
Kategori: Cerpen Horor Hantu
Judul: Paranoid
_________________________
Aku duduk terdiam di kursi taman. Lalu lalang penghuni jalan menatapku sinis.
Aku menahan seribu gejolak di hati.
Angin sore melambaikan rambutku.
Beberapa saat lalu aku bertengkar hebat dengan alex. Orang yang sudah lama ku kenal. Ia berlalu dan tak pernah mau mlihat ke belakang lagi
Pada kekasih hatinya yang duduk termenung penuh tanya, kenapa harus seperti ini?
Disini dingin sekali sepi menusuk kalbu. Air mataku jatuh membasahi bumi, lidahku kelu, hujan yang turun tak mampu membuatku untuk beranjak pergi.
“heeeey.. Meldaaaa..! Kamu kenapa melamun disini? Kenapa belum pulang? Ini sudah mau malam, seseorang dari belakang menepuk pundak ku membuyarkan lamunan, cepat-cepat ku hapus air mata yang belum sempat mengering.
Melda: “jastin? Kamu ngapain kesini?”
Jastin: “kamu menangis lagi mel?”
Melda: “a.. Aac, aaah ga kok tin? Ga kenapa-napa!' (menghapus air mata).
Jastin: “sudahlah kamu tidak usah bohong lagi, pasti gara-gara alex kan!”
Melda: “udahlah jastin, aku capek membahas ini!”. (aku bangkit meninggalkan jastin di taman)
Jastin teman kuliah yang sudah empat bulan ku kenal, termasuk pria yang baik dan suka menolong, namun perhatiannya yang berlebihan padaku sedikit membuatku ilfeel
Kadang aku bertanya-tanya kenapa ia selalu ada di saat yang tidak tepat. Seperti ia sengaja mengintaiku. Atau mungkin perasaanku saja. Seperti saat sendiri dan menangis karena kesal, hampa. Kesepian oleh kisah cintaku yang meliuk-liuk. Mungkin aku yang terlalu bodoh membiarkan setiap lelaki meracuniku dengan cinta, janji-janji semua yang membuat diriku terhanyut dalam luka dalam
Aku membuka pintu pagar lemah sekali, rasanya aku tak punya tenaga lagi, cerita keras di hari ini jelas menguras tenagaku, aku merebahkan tubuh kurus di kasur, malam semakin larut pikiranku semakin kalut dan kacau. Jam dinding berdetak mengikuti alur nadiku, aku mencoba memejamkan mata, tapi seperti ada suara lain memanggil namaku, belum lagi udara malam makin menusuk kulitku, bulu halus di tanganku seakan tertiup. Dan aku mulai merinding.
Aku bangkit menyibakan selimut dan menyalakan lampu. Sebuah foto di atas meja riasku terjatuh keras tanpa sebab. Aku melangkah pelan memungut foto di lantai. Sebuah foto aku dan alex semasa sma. Masa di mana cinta begitu kuat dan menarik ku ke dalam kehidupan alex yang sejatinya anak kurang kasih sayang. Orang tua alex di bunuh secara sadis oleh para perampok, beruntung alex dapat di selamatkan nyawanya oleh warga pada malam mencekam itu.
Kehidupan alex yang berlabel anak orang kaya. Karena ia mewarisi kekayaan orang tuanya, namun sikapnya jelas cuek dan tidak ada senyum selalu dingin seperti biasannya, aku hadir di kehidupannya yang perlahan-lahan mengubah sedikit karakternya kelakuan buruknya, narkoba, judi, balapan liar adalah sebagian kisah kelamnya. Aku tahu betapa trauma alex ketika ia melihat sendiri kematian ayah dan ibunya yang di bunuh secara sadis
Aku menaruh foto itu kembali, tapi entah kenapa jatuh kembali, kali ini kacanya pecah berhambur di bawah lantai. Sepotong kaca menggores tanganku. Aku berteriak menuju kamar mandi. Darah di tanganku membasahi lantai, aku membuka keran dan membersihan luka, saat aku mengangkat wajahku. Aku berteriak keras tertahan, aku terjatuh saat sebuah bayangan alex di kaca dengan mata merah berdarah hampir keluar dan wajahnya rusak parah, rambutnya seperti terbakar dan seluruh tubuhnya hancur. Aku tersudut di pojokan kamar.
Saat aku bangkit, melihat lagi bayangan wajah itu menghilang, aku berlari melangkah pergi keluar. Saat aku membuka pintu, sebuah tangan menyambar lengan ku kuat. Membuatku hampir mati berdiri.
“heeey..! Melda selamat malam…!”
Aku hampir pingsan ternyata sosok itu adalah rhena sahabatku di kampus. “eh kamu ren…! Ngapain malam-malam kesini? Kamu tidak tahu ini jam berapa? Aku menunjuk jam. 12.03. Di tanganku”
“ia aku tahu…, tapi ini gawat!, kawat eh gawat banget mel…” rhena mearik ku ke motornya tanpa penjelasan.
Rhena membawaku ke sebuah rumah sakit, dan menunjukan aku pada sesosok mayat tak bernyawa yang ternyata jasad alex yang terbujur kaku dengan luka di seluruh tubuhnya. Aku teriak histeris, aku memegang kuat tangan alex, memanggil namanya sekuat aku bisa, tiba-tiba tangan mayat alex meremas kuat tanganku dengan mata melotot, menyebabkan aku kaget dan jatuh terpelanting di lantai.
Rhena: “kenapaaa.. Kamu mel?!” (berlari memegangku)*
Melda: “ta.. Ta.. Tanganya.. Tangannya bergerak!” (ketakutan)
Rhena: “aaaah… Gila kamu mel… Mana ada mayat bergerak…! Aku tahu kamu pasti shok dan trauma tapi jangan menakutiku, ini jam satu pagi dan lagi ini di kamar mayat, terus kamu bilang tangannya bergerak, gila kamu ya!
Melda: “terserah kamu rhen! Tapi kita harus keluar dari sini, aku takut sekali…!”
Aku dan rhena berlari menyusuri lorong rumah sakit, suasananya sangat sepi dan hening sekali disini.
__ADS_1
“brruuuuukkk” sebuah pukulan keras menjatuhkan aku dan rhena, kami terjatuh kesakitan, samar-samar ku lihat sosok jastin mendekat dengan pentungan di tangan.
“hahahaha, rasakan itu wanita jal*ng..! Aku akan mengirim mu dengan teman cantikmu ini ke neraka, menyusul alex ******** itu yang tidak tahu menghargai wanita, dan lagi aku membenci wanita busuk sepertimu, lemah tanpa bisa melawan, membiarkan diri terusik tanpa mendengarkan perhatianku…!” jastin meludah dan menjambak rambutku keras sekali, ia menyemprotkan gas pemadam kebakaran ke mataku, menyebabkan aku berontak dan berteriak memegang mataku semua terasa gelap, aku memanggil nama rhena sebelum akhirnya aku terjatuh tak sadarkan diri.
Aku mendengar beberapa tangan meremas tangan ku erat, aku balik membalas meremas tangan itu.
“meldaaaa… Apa kamu sudah sadar?' sebuah suara memanggil namaku membuat aku memaksakan membuka mata tapi tidak bisa semua terasa gelap. Sakit yang kini melanda kedua mataku
“apa aku buta.. Ren! Aku menangis”
“tenanglah ini aku rhena, kamu mengalami kebutaan, tapi kata dokter kamu mendapat donor, mereka tak memberi tau dari mana mereka mendapatkan mata itu, dan mereka akan mengoperasimu nanti, kamu tenang saja mel?
Mungkin beberpa minggu lagi kamu bisa melihat dunia luas.”
“sebelum justin sempat menghantam benda tumpul di tangannya ke kepalamu. Aku melihat samar-samar sebuah tangan melingkar di leher jastin dan mematahkannya keras, itu pasti alex, mungkin kamu tidak percaya tapi sosok itu tiba-tiba menghilang.
Sebelum aku menjawab.
“maaf apa ini dengan nona melda dan ini pasti temannya rhena ya? Maaf mba rhena tolong ditandatangani. “aku mendengar beberapa orang masuk. Memeriksa kondisiku dan menyuruh rhena mendatangani sebuah surat.
Hari ini sudah hampir 4 minggu aku di rawat, besok aku boleh pulang.
Kondisi ku sudah memukinkan untuk pulang, dengan mata baru. Namun sekarang aku merasa aneh pada kedua bola mataku. Rasanya ada yang aneh dan salah dengan kedua mataku,
Apa yang terjadi denganku, terutama kedua mataku ini…?
Di rumah rhena.
Rhena: “melda maaf ya? Kamu jangan marah padaku, soalnya yang mau kuceritakan ini aneh, tapi mereka yang memaksaku, para dokter itu..!
Melda: “apa maksudmu rhen? Jangan bikin aku binggung lah..!'
Rhena: “sebenarnya matamu itu matanya alex, saya tidak tahu mereka dapat izin dari mana, tapi mereka bilang aku hanya mendatangi perjanjian itu? Karena cuma itu cara satu-satunya kamu dapat melihat!”
Aku hanya terdiam seribu bahasa.
Aku memaksa rhena mengantarku ke dokter yang bertanggung jawab atas operasi terhadap diriku.
Wanita cantik dengan kacamata dan baju dokter namanya grace.
Melda: “maaf bu saya hanya ingin tahu dari mana ibu mendapat izin untuk memberikan mata alex kepada saya?'
Dokter grace membolak-balik kacamata dan membersihkan. Bangkit berdiri menghadap jendela. “ma.. Maaf… Maaf nona melda, tapi alex sendiri yang datang dan menginginkan itu.”
Dan.. Itu terjadi beberapa jam sebelum anda buta. Ia mengatakan kamu harus hidup dengan matanya. Karena ia mencintaimu begitu dalam, hanya anda yang mampu membangkitkan semangat hidupnya. “oh.. Ya? Ini sebuah surat sebagai bukti saya bukan bermimpi..”. Dokter grace menyerahkan sebuah kertas dengan tanda tangan alex.
Hiduplah dengan kedua mataku
Jangan takut aku di sini
Percayalah aku tidak akan membiarkan seorang pun menyentuh tubuhmu ingat itu.
———————–
Aku menyusuri lorong kamarku. Sepi sekali, orang tuaku berada di luar negeri. Aku sangat tidak nyaman sekali dengan mata ini. Aku dapat melihat dalam gelap. Dan dapat menyusuri seluruh lorong dengan mata tertutup.
Tiba-tiba aku sudah berada di kamar mandi. Saat aku melihat di kaca. Sebuah bayangan alex muncul tapi entah kenapa kali ini aku tidak merasa takut.
Tatapan matanya kosong. Tanpa senyum. Wajahnya rusak parah. Aku menyentuh kaca tapi tak bisa. Aku ingin memeluk tubuh alex tapi tak bisa.
Saat aku melihat ke belakang. Ia berdiri tepat di depan mataku hanya beberapa inchi. Aku berusaha mundur. Aku kaget namun langkahku seakan tertahan.
__ADS_1
Alex mencoba meraihku. Tapi tak dapat, ia ingin memeluk tubuhku tapi lagi-lagi gagal. Aku mendekat dan berdiri di depannya. Ia menunduk tak mengerti. Tanpa suara tanpa tangisan.
“alex sayangku kenapa aku tak bisa memelukmu walau sebentar saja. Aku rindu sekali, aku minta maaf untuk kejadian di taman. Aku kesepian sayang. Aku milik mu tapi aku merasa tidak punya apa-apa. Kamu tak romantis. Kamu tidak pernah menghargaiku. Apa yang terjadi sayang. Apa kamu kembali untuk menjemputku. Kenapa kamu diam, coba liat wajahku. Aku ini kekasihmu bukan musuhmu. Hargailah aku.”
Sekeras aku berteriak tak ada jawaban
Alex membalikan tubuhnya dan menembus tubuhku. Pergi menghilang entah kemana.
Pagi hari.
Hari ini aneh sekali, aku terbangun karena alarm yang tiba-tiba bunyi tanpa alasan. Belum lagi kaca jendela yang terbuka sendiri menyebabkan mentari menerpa mataku. Aku membuka mata dan alex sudah di depanku. Ingin mencium keningku tapi tak dapat, sama seperti kemarin tanpa ekspresi. Tanpa suara, aku pergi kemana pun dia selalu ada. Membuatku risih.
Di kampus
“heey.. Rhena nih alex.”. Aku memperkenalkan alex yang berdiri di sampingku pada rhena dan ririn kawan rhena
“gila kamu nih. Masih trauma ya? Sudahlah melda.. Tidak usah menakuti ku lagi..! Rhena mencari di sekeliling ku dan memegang keningku beberapa kali. Mungkin ia masih belum percaya kalo aku tidak berbohong. Sementara alex. Masih berdiri di sampingku tanpa ekspresi.
Ririn: “kok aneh banget sih temanmu!” *bebisik di kuping rhena*
“aaah.. Sudahlah kalau kalian tidak melihatnya, ayo kita pergi sebelum seluruh orang mengangap aku gila..!. Aku meraih tangan rhena menariknya menjauh dari pandangan mata yang mulai merasa aneh denganku.
Sementara ririn melihat dengan binggung.
Di rumah.
“bagaimana aku bisa berkomunikasi denganmu kalau kamu hanya diam.. Dan diam… Dengan tatapan mata kosongmu” aku mulai kesal karena pasti rhena dan temannya sudah mengangap aku gila. “terus kenapa hanya aku yang bisa melihatmu?. Kenappaaaaa?
Tiba-tiba buku di atas meja belajarku terbuka sendiri begitu cepat. Dan pulpen dari kantong bajuku melayang dengan sendirinya. Dan menari-nari di atas buku tulis. Aku mendekat dan membaca tulisannya
“karena matamu mataku”
“haaaaah… Jadi memang cuma aku yang bisa melihatmu karena ini matamu. Aku berteriak kencang menatap wajahku di cermin.
Sebuah tulisan di kertas kembali muncul
“apa kamu tidak menyukainya?”
Aku membalikan badan dan ingin menjelaskan tapi bayangan itu sudah pergi. Samapi malam larut aku masih belum bisa tidur. Sejak mataku di operasi aku hanya bisa istrahat 20 sampai 30 menit karena selalu di bangunkan alex dengan perbuatan jahilnya dengan membunyikan alarm atau sengaja menjatuhkan ku dari tempat tidur. Aku tahu ia ingin aku selalu menemaninya, tapi aku mulai bosan juga. Pikiranku mulai jenuh.
“alex maaf ya? Bukannya aku tidak menyukai matamu ini. Tapi kamu membuatku takut, orang-orang tak akan percaya aku bisa melihat sosokmu. Bahkan ini mungkin sudah hampir 2 bulan berlalu. Aku tak mungkin hidup sendiri terus. “aku menutup buku. Dan tidur. Namun aku dapat mendengar bunyi buku di buka sampai beberapa jam. Aku yakin alex sedang membaca tulisanku.
Dan baru kali ini aku tidur lama. Aneh memang.
Esok hari selasa 04-06-13
Kriiiiiing… Kriiiiing… Paaaagiiiiii… Paggggi… Paaaagiiii…
Alarm di kamarku berbunyi berteriak kencang, aku pura-pura tidak bangun, sampai pada sebuah tarikan panjang
Menarik ku terpelanting jatuh dari tempat tidur
Masih dalam keadaan belum sadar.
Aku membuka mataku dan melihat seluruh ruanganku begitu indah sekali. Jendela kamar yang terbuka dan bergoyang dengan sendirinya. Di atas plafon di penuhi kupu-kupu kertas warna warni. Bergoyang di tiup angin
Seakan terbang hilir mudik,
Di atas meja ada sebuah kotak kardus berbentuk hati. Aku membukanya ternyata isinya sebuah kue tar dan di sampingnya terbungkus sebuah kalung. Aku meraba leherku. Ternyata kalung yang biasa ku gunakan sudah berada di dalam kotak. “braaaak.” semua jendela tertutup cepat bersama menutupnya gorden. Menyebabkan keadaan gelap gulita.
FOLLOW IG AKU
__ADS_1
@fidelria_10