
Kategori: Cerpen Fantasi Fiksi
Judul: Still Heaven At War (Part 2)
_________________________
Tok tok tok mengetuk pintu.
“masuklah.” Jend. Marvin.
Natleyn berdiri dan memberi hormat.
“duduklah kapten.” Kata Jend. Marvin.
“terima kasih, pak” kataku.
“bisakah kau tak memanggilku pak, umurku baru 18 tahun. Jadi panggil saja aku, Marvin.” Kata Jend. Marvin.
“yeah Marvin, aku mengerti. Sebenarnya kenapa kau memanggilku ke ruanganmu.” tanyaku.
“sebenarnya masih ada satu masalah.” katanya.
“masalah apa, Marvin?” tanyaku.
“kewarganegaraan, itu syarat wajib yang harus kau penuhi.” jawabnya.
“maaf, aku tidak bisa berpindah kewarganegaraan. Lagi pula kalian yang membawaku ke tempat ini jadi terserah keputusan kalian tapi aku tak akan menjadi warga negara Amerika Serikat.” Jelas Natleyn dengan lantang.
“aku ingin tahu kenapa kau tak mau menjadi warga negara Amerika?” tanya Jend. Marvin.
“I don’t know, aku hanya tak mau mengkhianati tempat kelahiranku. Aku akan pulang besok, terima kasih telah memperbolehkan aku belajar sedikit hal mengenai militer di sini.” kata Natleyn beranjak meninggalkan ruangan.
“wait Natleyn” menarik tanganku, “sebenarnya Ayahku telah membuat keputusan kalau kau boleh tetap menjadi bagian dari kami dan tetap menjadi warga negara Indonesia. Kau akan dapatkan passport untuk 2 kewarganegaraan.” jelasnya.
“Marvin kau serius.” kataku. bahagia tak sadar memeluk Marvin.
“ya, Natleyn.”
“oh sorry Jenderal, aku terlalu senang dan tak sadar memelukmu.” kataku melepaskan pelukannya.
“it’s okay. No problem. ‘Sebenarnya ada hal yang seharusnya kau tahu, tapi mungkin ini belum saatnya kau tahu yang sesungguhnya’. Natleyn?” Panggil Jend. Marvin.
“ya, Marvin.” jawabku
“ku dengar kau mengalami cidera. Boleh ku lihat punggungmu yang cidera itu? mungkin aku bisa membantumu.” Katanya, menawarkan bantuan.
“tak perlu, ini sudah agak mendingan kok. Aku harus kembali ke ruanganku, senang bisa menjadi partner kerjamu Jenderal.” balas Natleyn ke luar dari ruangan.
“Natleyn memang perempuan hebat, aku rasa sekarang aku sudah mulai menyukainya.” Kata Jend. Marvin dalam hati.
Setibanya di ruanganku, ku lihat Paman John sedang menungguku. Dia memberitahu aku agar sebaiknya beristirahat dan mempelajari apa saja tentang Counter Terrorist yang sekarang merupakan pekerjaanku.
“Paman”
“apa urusanmu dengan jend. Marvin sudah selesai?” tanya John.
“ya, ada apa Paman?” tanyaku lagi.
“sebaiknya kau istirahat, aku juga sudah membawakanmu seorang dokter. Dia sekarang ada di ruang perawatan, sekarang sebaiknya kau ikut aku menemuinya.” Jelas John.
“aku sudah cukup baik Paman.” kataku.
“jangan berbohong, aku tahu keponakanku.” Kata John.
“ya.” Jawabku.
“aku lupa nanti setelah kita cek kesehatanmu pelajarilah semua hal tentang Counter Terrorist karena jika tidak kau hanya akan membuat kekacauan karena berada di bagian Counter Terrorist.” Perintah John.
“aku mengerti, Paman.” Balasku.
__ADS_1
Sesampainya di Laboratorium.
“hi John.” Sapa Dr. Harry.
“hallo Harry, kenalkan dia Natleyn.” Sapa John pada Dr. Harry.
“hi sir, Clara Kim Natleyn. senang bertemu denganmu.” kataku.
“hi Natleyn, senang bertemu denganmu juga. silahkan kalian duduk.” Kata Dr. Harry.
“Harry, bisakah kau langsung memeriksa kondisinya saja.” Pinta John.
” tentu John, berbaringlah di sana Natleyn!” jawab Dr. Harry.
“yeah, sir” kataku.
“cidera punggung ya?” tanya Dr. Harry padaku.
“benar, pak” kataku.
“sebaiknya kita lakukan rontgen karena itu lebih efisien untuk mengetahui seberapa parah cidera yang kau alami.” Kata Dr. Harry.
Aku pun melakukan rontgen dan pemeriksaan yang lainnya.
“semua pemeriksaan sudah selesai, duduklah kembali Natleyn.” kata Dr. Harry.
“thank you, sir.” kataku.
“tunggulah sebentar aku akan menganalisis semua hasil pemeriksaan.” Jelas Dr. Harry.
“Natleyn, Paman harap kondisimu sudah membaik karena sebentar lagi pasti kau akan langsung mendapatkan tugas yang berat pastinya.” Jelas John.
“aku juga berharap begitu Paman, oh ya apa Ayah telah tahu kalau aku diterima di CIA?” tanyaku.
“ya, dia sudah tahu. Kau tahu Natleyn, dia mengancam akan membunuhku kalau terjadi sesuatu padamu!” jawab John.
“dasar kau, selalu senang melihat penderitaan Pamanmu ini.” Kata John Kesal.
“hahahaha maaf Paman, sudah kebiasaanku. Kau Pamanku yang terbaik John.” kataku.
“dan kau keponakan terhebat yang ku miliki.” Kata John.
“sorry, harus ku ganggu obrolan kalian tapi ini penting khususnya untukmu Natleyn!” Kata Dr. Harry
“apa yang penting? katakan!!” tanya John dengan nada suara keras.
“apa kondisiku buruk?” tanyaku.
“ya Natleyn, hasil dari semua pemeriksaanmu baik kecuali” jelasnya.
“kecuali apa?” kataku.
“cidera yang kau alami sangat fatal, ada struktur tulang di punggungmu yang retak.” Lanjut Dr. Harry padaku.
“apa itu bisa disembuhkan, Harry?” tanya John.
“itulah masalahnya struktur tulang belakang yang telah retak atau patah tidak dapat disembuhkan. Aku hanya bisa memberinya obat yang akan mengurangi rasa sakit dan menutup secara perlahan retakan pada struktur tulangnya tapi itu memerlukan waktu yang cukup lama dan itu pun tak akan sembuh dengan sempurna.” Balas Dr. Harry.
“sekarang apa aku bisa menjalani tugas dengan kondisi seperti ini. Padahal aku baru saja memulai semuanya!!” kataku dengan perasaan kecewa.
“bisa Natleyn, kita hanya perlu merahasiakan soal kondisimu yang sebenarnya. Bagaimana menurutmu Harry?” saran John.
“aku setuju dengan itu, aku akan memberikanmu obat yang ku katakan tadi dan tidak akan ada masalah.” Balas Dr. Harry.
“apa kau setuju Natleyn?” tanya John.
“terserah kalian saja, aku akan kembali ke kamarku dan menenangkan diri. Aku tak ingin menunjukkan kondisiku yang sebenarnya di hari pertamaku dilantik besok.” kataku.
“Perlu ku antar kau ke kamar?” Tawaran John.
__ADS_1
“tidak Paman, aku bisa sendiri.” Balasku.
Perasaanku menjadi tidak karuan lagi setelah tahu bagaimana kondisiku, di kamar aku merasa bingung apa yang harus aku lakukan. Aku juga tak mungkin memberi tahu Ayah dan Ibu tentang ini, seandainya kak Whisnu bersamaku di sini aku bisa menceritakan semua ini padanya. Aku tak bisa tidur karena hal ini, besok aku akan dilantik tapi aku baru mengetahui kalau kondisi ku separah ini.
Waktu berlalu begitu cepat dan telah menunjukkan pukul 06. 00 pagi, ini hari pelantikkan dan mulai bertugasnya aku di CIA dan aku telah bersiap untuk bertugas tapi aku masih memikirkan soal cidera ini. Tak lama, ada yang mengetuk pintu kamarku ternyata Marvin, dia bilang “dia harus melihat langsung keadaan partner kerjanya”. Menurutku itu alasan yang kurang masuk akal tapi aku sangat menghargai sikapnya sebagai seorang Jenderal.
“Tok, tok, tok” mengetuk pintu
Membuka pintu, “Marvin! kenapa kau ada di sini?” tanyaku kaget.
“sepertinya kau sudah bersiap untuk bertugas ya?” kata dia.
“Pastinya, tentu aku siap. Kau belum menjawab kenapa kau ada di sini?” kataku.
“aku hanya ingin memastikan keadaan partner kerjaku, apa itu salah?” kata dia.
“tidak, itu tak salah.”
“ya sudah ayo cepat kita ke tampat pelantikan tak enak kalau kita telat ke sana!!” ajak Jend. Marvin.
“baik, Jenderal”
Saat menuju ke tempat pelantikkan, aku dan Marvin saling bercerita tentang awal dia bekerja di Central Intelligence Agency ini.
“marv, boleh aku bertanya?” kataku.
“ya, tentu.” jawabnya.
“bukannya waktu itu kau bilang usia mu 18 tahun dan kau seorang Jenderal, sejak kapan kau menjadi bagian dari CIA?” tanyaku.
“saat umurku 13 tahun.” Jawab dia.
“kau serius marv!” kataku. tak percaya.
“yeah, I’m serious!! aku sama sepertimu Natleyn masuk dalam intelegence saat usia muda.” jelasnya.
“kenapa kau masuk menjadi CIA, apa itu memang keinginanmu sendiri?” tanyaku lagi.
“sebenarnya itu semua keinginan Ayahku, dia telah mengaturnya untukku” kata Jend. Marvin.
“dan kau tak pernah menentang Ayahmu?” kataku.
“tentu tidak, awalnya aku tak pernah setuju dengan semua hal yang dia haruskan untukku tapi setelah ku jalani menurutku semua yang dia lakukan adalah yang terbaik untukku.
‘sebenarnya kau salah satunya Natleyn’.” Jelas jend. Marvin.
“berarti dia tahu apa yang terbaik untukmu.” kataku.
“benar, kalau kau apa yang membuatmu mau masuk ke dunia militer dan intelligence?” tanya dia.
“jujur, awalnya aku iri pada kakakku, saat dia menjadi tentara Ayahku sangat bahagia karena itu aku ingin menjadi sepertinya.” kataku.
“ku yakin kau bisa menjadi seperti kakakmu. kita sampai, bergabunglah di barisan Counter terrorist.” kata dia.
“mengerti Jenderal.” Balasku.
Aku pun bergabung bersama anggota yang lain, mereka adalah orang-orang yang sangat baik. Waktu pelantikkan pun tiba, Jenderal George sebagai Direktur CIA memanggil namaku agar bisa maju ke depan.
“baiklah kita berkumpul pagi hari ini untuk menyaksikan pelantikan anggota baru kita yang bernama Clara Kim Natleyn dan dia akan jadi Kapten kalian di Counter Terrorist. Kalian semua sudah tahu kalau kemampuannya tidak perlu diragukan lagi dan dengan resmi ku nyatakan kau Kapten Natleyn menjadi bagian dari Central Intelegence Agency. Selamat bergabung kapten.” kata Jend. George.
“thank you, sir.” kataku.
“dan kapten, kau akan menjadi partner kerja dari Jend. Marvin Lyson, kalian akan mendapatkan tugas perdamaian di Kabul, Afghanistan. Ku harap kalian bisa bekerja sama.” Kata Jend. George.
“siap Direktur, kami akan saling bekerja sama.” Jawab kami serentak.
“terimalah lencana dan senjata ini sebagai tanda kau adalah bagian dari Central Intelegence Agency.” Kata Jend. George.
“thank you, sir.” kataku.
__ADS_1