
Kategori: Cerpen Romantis
Judul: First Dance
_________________________
“Woopz…”
Aku terjatuh dari tempat tidur karena bunyi alarm mengagetkanku. Aku tahu ini akan jadi awal dari kesialanku saat ku lihat ini sudah menunjukan pukul 8 am. Artinya aku dipastikan terlambat. Aku segera bergegas pergi ke neraka, maksudku sekolahku. Tempat itu memang amat sangat mengerikan. Aku heran, seharusnya sekolah adalah tempat untuk mencari ilmu, tapi di sini, sekolah adalah tempat untuk ajang pamer kekuasaan, ketenaran dan kekayaan. Ajaib!
Benar saja, sekolah ini sepi. Bukan karena libur, tapi memang karena semuanya sudah masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran yang sebenarnya tidak benar-benar mereka ikuti. Bagi siswa kelas atas, masuk kelas hanya sebuah formalitas. Selanjutnya, jika tiba saat kelulusan mereka hanya perlu membayar ribuan dollar dan mendapatkan ijazah dengan nilai yang memuaskan. Dan masalah uang adalah hal yang sepele bagi mereka. Hebat.
Baiklah, ini saatnya aku masuk kelas dengan hati-hati dan tidak mengalihkan perhatian mereka. Sayang sekali ternyata si nenek sihir Nathalie melihatku dan membuat semua mata tertuju padaku.
“Hai..” sapaku seramah mungkin.
Mrs. Brooklyn memandangku tajam. Aku tertunduk dan berkata, “maaf aku terlambat hari ini.”
“Dia semalam mengepel lantai restorannya yang megah, itulah mengapa dia terlambat.” Ejek Nathalie. Semua orang tertawa.
“Hentikan! Karena kau salah satu murid terbaik, kau dimaafkan. Sekarang duduklah.” Mrs. Brooklyn memang tidak sekiller guru yang lain. Aku menyukainya.
Aku tahu semua orang tidak suka jika Mrs. Brooklyn memaafkanku begitu saja. Tapi, siapa yang peduli?
Musik ini. Hentakan ini. Dan irama ini, seakan menyatu dengan tulangku. Tubuhku meliuk-liuk serempak dengan alunan nada dari Mp3 Player yang ku mainkan.
“Keren!!!” Justin memberikanku pujian.
“Terima kasih.” Sahutku seraya mematikan musik dan mengelap keringatku yang bercucuran.
“Hey, kau tahu. Dua bulan lagi ada perlombaan dance di sekolah kita. Kau harus ikut.”
“kau bercanda? ini hanya sekedar hobiku, bukan untuk perlombaan. Aku tidak terlalu hebat untuk mengikuti perlombaan dan lagi pula aku tidak seberani itu.” Aku menolak.
“Evelyn Wild Gibson. Kau harus ikut dalam perlombaan ini. Kau mempunyai gerakan yang hebat dan itu alami.”
Aku terdiam. “baiklah, akan ku pikirkan nanti.” Pertahananku melemah.
“itu baru sahabatku.” Seru Justin.
Setelah membereskan semuanya, aku pergi menuju restoran tempatku bekerja. Selain pelajar, aku juga seorang pelayan. Bukan pelayan yang di restoran megah seperti yang Nathalie bilang, tapi lebih tepatnya sebuah cafe yang lebih seperti sebuah lubang di dinding, tempatnya menyempil di antara restoran berbintang 5 dan distro baju-baju mahal. Pamanku yang notabene pemilik restoran ini hanya ingin membuktikan adanya kesetaraan antara kelas atas dan kelas bawah. Itulah sebabnya dia tidak mau memindahkan restorannya. Lagi pula restoran ini sudah turun temurun selama puluhan tahun.
Aku hanya bekerja setengah hari, untuk hari jumat dan sabtu aku harus menguras tenagaku karena aku bekerja satu hari penuh dan aku libur di hari minggu. Padahal itu hari yang paling ramai di restoran. Kata paman, aku remaja yang baru berumur 16 tahun dan aku butuh waktu untuk setidaknya bersenang-senang dengan satu-satunya sahabatku Justin Dylan Parker. Pamanku adalah paman terbaik di dunia.
Terkadang Justin membantuku di restoran tanpa imbalan sepeserpun. Kami bersahabat sejak SMP, itu sebabnya tidak ada rasa canggung di antara kami. Justin benar-benar sahabat terbaik, selalu ada saat aku butuh, selalu memberikan pundaknya untukku menangis, dan tentu saja ada saat aku senang.
Lucas Mc curtney. Dialah pria idamanku. Atlet basket, tinggi, dan memiliki pahatan wajah yang sempurna. Aku menyukainya sejak SMP. Aku tergila-gila padanya. Asal tahu saja, salah satu alasanku mau bekerja di restoran paman, karena Lucas selalu datang kemari dan setiap ada kesempatan aku selalu melayaninya. Sayangnya dia selalu lupa namaku setiap bertemu, tapi setidaknya dia mengenalku dan dia tahu kalau aku satu kelas dengannya. Akhir-akhir ini aku sering menemukan sekuntum bunga mawar di dalam lokerku dan terdapat pesan di sana yang menunjukan di mana lokasi si pengirim bunga misterius itu. Aku tidak percaya memiliki penggemar rahasia.
Lucas. Anehnya dia selalu ada di lokasi tepat dimana si pengirim misterius tuliskan. Contohnya saja, kemarin ia menuliskan bahwa ia akan ada di restoran pamanku pada pukul 9 Am. Untungnya, Justin menawarkan diri untuk membantuku di restoran sehingga aku bisa lebih bersiaga kalau-kalau penggemar rahasiaku datang. Benar saja, Lucas datang bersama teman-temannya, walaupun kedatangangannya terlambat 2 jam, setidaknya ini membuatku senang.
Hari ini penggemar rahasiaku akan berada di kantin pukul 1 pm. Itu adalah jam makan siangku dengan Justin, jadi aku sama sekali tidak keberatan untuk ke sana bersama Justin. Kulihat ada gerombolan Lucas dan teman-temannya yang baru datang, juga Nathalie yang selalu menempel padanya layaknya parasit. Aku melongok arloji di tanganku. Tepat pukul 1 pm. Lucas tersenyum padaku dan aku membalasnya. Sepertinya mimpiku bersanding dengan Lucas akan segera terwujud. Keren!
__ADS_1
Entah sudah berapa kali aku menceritakan pada Justin tentang penggemar rahasiaku dan segala kecocokan yang mengarah pada Lucas. Tapi sepertinya kali ini Justin mulai bosan mendengar ocehanku lantas mengalihkan pembicaraan.
“Eve, perlombaan akan diadakan 3 minggu lagi. Tapi tenang saja, aku termasuk panitia dan aku sudah mendapatkan nomor untukmu.” Sahut Justin sambil mengunyah sandwichnya dan mengedipkan satu matanya.
“Apa? kenapa kau baru bilang sekarang?” Desisku.
“kukira kau tahu, tenanglah 3 minggu waktu yang cukup untukmu belatih. Bahkan tanpa berlatih pun aku yakin kau akan memenangkannya.” Ujarnya memberi semangat.
“Tidak Justin, aku tidak sehebat itu, aku tetap harus berlatih.” Aku menggerutu kesal.
“Kalau begitu betlatihlah, aku akan menemanimu kapanpun kau mau,” katanya dan aku mengangguk senang.
Satu minggu berlalu, tapi tak ada lagi bunga mawar di lokerku. Ini membuatku sedih dan kecewa. Jujur saja, penggemar rahasiaku adalah salah satu motivasiku untuk mengikuti perlombaan.
Perlombaan dimulai. Suasana di sekolah sangat ramai. Banyak pria-pria tampan yang datang dan kurasa seluruh isi sekolah juga datang untuk menyaksikan perlombaan ini. Aku mendapat nomor 17 dan kontestan ke-10 sedang tampil saat ini, artinya tinggal 6 kontestan lagi sampai aku tampil. Dan itu isyaratku untuk mengganti sneakers-ku yang ada di loker. Betapa kagetnya aku saat ku lihat sepatu baruku rusak berat. Aku sangat panik sampai akhirnya aku menghubungi Justin.
“Justin”. Aku tidak bisa berkata apa-apa dan hampir menangis.
“hey, apa yang terjadi?” terdengar suara panik Justin di ujung sana.
Suaraku bergetar. “Sepatuku. Ada yang merusak sepatuku.” Tangisanku pecah.
“Tak apa, beberapa hari yang lalu aku membelikan sneakers untukmu tapi belum sempat ku berikan. Sekarang hapus air matamu dan cepat ambillah di lokerku.”
Justin, kau yang terbaik. Aku segera menutup sambungan kami dan bergegas meneju loker sahabatku. Sepertinya Justin melupakan sesuatu, ada sebuah rahasia dalam lokernya. Seketika aku terkejut melihat begitu banyak begitu banyak mawar di dalam loker Justin. Terdapat buku kecil di samping sneakers. Aku membacanya dengan cermat, berusaha mencerna apa yang tertulis di buku tersebut dan mengingat-ingat kejadian akhir-akhir ini. Rahasia besar pun terkuak.
Aku sangat puas dengan penampilanku tadi. Tidak ada yang bisa menghentikanku saat nadiku bersentuhan dengan musik. Nampaknya para penonton juga menyukai penampilanku. Terbukti dengan riuhnya tepuk tangan dan standing applause dari para juri. Segera aku mengganti kostum agar terlihat manis dan elegan. Acara selanjutnya adalah pesta dansa. Jujur saja ini adalah pesta dansa pertamaku dan bagi siapa saja yang memenangkan perlombaan akan dipersilahkan berdansa di tempat yang sudah dipersiapkan secara spesial bersama pasangannya dan menjadi raja dan ratu dansa.
“hai Justin.” Sapaku.
“Hai..” Justin memelukku dan aku membalasnya. “penampilanmu sangat mengagumkan, aku semakin yakin kau akan memenangkannya.” Lanjutnya.
“Terima kasih. Kurasa aku hanya melakukan yang terbaik.” Aku tersenyum.
“kalau boleh aku tahu, siapa yang akan menjadi pasanganmu saat dansa nanti?” Justin bertanya.
“Entahlah, mungkin penggemar rahasiaku.” Kami berdua tertawa tapi sedetik kemudian terlihat raut muram di wajah Justin.
Seseorang di belakang panggung memanggil Justin.
“Baiklah, kurasa aku harus pergi sekarang. Aku minta maaf karena aku tidak bisa menemanimu.”
“Tak apa, pergilah.”
Justin memelukku sejenak lantas pergi menuju sumber suara.
Tibalah saat pengumuman. Aku benar-benar tak menyangka. Justin benar, akulah pemenangnya. Dengan rasa tak percaya dan sedikit gemetar, aku naik ke atas panggung untuk menerima Trophy dan mengenakan segala aksesoris ratu dansa.
“Sekarang waktunya untuk memanggil rajamu untuk menemanimu berdansa. Kira-kira siapa pria yang beruntung itu?” MC mengeraskan suaranya agar suasana bertambah meriah lantas memberikan Mic-nya padaku.
“Aku tahu, aku tidak pantas mendapatkan ini semua, maksudku trophy ini, mahkota dan tepuk tangan kalian. Walaupun begitu, aku sangat berterima kasih. Ini dansa pertamaku dan karena ini adalah hari yang spesial, aku ingin berdansa dengan orang yang spesial juga.”
__ADS_1
Aku mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan dan riuh penonton semakin keras, tapi kulihat Justin keluar ruangan yang sontak membuatku turun dan mengejarnya. Tiba-tiba seseorang menghentikan langkahku.
“Lucas!” Seruku.
“Hai eve, kau mencariku?”
“Tidak, maaf aku harus menemui seseorang.”
“Ayolah eve, kau menyukaiku sejak SMP bukan?” kata Lucas lantas mencium pungging tanganku
“Mungkin, tapi sekarang tidak lagi.” Kulepaskan tangannya.
“apa? Maksudku kenapa?”
Aku memicingkan mata, “kau bahkan selama ini tidak mengingat namaku Lucas, sekarang aku harus pergi.” Kataku dan segera pergi meninggalkannya. Kudengar dia mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapah, tapi aku terus melangkah pergi.
Beberapa menit kemudian aku sudah berada di atap gedung, memandang sosok yang ku kenal sedang berbaring melihat bintang dan menggunakan kedua tangannya sebagai bantalan kepalanya. Aku mengikutinya menatap langit.
“Bintang yang indah.”
Justin terbangun dan berdiri di hadapanku. Terkejut melihatku berdiri bersamanya.
“Eve, bukankah seharusnya kau berdansa dengan pria idamanmu? Kenapa kau di sini?”
“well, pria idamanku ada di sini sekarang. Bersamaku.”
Mulutnya ternganga menginginkan penjelasan yang lebih.
“Baiklah Justin, aku minta maaf karena aku tidak menyadarinya selama ini, maksudku di kantin, ruang loker, restoran, perpus.” Aku terdiam sejenak. “Kaulah penggemar rahasiaku. Kaulah pria idamanku.” Lanjutku.
Justin memelukku erat.
“Tak apa.” Justin melepaskan pelukannya. “Tapi, bagaimana kau tahu?”
Aku tertawa geli. “Well, kau itu lelaki yang bodoh.” Justin memicingkan mata. “lokermu”. Lanjutku.
Tercetak huruf A di mulutnya dan meletakkan tangan kanannya di dahinya seakan mengutuk kecerobohannya yang membahagiakan.
“Baiklah, ayo ke bawah dan bergabung dengan yang lain.” Justin menarik tanganku lembut.
“tidak, aku ingin tetap di sini. Merayakan kebahagiaan. Melihat bintang-bintang dan berdansa denganmu.”
Justin tersenyum dan menyentuh pipiku lembut.
“Baiklah, lakukan apapun yang kau mau”
“Tunggu.” Aku mengeluarkan sesuatu dari dompet dan kutekan tombol Play di sana.
Mulailah terdengar alunan musik yang lembut. Sempurna. Kami pun mulai berdansa maju mundur sepanjang malam. Cinta yang sempurna bisa membuatmu merasa sempurna, tapi cinta sejati akan membuatmu benar-benar sempurna.
The End
__ADS_1