayo berangkat bareng aku'


'Berangkat bareng kamu?'


'Lagian, aku kan udah gak punya gebetan lagi jadi bebas dong. Gak ada yang cemburu kok kalau kamu berangkat bareng aku. Lagian semua orang kan udah tau kalau kita sahabatan' Aku berfikir haruskah aku menerimanya?.


'Non, ayo berangkat' teriak Pak Anton supirku. Aku menghembuskan nafas panjang.


'Pak, kali ini aku berangkat bareng Cakka aja ya pak!'


'Naik motor non? Jangan deh jangan nanti bapak yang kena marah nyonya sama tuan.'


'Yakinlah, pak aku akan baik-baik aja. Gak usah khawatir' Aku mengambil helm yang disampirkan di spion motor Cakka dan mulai membonceng di belakang.


'Kka, jaga baik-baik non Oik nanti kalau ada apa-apa sama dia kamu harus berhadapan dengan saya.' Ancam Pak Anton sembari mengepal tangannya di depan Cakka.


'Tenang pak, aku akan jaga Oik'


Cakka langsung mengegas motornya kencang dan membuatku memeluk pinggang Cakka. Sudah lama aku tak seperti ini semenjak Cakka bersama Shilla. Kini aku bisa menghirup aroma khas yang terkuar dari baju OSIS Cakka.


Beberapa menit kemudian aku dan dia sampai di pelataran sekolahku SMA Budi Bangsa. Aku turun dari motor Cakka dan melepa helm yangku pakai. Saat aku berbalik apa yang aku dapatkan?


PLAKK…


Tamparan keras yang mendarat di pipi kananku dan berhasil membuatku jatuh terduduk. Mendengar suara tamparan itu, Cakka langsung berbalik melihatku. Orang itu hampir menamparku lagi. Tapi berhasil dicekal oleh Cakka.


'Cukup Shilla! Ayo ikut aku' bentak Cakka. Aku mencoba untuk berdiri dan berjalan ke arah kelasku Sedangkan Cakka masih menyeret Shilla ke tempat yang jauh dariku.

__ADS_1


AUTHOR’s POV


Cakka melepaskan cengramannya kasar sehingga Shilla hampir terpental.


'Kamu apa-apaan sih nampar Oik kayak gitu? Pelampisan maksud kamu? Aku udah terlanjur benci sama kamu Shill. Kamu itu udah gak ada hubungan apa-apa sama aku. Jadi kamu nggak berhak buat ngelarang siapapun berangkat bareng aku.' Bentak Cakka. Shilla berlutut di hadapan Cakka dan memegang kedua kaki Cakka.


'Kka, tapi aku masih cinta sama kamu' Cakka mendorong Shilla sampai terjengkang ke belakang.


'Cih… kamu bilang cinta? Cinta apa cintamu itu Cuma cinta palsu yang gak akan bertahan lama. Udah ahh males aku ngomong sama kamu' Ucap Cakka sambil pergi meninggalkan Shilla yang masih belum berdiri.


oik’s POV


Aku berjalan menyusuri koridor sekolah menuju kelasku XI IPA 6 sembari mengelus-elus pipiku yang masih sedikit nyeri akibat tamparan dari Shilla. Tiba-tiba langkahku terhenti karena ada seseorang yang menghalangi langkahku. Aku mendongak menatapnya. Dia tersenyum. Namun, apa yang aku pikirkan? Kenapa dia berpakaian seperti ini?


'Hai, anda siapa?'


'Aku adalah pria pembawa cinta. Karena bulan Februari itu bulan penuh cinta.' jelas pria itu.


'Boleh aku berbicara denganmu?' ucapku sembari mengajak pria itu duduk di pinggiran koridor. Pria itu mengangguk dan duduk di sampingku. Ia menatapku.


'Apa yang ingin kamu bicarakan?' Aku menghela nafas panjang sebelum aku benar-benar mengucapkan kata-kata yang ingin aku katakan.


'Apa benar bulan Februari itu penuh dengan cinta? Tapi, aku rasa semua itu salah.' Aku tertunduk.


'Kenapa kamu berkata seperti itu?' Ucapnya seraya mendongakkan kepalaku.


'Aku rasa bulan Februari ini bukan penuh cinta namun penuh dengan kepedihan dan perih yang mendalam.' ucapku lesu.


'Mungkin belum saatnya kamu mendapatkan cinta itu. Tapi yakinlah suatu saat nanti kamu akan mendapatkan bulan penuh cinta. Entah kapan itu. Setidaknya bulan ini kamu bisa jadi pengagum rahasianya itu mungkin membuatmu menjadi lebih baik.' ucapnya meyakinkanku.


'Tapi, bagaimana caranya? Apakah harus dengan bunga? Itu terlalu basi!'


'Bukan, aku punya sesuatu untukmu dan ini bisa membuatmu menjadi lebih baik.' ucap pria itu sambil menyodorkan sebuah kertas berbentuk hati. 'Tulislah apa yang ingin kamu tuliskan kepada pujaan hatimu.' Aku menerima kertas itu.


'Tapi, akuu tak yakin bisa memberikannya secara diam-diam.'


Aku beranjak dari tempat dudukku. Masih memandang kertas itu ragu. Apakah aku masih bisa memberikan ini pada orang itu? Aku tak yakin.


Aku masuk ke dalam kelasku XI IPA 6 meletakkan tasku di atas meja. Mungkin ini memang harus kulakukan.


Aku mulai menggoreskan pena itu di atas kertas putih di dalam kertas yang berbentuk hati. Semua rasa terus aku curahkan. Segalanya. Tanpa terkecuali.


Aku sudah tak sanggup lagi. Izinkan aku menyelesaikan tulisan ini. Aku benar-benar sudah tak sanggup menahan rasa sakit yang sudah tidak dapat di kompromi. Aku meringis menahan sakit menusuk perut. Aku menutup mulutku. Kenapa aku tiba-tiba merasa mual seperti ini?


Acha. Teman sekelasku melihatku seperti ini jadi khawatir. Dia mendekatiku sembari mengelus-elus


punggungku berharap dengan cara itu dia bisa meringankan rasa sakitku. Namun sayang, keadaanku tak berubah sama sekali.


'Ik, kamu kenapa?'


'Aku tidak apa-apa kamu tak perlu khawatir.' ucapku berbohong pada diriku sendiri. Ya memang ini adalah salah satu sifatku. Sifatku yang selalu menutupi keadaan yang sebenarnya karena aku tak ingin membuat orang lain kecewa dan khawatir.


Mungkin memang ini sudah waktunya. Waktuku utuk mengakhiri segalanya. Menutup setiap lembar kertas yang telah aku nodai dengan tinta pena. Jika memang ini waktunya, aku mohon berilah kesempatan sampai aku mengirimkan surat ini. Tapi aku, sudah tak mampu. Tubuhku sudah lemah dan tak dapat menopang tubuhku lagi. Mataku terpejam entah yang terakhir kalinya ataukah aku masih bisa membukannya kembali. Aku tak yakin.


'Oik bangun! Kamu kenapa?'


AUTHOR’s POV


Cakka langsung berlari ke arah kelas Oik. Berharap aku ada disana. Ia melihat seisi ruang kelas tapi ia tak dapat menemukanku disana. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada salah satu orang yang masih menangis di sudut ruang kelas.


'Cha, kamu kenapa kok nangis gitu?'


'Hiks… hiks… O…ik Kka. Oik.' ucap Acha sambil tersedu-sedu.


'Oik kenapa Cha?'

__ADS_1


'Dia dibawa ke rumah sakit. Tiba-tiba perutnya sakit dan mual-mual'


'Apa?' Cakka tak percaya dengan keadaan tentangku itu. Ia langsung berlari dan menaiki sepeda motornya lalu mengendarai cepat. Menembus jalanan kota Jogja yang asri.


Cakka menyetandarkan motornya di parkiran rumah sakit Panti Rapih. Ia langsung berlari menyusuri koridor dan langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok kedua orang tua Oik yang ekspresinya tak dapat diungkapkan lagi. Cakka berdiri di depan ayah Oik meminta sebuah jawaban apa arti ekspresi semua ini.


'Om, tante. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Oik?' Ayah Oik menepuk bahu Cakka memberikan aura ketenangan yang mungkin bisa membuat Cakka tenang.


'Sebenarnya ada sesuatu yang kamu tidak ketahui tentang Oik.'


'Bukannya Oik selalu terbuka dengan sahabatnya seperti aku?'


'Ada sesuatu yang tidak ia beritahu padamu. Karena dia tak ingin membuatmu cemas dan khawatir.'


'Apa om? Cepat katakan!' desak Cakka.


'Dia kena penyakit kanker lambung stadium akhir. Dan sekarang kondisinya kritis.' Cakka tak merespon kata-kata ayah Oik. Dia malah berlari masuk ke dalam bangsal dimana Oik terbaring lemah disana. Dia menggenggam tangan Oik yang tertusuk jarum infus. Ia mencium punggung tanganmya.


'Mohon, jangan pernah tinggalkanku. Kamu adalah yang terbaik yang pernah aku miliki selama hidup.'


Oik’s POV


Aku yang terpejam dan terkulai lemas di atas ranjang berseprei putih itu seperti mendengar sesuatu yang membawaku untuk membuka mata yang terkatup ini.


Perlahan, aku berusaha untuk membuka mataku. Pelan untuk melihat seberkas cahaya di balik kelopak mataku. Memang susah payah sampai aku bisa melihat mata sahabat yang berlinang air mata. Aku membalas genggaman Cakka.


'Kka, jangan menangis karena aku. Aku tak ingin ditangisi. Jangan buang buliran bening di matamu itu. Simpanlah untuk orang yang lebih pantas.' ucapku menghiburnya.


'Seharusnya bukan kamu yang menghiburku. Seharusnya aku yang menghiburmu dan menyemangatimu untuk hal ini.'


'Maaf aku telah menyembunyikan semua ini darimu. Maaf… aku hanya tak ingin kamu khawatir dan membebani hidupmu oleh persoalan ini.


'Ssttt…' Cakka meletakkan telunjuknya di depan bibirku. 'Kamu tak boleh berkata seperti itu. Aku tak merasa terbebani olehmu. Seharusnya… kau katakan itu dari dulu jadi, aku bisa menjagamu. Tapi mau berbuat apa lagi. Nasi sudah berubah jadi bubur dan tidak dapat menjadi nasi lagi.'


'Sekali lagi maafkan aku, aku bukan sahabat terbaik untukmu. Maaf. Tapi aku sudah lelah menjalani semua ini.'


'Kamu tetap menjadi yang terbaik untukku. Selamanya dari awal hingga akhir hidupku.'


Aku hanya tersenyum. Aku sudah tak mampu menahan semua ini. Aku sudah cukup lelah… lelah…


Perlahan aku menutup kelopak mataku untuk terakhir kalinya dan hari ini tepat tanggal 14 Februari. Aku mengakhiri semuanya semua tentangnya dan tentang cinta. Cinta yang terpendam dan aku tak akan pernah mendapat bulan yang penuh cinta itu.


AUTHOR’s POV


Cakka berjongkok di depan gundukan tanah basah yang bertabur bunga setaman. Ia mengelus elus sebuah nisan yang tertulis nama Oik Safena. Ia masih belum bisa melepas kepergian Oik


Cakka merasakan tebukan tangan yang mendarat di bahunya. Ia menoleh kepada si pemberi tepukan.


'Kka, ikhlaskan Oik. Kalau kau terus seperti ini dia tidak akan tenang.'


'Aku masih belum bisa melupakannya, Cha. Kenapa dia pergi begitu cepat? Saat aku sebelumnya telah menghilang begitu saja.' Acha merogoh dalam tasnya mengambil sebuah kertas berbentuk hati.


'Kka, aku nemu ini di kelas sebelum Oik dibawa ke rumah sakit. Bukalah.' Cakka menerima surat itu dan membukanya lalu membacanya.


Dear, Cakka…


Aku masih tak yakin jika surat ini sampai di tanganmu. Aku sudah begitu lelah. Sudah begitu lama aku memendam semua ini hingga aku berhasil menutup rapat dan tak ada orang yang tau selain aku dan tuhan.


Perasaan yang sangat menyiksa hidupku. Mungkin memang aku berharap terlalu tinggi dengan kondisiku yang seperti ini. Hanya 2 kata yang aku pendam selama ini dan ingin aku ucapkan untuk terakhir kali 'AKU MENCINTAIMU' Aku tak berharap kau membalas cintaku ini. Aku sudah lega jika kata-kata itu sudah tertuliskan saat aku tak mampu mengucapkannya. Sudah tak ada beban lagi yang ada di hidupku tak ada rahasia lagi antara aku dan kamu.


Untuk terakhir kalinya aku ucapkan selamat tinggal. Maafkan aku. Aku sudah tak punya banyak waktu lagi. Terima kasih kau telah menghiasi hidupku selama ini. Terimakasih kau telah mengenalkan cinta padaku walau akhirnya aku tak dapat mmilikimu. Aku hanya mampu berada di sampingmu. Semoga kamu dapat menemukan bintang yang bersinar seterang milikmu. Aku yakin kau pasti menemukannya. Percayalah


Love


Oik Safena

__ADS_1


Cakka menutup kertas itu dan kembali memandang batu nisan Oik dan mengelusnya lembut.


'Aku sudah menemukan bintang itu dan ternyata bintang itu selalu di sampingku dan menemaniku. That star is you, Oik'


__ADS_2