
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Judul: Aku Pacar Kakakmu
Nm
_________________________
Aku memilih setia
'Den, kamu jadikan temenin aku ke Medan Mall?'
'Jam berapa, sayang?'
'Kamu lupa?, Sekarang dong.' Vina menjawab dengan penuh harap.
'Sekarang, aku nggak bisa. Aku lagi di Pematang Siantar, mungkin aku nyampe Medan malam.'
'Di Siantar? Kenapa nggak kasih tau aku dulu?' Vina semakin kesal ketika mendengar alasan dari sang kekasih.
'Abis mana mungkin aku nelfon kamu tengah malam. Atau gini aja, sebagai gantinya, aku nyuruh adikku buat ngegantiin posisi aku?' Deni menawarkan adiknya Firman untuk menggantikan posisinya saat ini.
'Seenak itu kau bilangnya? Ah, sudahlah terserah mu saja.' Ia menutup telfon, dan langsung bergegas menuju kamar mandi.
Akhir-akhir ini, memang hubungan Vina dan Deni kerap dirundung masalah. Ditambah lagi seringnya Deni menerima tugas di luar kota, dan pergi tanpa sepengetahuan Vina, kerap membuatnya mengelus dada.
Padahal janji untuk menemaninya ini sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Dan ia sudah sengaja berdandan semanis mungkin berharap agar sang pujaan hatinya menjemputnya dan memberikannya kesan, serta pujian yang kelak membuatnya larut ke dalam pujian tersebut.
Handphone milik Vina berdering. Yaps, seperti dugaannya, Firman akan menghubunginya.
'Halo, kak Vina?' Suara khas Firman terdengar, memang ini bukanlah kali pertama ia diantar ataupun dijemput oleh Firman, beberapa hari yang lalu Firman pernah menjemputnya dari Bandara Polonia ketika ia baru kembali dari Padang, tetapi tentu saja ini sudah berada dalam sepengetahuan Deni, karena saat itu Deni berada dalam kondisi yang kurang fit untuk berkendara.
'Halo?' Ia mengulang kalimatnya.
'Eh, maaf-maaf aku tadi melamun. Iya Fir?'
'Kakak katanya minta diantar ke Medan Mall? Nanti Firman jemput ke rumah kakak jam berapa?'
'Nggak usah manggil kakak deh, kan buktinya usia kita sebaya, Sekarang bisa nggak jemputnya?'
'Tapi kan, kakak pacaran sama kakak ku.'
'Apa gara-gara itu harus…?'
Vina hanya diam, tak melanjutkan kalimat tersebut.
'Harus apa kak?'
'Oh, nggak jadi, kamu jemput aku sekarang ya, ntar harinya keburu panas lagi.' Vina berusaha mengalihkan pembicaraan.
'Oke kak.'
Beberapa menit berselang, suara klakson mobil milik Firman terdengar dari luar. Dengan make-up seadanya, Vina keluar dari rumahnya.
'Wah, kayaknya Kak Vina makin cantik aja deh.'
__ADS_1
'Benarkah, oke kita sekarang ke Medan Mall ya?' Ia menolehkan wajahnya ke arah Firman
Firman hanya membalasnya dengan senyuman, dan kemudian memacu mobilnya.
'Kak, mau beli apa?'
'Hmm, apa yah, kamu temenin aku beli gaun. Sekalian bantu milih, bisa?'
Ketika sampai, mereka pun langsung berburu menuju salah satu stand yang menjual pakaian.
'Menurutmu, ini bagus nggak?'
'Hmm, lumayan sih kak, kalau ini gimana?' Firman membantunya memilih pakaian yang menurutnya menarik.
'Haa, itu boleh juga. Jadi kita beli yang mana ya?'
'Terserah kakak deh, kan yang make kakak.'
'Aku ada ide, gimana kalau dua-duanya?'
'Boleh juga.' Firman mengangguk
'Eh, abis ini kamu bisa milihin baju buat kakakmu kan?, Hari Rabu nanti kan ultahnya dia.'
Firman menoleh ke arah Vina, 'Kakak aja deh yang milihin.'
'Lah, emang kamu nggak mau bantu?'
'Bukannya gitu kak, kan kalau kakak yang milih, kayak terkesan romantis gimana gitu.' Ujarnya sambil mencari-cari alasan.
'Tapi tadi kakak bilangnya mau beli keduanya.' Firman mendengus kesal
'Hehe, kamu kalau marah mirip banget dengan Deni.' Ia mencubit pipi Firman, dan memperlakukannya seperti anak kecil.
'Terserah. Dimana kak, tempat pakaian cowok?'
'Kita tanya ke mbak ini aja deh.' Ia menghampiri seorang karyawati wanita berseragam rapi di dekatnya.
'Mbak, kalau boleh tau, pakaian pria ada dimana ya?'
'Oh, di sebelah sana mbak.' Jawab wanita tersebut ramah.
'Nah udah dengar kan? Yuk kita kesana.'
'Baiklah, habis ini traktir makan disana yah.' Ia menunjuk salah satu restoran ayam goreng cepat saji.
Vina tersenyum, dan melanjutkan langkahnya ke arah yang disebutkan oleh wanita tadi.
'Wah, banyak banget pakaian bagus disini.'
'Kalo nggak bagus, nggak mungkin dong mereka jual.' Kelakar Firman
'Haha, bisa aja kamu.' Ia meninggalkan Firman dan beralih menuju kemeja batik berwarna ungu.
'Kalau ini bagus nggak?' Vina menunjukkan kemeja tersebut
__ADS_1
'Lebih mirip untuk orang tua deh kayaknya, apa memang mau milih batik?'
Vina mengangguk, 'Jadi gimana?'
'Ini aja deh, gimana?' Firman menunjukkan sebuah batik yang sebenarnya warnanya kurang mencolok.
'Ih, jelek banget, mending pakaian yang ku pilih tadi.'
'Oh, ya udah terserah.'
Vina pun keluar dari tempat tersebut dengan senyum puas, 'Hei, Fir. Kamu sama si Deni beda banget tau.'
'Beda apanya?' Firman menolehkan wajahnya ke arah Vina.
'Iya beda, si Deni itu ya, paling malas banget kalau disuruh minta pendapatnya tentang pakaian yang ku pilih. Dia itu nggak suka banget keliatannya.'
'Haha.' Firman hanya tertawa.
'Lucunya dimana, kok kamu malah ketawa?'
'Hah? Enggak kenapa-kenapa kok. Aku cuma heran aja, nggak kebayang gitu, kakak sampe sekesal itu sama Deni.'
'Udah ahh, capek ceplas ceplos nya, mending kita makan.'
Mereka pun duduk berdua, menunggu pesanan mereka namun keheningan begitu terasa, hingga suatu ketika Firman berusaha untuk memecah suasana.
'Kak, aku boleh ngomong?'
'Tentu saja, apa aku pernah ngelarang mu untuk cakap?' Vina tersenyum
'Bukan gitu kak, sebenarnya aku itu..?'
'Ya, ya kenapa?'
'Aku itu suka sama kakak.' Raut muka Firman berubah seketika.
'Suka?'
Firman mengangguk. 'Benar kak.'
'Sejak kapan kamu suka aku?'
'Awal aku melihat kakak, rasanya aku tuh iri sama Deni. Tapi kak, aku tau kok kakak itu pacarnya dia, itu makanya aku nggak punya niat untuk memiliki kakak.' Ia menjelaskan sambil menggenggam tangan Vina.
Vina hanya tersenyum, 'Kamu tau kan, aku nggak lama lagi bertunangan sama dia? Kan aku nggak mungkin membagi perasaanku ini, maaf Fir, aku udah terlanjur mencintai kakakmu, toh diluar sana masih banyak cewek yang lebih baik dari aku.'
'Aku tau itu kak.' Firman hanya bisa menundukkan kepalanya.
'Satu lagi, perasaan suka itu bebas kita ungkapkan ke siapa saja, kan umur kita sebaya, sama-sama 25 tahun.'
'Tapi kak, aku minta maaf ya.'
'Nggak apa kok, mungkin selama ini akunya aja yang berlebihan ke kamu atau jangan-jangan akunya aja yang terlalu cantik yah? Haha.' Vina berusaha untuk tidak memperkeruh suasana.
'Dasar, nggak lucu tau kak.' Dan mereka pun menyantap hidangan yang telah disediakan.
__ADS_1