
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka.
"Sayang, sudah mandinya. Sini Mami sudah buatkan susu, mumpung masih hangat." Kata Mami Selly.
"Maafkan Aisha, ya Mi sudah merepotkan Mami." Aisha menghampiri Mami Selly.
"Ih! Kamu, Mami senang kamu merepotkan Mami. Karena Mami merasa berguna sebagai ibu, nih abiskan susunya." Mami Selly tersenyum dan memberikan gelas air susu.
"Terimakasih, Mi." Aisha meminum susu hingga abis.
Keesokan harinya, Aisha bangun lebih pagi. Untuk membuatkan sarapan, kejadian kemarin Aisha merasa bersalah. Karena telah merepotkan Papi Devan, Om Roy, Mami Selly dan terutama Kenan yang sudah menyelamatkan dirinya.
"Aku syukur berada di keluarga ini, mereka sangat memperdulikan aku. Walau Kenan masih dingin sama aku, tapi aku yakin suatu hari Kenan akan berubah." Ucap Aisha sambil menggoreng telur.
"Siapa yang berubah?." Kenan yang baru datang.
"Eh! Ng-ngga ada kok." Aisha kaget dan gugup. Jantung Aisha berdetak kencang.
"Bohong." Kenan mendekati Aisha, terus mendekati Aisha.
Aisha merasa terancam, ia memundurkan diri hingga mentok di meja kompor. Lalu tak sengaja tangan Aisha terkena wajan panas.
"Auwww." Aisha merasa kesakitan, Kenan melihat itu panik. Kenan mematikan kompor dan menarik Aisha ke westafel, lalu menyalakan keran air dan tangan Aisha di kucuran air.
"Hiks... Hiks... perih Ken." Kata Aisha.
__ADS_1
"Loe ceroboh banget jadi orang." Kenan Marah, padahal dia gugup.
"Ma-maaf, hiks... Hiks..." Aisha menunduk takut tatapan Kenan yang tajam.
"Loe terus begitu, gue akan ambil salep dulu." Kenan beranjak mengambil salep di kamarnya.
"Iya." Aisha masih membiarkan air mengalir di tangan yang terluka.
Kemudian, Kenan datang dan menarik Aisha duduk di meja makan. Tapi sebelumnya ia mematikan keran air.
"Bi-biarkan aku sendiri aja." Aisha gugup.
"Loe diam aja. Ini cuma bentaran doang." Kenan memaksa.
"Aku semakin mencintaimu, Kenan." Kata Aisha dalam hati, lalu menatap Kenan.
"Eh! A-dda a-ppa." Aisha gugup.
"Ini udah gue obatin, loe tadi ngelamunin ketampanan gue, ya." Kenan narsis.
"Ng-ngga." Kata Aisha memalingkan wajahnya. Tiba-tiba Kenan mencium bibir Aisha.
Aisha membelalak matanya, tangannya meremas roknya.
"Sory." Kenan menggaruk kepalanya yang tidak gatel. Aisha masih berdiri seperti patung.
"OMG, Kenan mencium bibirku." Aisha dalam hati.
__ADS_1
"Uhuk...Uhuk... Mami haus, aduh! pagi ini kenapa terasa hot ya." Mami Selly pura-pura batuk, lalu berjalan mengambil gelas.
"Sha, kamu kenapa diam di situ. Sarapannya sudah jadikan." Tegur Mami Selly.
"Eh! I-iya, Mi sebentar lagi." Aisha sadar dari melamunnya, lalu menyiapkan sarapan di meja.
Kenan menatap Aisha, hingga Aisha grogi.
"Sayang, kamu duduk sama Kenan. Ya." Mami Selly.
"Ta-tapi, Mi... " Aisha gugup.
"Sudah sini duduk dekat sama gue." Kenan menarik Aisha hingga duduk di pangkuan.
"Oh! kamu mau di pangku Kenan, ya. Bilang dari tadi." Goda Mami Selly.
"Ish! Tidak, Mi." Aisha merona.
"Ada apa ini, pagi-pagi sudah menggoda Aisha." Papi Devan baru saja datang bersama Om Roy.
"Ini loh, Pi. Aku dan Mami tadi lihat... " Mulut Arkan di tutup dengan makanan oleh Mami Selly.
"Kamu harus makan yang banyak, biar cepat besar kaya abang mu." Mami Selly menyuapi Arkan.
"Memang kalian lihat apa sih?." Om Roy penasaran.
πΈπΈ
__ADS_1