
Kring.. kring.. telpon Andri berbunyi.
'Maaf yah, Put. Aku ada telpon, saya permisi sebentar.' Langkah Andri menjauh dari aku dan ayah.
'Iya bu, Andri lagi di rumah Putri bu, iya Andri sebentar lagi pulang, ibu jangan kemana-mana, entar Andri yang ngantar ibu.' Andri memang anak yang sopan dan menurut kepada orangtuanya.
Ayah Andri jarang berada di rumah, dia sangat sibuk dengan bisnisnya di luar kota. Sehingga dia tidak punya waktu banyak kepada keluarganya. Ibu Andri sudah berumur separuh baya sama seperti ayahku. Ibu Andri ingin pergi belanja ke supermarket. Persediaaan bahan makanan dan sayuran sudah habis.
'Hmm ayah aku pamit pulang dulu ya, ibu mau belanja jadi saya harus mengantarnya.' Ucap Andri sopan.
'Iya nak Andri, hati-hati ya.' Jawab ayahku.
Andri datang dan menghampiriku 'Maaf aku Cuma bisa sebantar, tapi kalau ada waktu aku pasti lama main di rumah kamu, aku janji!' Ucapanya serius kepadaku.
'Iya Ndri'. Jawabku sambil tersenyum.
Langkahnya semakin mejauh dari pandanganku, dia segera menaiki mobil avanza hitamnya itu. Dan akhirnya pergi.
Aku tak meyangka hal ini akan terjadi pada Andri, kekasihku. Andri kecelakaan mobilnya menabrak pohon besar yang berada di pinggir jalan, sebelumnya dia mengelak dari pengendara motor yang melaju kencang dari arah yang berlawanan. Ibunya meninggal sabuk pengaman yang tidak terkunci kuat membuat kepalanya terbentur keras ke kaca depan mobi. Andri masih koma, sampai pagi ini dia belum sadarkan diri. Aku tidak bekerja hari ini, aku sudah minta izin 3 hari untuk menemani Andri di rumah sakit. Dan untungnya pihak kantor mengizinkannya.
'Andri.. kamu sudah sadar?' Tanyaku kepadanya yang sudah bisa membuka mata walaupun tak bicara, kepadaku.
Dia mengelus rambutku secara perlahan. Dia tersenyum dan mencoba mengucapkan sesuatu.
'Bulan, sejak kapan kamu disini menemaniku?' Tanyanya lirih.
'Itu tak penting sayang, yang penting kamu sembuh. Kamu tenang saja, aku akan selalu disini menjagamu Bintang'. Jawabku seraya menggenggam erat tangannya yang lemah.
Aku tak kuasa melihat keadaanya. Pria yang begitu kuat kini terbaring lemah di kasur, untuk mengucapkan sepatah kata pun rasanya dia tak mampu. Pria yang selalu melindungku, dan menjagaku, yang sepertinya tak kenal lelah itu kini rapuh. Air mataku tak terbendung lagi, ingin rasanya aku berteriak. 'Aku tak ingin melihat dia seperti ini. Aku takut kehilangan dia, aku takut kehilangan orang yang ku cintai.' Batinku berteriak.
Dengan perlahan tangannya yang lemah menyeka air mataku, dia buat senyum di bibirnya yang kering itu. Seraya dia berkata
'Bulanku, sudah tak usah kau fikirkan tentang keadaanku, mungkin ini balasan dari tuhan untukku.' Ucapnya lirih disertai dengan raut muka bersalah.
'Balasan dari tuhan? Apa maksud dari ucapannya itu, aku tak mengerti.' Bisikku dalam hati dengan penuh kebingungan.
'Apa maksudmu sayang? Aku tak mengerti.'
Dia menggenggam tanganku lebih erat, mukanya beralih menghadap jendela. Dahinya mengerut seakan mencoba mengingat sesuatu. Dan akhirnya barulah dia menceritakan maksud dari ucapannya tadi.
'Malam itu, aku sedang mabuk berat. Ayahku sebenarnya di luar kota bukan karena urusan bisnis. Tapi karena dia menikah dengan wanita lain, dia telah meninggalkan aku dan ibu. Ibu memang sudah tua, mungkin itu alasan kenapa ayah meningglkannya. Saat dalam perjalanan pulang aku merasa mataku remang-remang, aku sudah tak fokus melihat ke jalan. Di depanku ada seorang ibu-ibu tengah mengendarai motor. Aku berusaha mengelak untuk tidak menyenggolnya ataupun menabraknya. Tapi karena efek mabuk itu masih mempengaruhiku, aku tak menyadari bahwa aku telah menyenggol stang motornya. Aku ketakutan, aku telah berbuat kesalahan yang besar. Karena kesalahanku, ibu-ibu itu akhirnya menabrak truk dan dia meninggal. Aku yang tengah ketakutan dan melihat jalanan masih sepi, akhirnya kau kabur dari tempat kejadian itu. Jujur hingga saat ini aku merasa bersalah. Dan ini mungkin adalah karma yang aku dapatkan.' Kata Andri dengan penuh rasa bersalah.
Aku tak tak bisa berkata-kata saat mendengar cerita Andri. Ya, wanita yang dia tabrak itu adalah ibuku sendiri. Dadaku terasa di hujam oleh pisau. Hatiku terluka. Aku tak kuasa aku menagis sejadi jadinya. Wanita yang kusayangi kini telah tiada akibat pengendara avanaza hitam yang gila itu. Sudah lama aku mencari keberadaan pengendara gila itu. Dan akhirnya aku menemukan dia. Dan ternyata dia adalah pria yang aku cintai. Bagaimana mungkin ini terjadi? Sepertinya rasa dendam dan amarahku lebih besar. Aku sangat menyayangi ibuku lebih dari apapun di dunia ini.
__ADS_1
Aku tepis tangan Andri yang coba menggenggam erat tanganku. Andri melihat ke arahku dengan raut muka heran.
'Ada apa sayang?' Tanya Andri Heran.
'Kau tau, siapa wanita yang kau bunuh itu?' Tanyaku marah dengan nada suara ditekan.
Andri kaget melihat cara bicaraku yang lembut kini berubah menjadi kasar, tapi dia berusaha menjawab dengan lembut.
'Tidak, aku tidak kenal wanita itu sayang, emangnya ada apa?' Jawab Andri.
'Wanita itu adalah ibuku!!! Kau, kau, telah membunuh ibuku, kau pembunuh!!' Amarahku meledak, aku menagis sejadi- jadinya. Mulai detik itu aku membencinya. Ya, membenci pria yang kucintai.
'Sayang, dengarkan aku! Aku sungguh tak bermaksud begitu pada ibumu. Saat itu fikirabku sedang kacau.'
'Saat kau menabrakku, kau juga berkata demikian kan? Atau jangan-jangan setelah membunuh ibunya, kau ingin membunuh anaknya?' Tanyaku menyudutkannya.
'Sayang maafkan aku, maafkan aku sayang.' Ucap Andri lirih.
'Aku mau kita putus!'
Andri terdiam, air mata pun keluar dari sudut matanya. Aku melihat sebuah penyesalan di dalam dirinya. Tapi kebencianku terhadap perbuatannya kepada ibuku menguasai diriku. Setelah mengatakan itu, aku pergi meninggalkannya di ruangan itu sendirian. Ruangan itu agak menyudut jadi tidak kedengaran saat kami bertengkar tadi.
Hari ini ibu Andri di makamkan, aku tidak pergi melihat pemakamannya. Aku puas dia telah membuat ibuku meninggal dan akhirnya dia kehilangan ibu juga.
'Put, kenapa matamu sembab begitu?' Tanya Lisa khawatir.
'Lis, kau ingat kematian ibuku kan? Kau ingatkan aku sangat membenci pengendara avanza hitam itu?.' tatapan ku tajam ke arah Lisa.
'Pengendara gila itu adalah Andri Lis, pacarku sendir! Pertama kali aku bertemu dengannya saata itu dia menabrakku persis apa yang dia lakukan kepada ibuku, aku menggap itu hanya kebetulan saja. Tapi teryata itu adalah sebuah petunjuk, aku tak menyadarinya. Hingga tiba Andri menceritakan sesuatu kepadaku. Dan ternyata dia pembunuhnya Lis!' Tangisku kembali pecah, 'Kenapa harus dia yang melakukannya, kenapa Lis?' Tanyaku semabri memeluk Lisa.
'Putri, itu sudah jadi takdir tuhan.'
'Tapi kenapa takdir itu begitu buruk kepadaku, sementara orang lain tidak.'
'Putri, ini cobaan, cobaan untuk kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.' Ucap lisa menenangkanku.
'Cobaan? Kalau begitu semua hidupku adalah cobaan!! Aku benci hidup ini, aku benci!' Aku meronta, aku melepaskan pelukan Lisa. Aku kehilangan arah, aku terpuruk, aku bingung harus bagaimana.
'Lis, aku mau sendiri dulu.' Ucapku bergetar ke arah Lisa.
'Iya Put, aku akan pulang.' Putri segera melangkahkan kakinya menjauhi kamarku.
Setelah makan malam aku menceritakan semuanya kepada ayah. Tapi anehnya ayah tidak marah sedikitpun.
'Putri, anakku..' Seraya mengusap air mataku.
'Iya ayah.' Ucapku sembari tersenyum.
'Ayah mengajarkanmu menjadi pribadi yang pemaaf nak, tak seharusnya kau berbuat demikian terhadap Andri. Semua ini bukan kemauan Andri, bukan kemauan kita, dan bukan kemauan ibumu nak. Tapi ini takdir. Ini kehendak yang maha kuasa. Semuanya sudah di atur nak. Jodoh, kematian, rizki. Itu semua yang maha kuasa sudah mengaturnya dengan rapi. Dan setiap perbuatan baik maupun jelek itu pasti akan ada balasannya nak. Percayalah.'
'Jadi, perbuatan Putri ke Andri salah ya yah.' Tanyaku penuh rasa bersalah.
__ADS_1
'Kamu seharusnya memaafkannya nak, pasti ibu disana tersenyum melihat kau berbuat demikian.' Jawab ayah penuh kehangatan.
'Iya yah, kalau putri sudah siap, Putri akan minta maaf kok sama Andri.' Kataku sembari memeluk ayah.
—
'Putri.. ada tamu nak!' teriak ayah dari bawah.
'Iya yah, sebentar aku lagi nyari kunci motorku.' Berteriak sambil mencari keberadaan kunci motorku di bawah kertas-kertas berserakan. Memang kamarku tak pernah rapi, tapi kalau ada Lisa main ke kamarku pasti dia yang membereskannya. Dia paling tidak tahan melihat yang berantakan.
Kunci motorku akhirnya ketemu di bawah bantal. Lalu segera ku turuni anak tangga menemui tamuku yang sudah datang sepagi ini ke rumah. Langkahku terhenti melihatnya. Dia pria yang sudah dua bulan tak ku temui. Terakhir aku menemui dia saat dia baru terbangun dari komanya 3 hari. Dan saat itu dia terlihat sangat lemah. Tapi, kini dia kembali seperti dulu. Dia kini telah sehat, jauh bedanya saat dia baru bangun dari komanya dua bulan silam.
'Putri Deswita, Bulanku.' Ucapnya di ambang pintu rumahku, seraya terpancar sebuah kerinduan dari suara dan sebutan itu.
'Iya, Bintang hatiku.' Ucapku membalas.
Aku melangkah mendekatinya penuh dengan rasa rindu dan bersalah telah tega meninggalkannya. Andri juga melangkah mendekatiku. Hingga tersisa satu langkah di hadapan kami berdua. Dia menggenggam erat kedua tanganku sama seperti yang ia lakukan di Taman Florist waktu itu. Dan untuk kesekian kalinya rasa cinta itu mulai bersemi kembali saat dia menatapku penuh rindu.
'Putri sayang, maafkan aku atas kejadian itu.' Mukanya memelas.
'Andri, sudah.. Tak usah kau fikirkan lagi kejadian itu, yang berlalu biarlah berlalu. Kini aku sudah mengiklaskannya sayang.' Jawabku tersenyum.
'Terima kasih sayang.' Dia menggenggam tanganku lebih kuat.
'Kembali.' Ku lepaskan tanganku segera ku cubit hidung mancungnya itu dengan manja.
'Ihh Putri!' Pekiknya kepadaku.
Aku tak meyadari ternyata sedari tadi ayah memerhatikan kami berdua. Ah tidak apa. Toh dia juga bahagia melihatku bahagia.
THE END
__ADS_1