
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Judul: Too Late To Say Love
_________________________
Matanya lurus ke depan, menatapi layar monitor di depannya. Sedari kemarin sore dia tak henti-hentinya untuk memainkan game online di warnet yang tak jauh dari rumahnya. Kecemasan ibunya di rumah pun tak menghalaunya untuk memainkan game itu, seakan game itu adalah racun yang membuahkan kesenangan baginya padahal itu adalah racun yang membuatnya seakan tersihir dan mabuk akan keacuhan yang mulai merayapi dirinya akan sikap pedulinya terhadap sekitar dan dirinya. Sering kali ibunya berujar, 'Kapan kamu berhenti dan mulai peduli dengan masa depan kamu?' Ucapan ibunya itu hanyalah seonggok untaian kata-kata yang tak membuatnya berhenti untuk meninggalkan GAME. Ya, kata-kata ibunya itu hanya di jadikan file di memori otaknya dan dia simpan entah kapan akan dia buka, bahkan mungkin akan terhapus dengan sendirinya seiring dengan empunya yang mempunyai isi dari otak itu tak mempedulikannya. Tragis bukan?! Menyedihkan, bahkan suara ledakan maupun gempa yang terjadi tak akan menyurutkannya untuk berhenti memainkan game itu. Ya, itulah dia. Sosok lelaki yang seakan tak peduli dengan apapun di dunia. Maksudku bisa di bilang pedulinya hanya pada sesuatu hal yang membuat dirinya terenyuk dan bahkan mungkin pedulinya itu hanya sesaat. Seperti pada sesosok gadis yang teramat mengaguminya. Entah apa sebenarnya yang di heningkan gadis itu sehingga dia hanya terpatut pada sosok lelaki macam dia yang sebenarnya hanya ada sejumput bahkan hanya sebulir rasa pedulinya pada sosok gadis ini.
Pagi menjelang, sinar matahari yang hangat mulai menuntaskan tugasnya menyinari bumi ini. Memberikan milyaran cahayanya untuk di bagikan sama rata bagi setiap nyawa yang bernyawa, setiap makhluk yang di cipta dan makhluk yang mempunyai hidup. Senandung alam mulai mengalunkan symphoni-symphoni alami yang menggetarkan dedaunan yang di basahi embun sesudah subuh. Bahkan burung-burung pun ikut menyandungkan kicauan-kicauan bagaikan gemericik air terjun yang kecil yang tak terhembus udara bahkan tak bernyawa. Polusi yang seakan pasukan monster pun siap menuntaskan tugasnya untuk memburu kecerahan, kerimbunan bahkan lagu alam hingga tak menyisakan untuk matahari besok yang terus membunuh setiap alaminya alam. Sepertinya alam hanya di takdirkan untuk di bunuh oleh polusi dan mempunyai hidup hanya untuk pagi dan matahari. Namun pesona alam pagi tak akan terganti oleh apapun yang berharga bahkan teramahal yang manusia cipta. Karena keindahan pagi adalah ciptaan yang hakiki yang hanya Tuhan lah pelukisnya dan kejadian alamlah yang membunuh karya-Nya.
Sosok laki-laki itu bangkit dari tidurnya, matanya seperti bulan sabit yang enggan penuh nampakan sosoknya. Tubuhnya gontai setelah semalaman terjaga demi menunaikan tugas yang sekan merupakan keharusan baginya untuk memainkan game online yang seakan menjadi sandaran hidupnya. Dia menguap lebar seperi kuda nil yang terjaga semalam yang menjaga anak-anaknya dari serangan sang macan. Pengumunan kelulusan Sekolah kemarin pun tak menjadikan hidupnya bahagia karena hanya game onlinelah yang membuatnya bahagia, sungguh tak berpengaruh sedikitpun! Di singkapnya selimut yang setengah malam ini melingkupi tubuhnya dan beranjak dengan tubuh gontainya.
Sore ini dia ada janji dengan teman lamanya, seorang gadis yang teramat memujanya dua tahun belakangan ini. Gadis itu mengirimkan inbox di facebook, berujar bahwa ia ingin bertemu dengan lelaki itu dan mengungkapkan segalanya yang ia tak bisa tulis dengan rentetan huruf qwerty. Lelaki itu pun menyetujuinya dengan pertemuan mereka di Taman Kota di persimpangan kompleks.
Entah apa yang membuat sang gadis itu begitu mengagumi sosok lelaki itu. Seakan kedua matanya di butakan oleh bayangan kelabu yang menyerangnya tanpa ampun dan membuat mata hatinya buta dan menyukai sosok lelaki itu. Mungkin seperti itu. Atau mungkin perasaannya memang tulus setulus embun pagi dan besar sebesar jagat raya, yang membuatnya seakan tak memilih kesempurnaan dari lelaki itu. Seolah waktu lah yang membuatnya terjerembab ke dalam lorong rasa suka yang membuatnya sulit untuk menatap cahaya matahari dan membuatnya tersesat di lorong itu tanpa ada seorang pun yang dapat menolongnya. Dia menyukai namun dengan rasa sakit yang selalu menghantui diri sang gadis dua tahun ini. Bukankah menahan sesuatu itu tidak baik? dan jika kau telah menahannya terlalu lama mungkin akan frustasi atau mungkin meledak dan menjadi gila. Mungkin inilah kesempatan sang gadis untuk mengungkapkan segalanya agar gunung di dalam hatinya menjadi bukit yang tak landai dengan hiasan kupu-kupu berwarna berterbangan dengan tujuh warna pelanginya. Gunung dengan lahar yang membakar, bukankah itu berbahaya?!!
Dari pagi hingga sore menjelang di isinya dengan bermain game online di warnet langganannya, namun tak tahu mengapa seolah ada seonggok bulatan berbulu dalam tenggorokannya hingga dia tak mampu mengekspresikan suasana hatinya. Seolah hari ini adalah hari bedebah buatnya, seakan berjuta meteor hitam menghantamya dan dia tak mampu untuk berpijak dan merasakan artinya hidup. Seakan tak ada gairah walaupun permainan yang entah sejak kapan menjadikan surga dalam hidupnya seakan sekarang menjadi racun dalam hidupnya yang mestinya di buang dan jangan di biarkan hidup, kalau perlu di bunuh saja hingga sampai ke akar-akarnya. Segera bayangan berkelabat di otaknya tentang sosok gadis itu dan dia pun mulai beranjak dari warnet itu meninggalkan permainan game online itu yang seakan tak rela di tinggalkannya dan berlalu. Berharap setelah bertemu gadis itu dan mendengarkan yang ingin di sampaikannya dia tak akan bunuh diri karena frustasi dengan kehidupannya yang monoton. Walaupun harinya begitu busuk seperti telur terlalu lama dalam jerami namun dia berharap akan adanya sinar yang akan membuat kebusukan itu menjadi sesuatu yang istimewa. Begitulah harapannya yang mungkin kecil namun besar baginya.
Senja sore yang jingga nampakkan sinarnya yang redup, matahari seakan enggan nampakkan sinarnya yang terang. Namun suasana seperti ini bukankah menghangatkan? Sinar jingganya memancar di segala penjuru Taman Kota Kompleks, menembus dedaunan hijau yang rindang di pohon mahoni yang besar itu. Sinar jingganya seakan pencakar langit yang menyebar warna jingganya di seluruh alam. Redup dan menghangatkan. Esensi keindahannya hanya bisa di nikmati di kala sore menjelang layaknya seperti embun pagi yang hanya ada di kala sesudah subuh. Kejadian alam adalah sesuatu yang mahal yang tercipta dan mengalun sendiri sesuai kehendak penciptanya.
Lelaki itu menunggu sang gadis sambil duduk di bangku taman dan sesekali melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 5 tepat. Pandangannya lurus ke depan ke arah jalanan setapak yang menjorok ke pintu masuk taman itu. Tak berapa lama menunggu sesosok gadis memasuki pintu gerbang taman itu. Dia mengenakan blus bunga-bunga kuning longgarnya dengan celana pendek di atas lutut serta tas slempangan merah dan sepatu kets putihnya melengkapi penampilannya sore kala itu bertemu sang lelaki.
Di wajah keduanya tak terbesit senyuman yang menghiasi, padahal keduanya sudah setahun belakangan ini tidak bertemu. Tepat saat lelaki itu menghempaskan perasaan sang gadis hingga dia terpuruk dengan ucapan lelaki itu yang menyakitkan hatinya, namun dengan mengubur segala kesakitan itu dia mencoba untuk tersenyum walaupun getir. Menahan gejolak rasa sakit hati yang teramat dalam dua tahun belakangan ini semenjak kelulusan Sekolah mereka. Senja sore dengan cahaya jingga temaramnya seakan mengikuti langkah di kedua kaki sang gadis yang berjalan pelan menunduk tapi juga sesekali melirik mencoba menatap sosok lelaki di seberangnya yang duduk di bangku hijau Taman. Sesaat hatinya berbisik, 'Ku ingin menghentikan langkah ini, memutar tubuhku, beranjak ke kamarku yang hangat dan bergumul di dalam selimutku yang lembut'. Namun hati kecilnya seakan mencegahnya untuk melakukan itu. Dia hanya terus berjalan lurus di jalan setapak Taman tak ada ancang-ancang untuk memutar tubuhnya menuju rumahnya seperti hendak berlindung dari monster yang ingin memangsangnya.
Lelaki itu berdiri dan memandang gadis yang di hadapannya yang sang gadis hanya menunduk, entah karena malu atau mencari sesuatu di bawah sana. Namun dengan mengingat perkataan terkahir lelaki itu yang menyakitkan hatinya, gadis itu menarik nafas panjang dan menatap lelaki itu dengan pandangan lain dari pandangannya beberapa menit yang lalu. Pandangan penuh rasa kebencian dan serasa ingin mencabik sosok di hadapannya.
__ADS_1
'Terimakasih untuk waktu luangmu, aku sungguh berterimaksih untuk itu.' ucap sang gadis sembari duduk di sebelah bangku Taman yang di duduki lelaki itu
Lelaki itu mendengus pelan dan beranjak duduk kembali, sejujurnya tindakannya yang berdiri untuk menyambut kedatangan sang gadis mencoba untuk bersikap ramah kepada gadis itu setelah dia sedikit merenungkan sikapnya yang buruk terhadap sang gadis sebelumnya. Buruk bukan? Menyadari kesalahan di saat gadis itu telah benar-benar muak kepadanya dan undangannya sebenarnya hanya ingin menungkapkan semua kebenaran yang lelaki itu belum tahu, kebenaran yang gadis itu sembunyikan di balik kesakitan hatinya. Dan bukan untuk mengais-ngais rasa kasih sayang kepada lelaki itu yang seperti seringainya di tengah malam dan muncul di setiap mimpi buruknya. Padahal lelaki itu sudah sedikit membuka hatinya untuk sang gadis, ya setidaknya dengan merenungkan sikapnya kepada sang gadis di malam terakhir mereka bertemu. Sikap dan perkataannya yang seharusnya tak di lontarkan kepada seorang gadis yang sebenarnya gadis itu bukan pembunuh, penyihir, pendusta, atau alkemis sekalipun. Namun bukankah dua tahun waktu yang lama untuk merenungi semuanya dan menyadari semua kesalahan? Terlalu banyak detik, menit, jam, hari, minggu bahkan bulan yang terbuang-buang untuk menyalahi diri sendiri. Terlambatkah bagi lelaki itu?
'Ya tidak apa dan kau tidak perlu untuk berterimakasih..' jawabnya dengan nada suara gugupnya
'Bukankah aku menjadi gadis yang tidak tahu diri jika tak berterimakasih padamu…' balasnya terhenti seakan tenggorokannya tercekat dengan segumpal bulu kucing yang menjijikan
'Karena aku tahu waktumu tak banyak untuk gadis tak penting seperti aku.' lanjutnya dengan suara bergetar
Sekali lagi lelaki itu merenungi ucapan sang gadis dengan hanya diam terpaku menatap tanah seakan ada barang berharga di sana. Menyadari begitu jahatnya dia selama ini, begitu bodoh dirinya menyiakan gadis sebaik dia, menyedihkan bukan?
'Berhentilah berbicara seperti itu, yang penting aku sudah di sini. Apa yang ingin kau sampaikan?' ucap lelaki itu dengan menatap sang gadis dari sudut wajahnya yang merenung, mungkin sedih atau mungkin bingung harus berucap apa di hadapan lelaki yang telah menohok relung hatinya yang rapuh seperti genangan air
Dengan menarik nafas pendek gadis itu mulai berbicara, 'Maaf soal surat itu, aku memang pengecut sejati yang tak tahu diri menulis kalimat itu kepadamu.'
'Maafkan aku..' lanjutnya dengan suara lirihnya, begitu lirihnya seakan suaranya di makan angin senja sore kala itu
Sejenak suasana menjadi sunyi, seakan dunia ini tak berpenghuni. Yang nampak dunia namun tak ada kehidupan, kosong. Seakan suara hati mereka berteriak sesuatu yang ingin agar dunia tahu maksud dari dua insan ini.
'Ku mohon cacilah aku..' kalimatnya terputus seiring dengan bulir air yang keluar dari sudut matanya yang sayu
'Agar aku dapat melupakanmu, aku hanya ingin hidup tenang tanpa ada bayang-bayangmu di setiap mimpi dan langkahku. Aku lelah menopang rasa sakit ini, aku lelah cinta ku bertepuk sebelah tangan. Aku lelah dengan semua mimpi burukku, aku lelah dengan ini semua yang berkaitan denganmu, jadi ku mohon maki lah aku sesukamu, agar aku dapat hapus sosok mu dalam memori otakku. Aku mohon…' ucapnya panjang lebar dengan terisak sembari menolehkan wajahnya pada lelaki itu yang dia masih menundukkan kepalanya tak bergerak sedikit pun bagaikan robot bahkan berkedip pun tidak
Sang gadis menangis terisak dengan lirihnya, mungkin rasa cintanya kepada lelaki itu begitu besar sehingga dia tak mampu berpaling dengan yang lain. Yang bahkan dia bisa dapat yang lebih baik dari lelaki itu, bukankah stok lelaki di dunia ini masih banyak? Dan Tuhan Maha Adil bukan, untuk menciptakan jodoh bagi umatnya. Namun begitu kuatnya perasaan gadis itu sehingga dia nampak seperti pengemis cinta yang menjijikan tak tahu diri mengharapkan perasaannya terbalas oleh lelaki macam dia. Namun sekarang ini berbeda, mungkin Tuhan telah mengetuk pintu hatinya agar terbuka dengan lelaki lain yang pantas untuknya, yang bisa menghargainya dan tidak memperlakukannya seperti onggokan yang tak berguna dan memperlakukannya seperti putri yang perlu di lindungi dan di cintai dengan setulus hati. Ketulusan hati yang murni yang di kirim lewat rasa bukan empati.
__ADS_1
'Aku tak bisa…' lelaki itu menatap sang gadis dengan tatapan sendunya
'Karena sekarang aku menyadari begitu bodohnya aku melukaimu, aku menyayangimu.' ucap lelaki itu dengan mantap
Seakan seperti ada meteor jatuh menimpa tubuh gadis itu atau bunga-bunga musim semi yang bertebaran menaungi tubuhnya setelah mendengar jawaban dari lelaki itu. Jawaban yang seakan khayalan yang telah di kuburnya dalam-dalam dan tak akan dia gali. Dan terlambat sudah untuk mengucapkan kalimat itu karena gadis itu telah mencintai dan di cintai lelaki lain yang mempunyai hati yang tulus setulus matahari menyinari bumi.
'Terlambat!' ujar gadis itu tercekat sambil menatap kosong ke arah lelaki itu
'Bukankah kau tahu bahwa belum ada manusia yang menciptakan mesin waktu?' lanjutnya dengan raut wajah sedihnya dan tak kuasa air mata pun mengalir lagi dari sudut matanya
Pilu rasanya setelah mendengar pernyataan lelaki itu, seakan petir mencekam di senja sore itu. Tak ada penerimaan yang ada hanya penolakan, terlambat sudah!
'Apa maksud mu? Bisakah kau jelaskan pada ku apa maksudmu dengan mesin waktu itu? Kau jangan bergurau!' balas lelaki itu dengan pandangan bingung sambil mengkerutkan dahinya
Gadis itu hanya menunduk pilu, seakan tak ingin menatap lelaki di sampingnya.
'Arya, dia lelaki yang aku cintai dan dia lelaki yang telah membuka mata hatiku untuk terbuka dengan lelaki lain. Aku sungguh menyayanginya…' ucap gadis itu liirh sekali dan air mata pun mulai bergumul di pelupuk matanya
Lelaki itu hanya diam menunduk, seakan beribu panah telah menancap tajam di hatinya. Oh beginikah rasanya sakit hati? Kini dia menyadari begitu perihnya sakit hati itu, dan dia dapat merasakan juga kesakitan hati yang di alami gadis itu selama dua tahun ini terlebih saat dia mencapakan gadis itu hingga gadis baik seperti dia terpuruk dalam kesedihan mendalam dan hidup dengan tanpa ketenangan.
'Maaf. Aku hanya ingin jika kita bertemu lagi, aku mohon janganlah tegur aku acuhkanlah aku. Anggap kita tak saling kenal, anggap semua peristiwa yang kita jalani hanyalah fatamorgana semata bukan kenyataan. Dan anggaplah kau baru saja bangun dari tidurmu dan bermimpi buruk, lalu hapuslah memori mimpi burukmu itu. Bukankah sesuatu yang buruk harus di hapus?' ucap sang gadis dengan senyuman yang di paksakan yang malah dia nampak seperti gadis lugu yang mempunyai seringai seram
'Aku akan melanjutkan hidupku dengan tenang begitu pun kau. Jagalah dirimu dan terimakasih Kenedy…'lanjutnya beranjak dari duduknya dan pergi dengan langkah yang berat seakan dia memikul seribu baja, namun dengan menghela nafas panjang dia berjalan dengan cepat tanpa menoleh sedikit pun kepada lelaki itu. Tragis!
'Oh Tuhan bodohnya aku! Aku tak lebih dari seorang bedebah yang tolol akan semua keputusan yang ku ambil. Pertama ku jatuh cinta pertama juga ku merasa sakit hati begitu perih, oh Tuhan begitu pengecut dan kejamnya aku padanya. Ku mohon jagalah dia karena dia meminta ku untuk tak mengenalnya lagi.' Ucapnya dalam hati sambil memejamkan kedua matanya, dan tak terasa bulir bening air mulai mengalir dari sudut matanya sejalan dengan tetesan air yang turun dari langit menambah kepedihan dan lelehan air matanya yang bercampur dengan air hujan.
__ADS_1
Terngiang di pikirannya dengan ucapan sang gadis, 'Bukankah kau tahu bahwa belum ada manusia yang menciptakan mesin waktu?'
The End