Cinta Kamu

Cinta Kamu
#70


__ADS_3


Aisha pergi ke kampus dengan naik bis.


"Ya Allah kenapa aku masih sedih sih, padahal ini udah seminggu." Aisha sedih menatap kedepan.


"Hai, nona manis." Sapa Bang Raka, ia senior sekaligus pelatih Tenis.


"Bang Raka, sini duduk." Aisha agak bergeser.


"Terimakasih, manis." Kata Bang Raka lembut.


"Tumben kamu naik bis, bang. Kemana moge kesayangan abang."


"Dia lagi masuk rumah sakit, Hahahaha."


"Hahaha... motor bisa sakit juga ya bang?." Aisha ikut tertawa.


"Ish! kamu selain manis, cantik juga kalau tersenyum. Bikin abang terbang." Bang Raka menggerakkan tangannya seperti mendapatkan sayapnya.


"Bisa aja kamu bang." Aisha malu-malu, karena baru kali ini puji oleh laki-laki selama ia menjadi mahasiswi.


"Sumpah demi apapun kamu memang manis, lucu dan cantik. Ratu kalah."


"Iya, aku percaya. Ya udah, kita siap-siap turun. Bentar lagi sampai kampus, bang."


"Oke, adik cantik."


Mereka pun turun dari bis. Lalu berjalan masuk kedalam kampus. Ketika di lorong, mereka melihat Ratu dan Kenan berjalan. Ratu menggandeng atau bergelayutan di tangan Kenan, tapi Kenan bersikap biasa aja.


"Huh, bikin pagi bete." Bang Raka menghela napas. Aisha melirik Bang Raka dan tatap Bang Raka menuju ke arah Ratu dan Kenan.



"Mmm... Rupanya bang Raka naksir sama Ratu. Lebih baik kita kerja sama mengejar cinta." Pikir Aisha.

__ADS_1


"Bang, abang suka ya sama Ratu." Aisha menepuk pundak Bang Raka.


"Yah yang kamu lihat." Bang Raka menghela napas kembali.


"Hahaha... Ternyata kita sama bang, mencintai sama seseorang yang susah kita raih."


"Udah, kamu masih bocah. Jangan mikirin pacaran, lebih baik banyak belajar biar cepat selesai kuliahnya." Bang Raka mengacak-acak rambut Aisha.


"Ish! Abang mah. Rambutku kan jadi berantakan." Aisha membuka kepangannya.


"Bis, kamu gemesin sih. Ya udah abang kekelas dulu, ya. Bye." Bang Raka mencubit pipi Aisha, lalu bergegas pergi sebelum Aisha marah.


"Ish! Bang Raka reseh." Teriak Aisha kesal.


Skip


Pulang kuliah Aisha langsung memasak, memasak tumis ikan asin dan sayur asem.




Tak lama kemudian, Mami Selly dan Arkan datang.


"Mmm... Wanginya, kamu masak apa. Sayang." Kata Mami Selly dan menghampiri Aisha di meja sedang menatap makanan.


"Ini loh mi. Tumis ikan asin dan sayur asem, Aisha lagi kepingin aja."


"Ih! kak, kok sayurnya seperti itu sih dan namanya aneh asem." Arkan heli melihat sayur asem, karena Arkan baru pertama kali lihat. Sebab Mami Selly tidak pernah masak, karena Papi Devan tidak suka dengan sayur asem.


"Kamu cobain dulu, dek. Pasti nanti kamu ketagihan." Aisha menyondorkan mangkuk kecil di hadapan Arkan.


"Nggak, ah. Nanti perut aku sakit lagi." Arkan tetap masih ngeri melihat semangkuk sayur asem di depannya.


"Tenang ini aman, kok. Nanti kalau kamu menghabiskan ini, kakak janji nanti kamu kakak ajak ketempat perkemahan." Aisha mencoba membujuk Arkan.

__ADS_1


"Benarkah?." Arkan memastikan.


"Benar, adik ganteng." Aisha mengelus rambut Arkan.


"Ya udah, kalian duduk dulu. Biar Mami aja yang siapin." Kata Mami Selly, lalu mengambil piring.


" Terimakasih, Mi." Serentak, ketika piring sudah terisi nasi dan tumis ikan asin.


Arkan berusaha menyuap sayur asem sambil menutup kedua matanya. Mami Selly dan Aisha harap-harap cemas melihat Arkan menyuap sayur asem.


Sayur asem sudah berada di mulut Arkan, ia mengunyah dan merasakan sayur asem.


"Ya Allah, sayurnya enak sekali. Terasa seger di tenggorokan." Arkan senang, ia malah memakan dengan lahap.


"Ya enaklah, siapa dulu yang masak. Chef Aisha." Mami Selly memuji Aisha.


"Mami bisa aja." Aisha malu-malu.


"Ini emang enak, kok. Kakak, mulai sekarang apapun kak Aisha masak apapun aku suka. Asal jangan pedas, aku takut di operasi lagi."


"Oke, adik ganteng." Aisha mengacak-acak rambut Arkan.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Ayo Jempolnya...👍👍👍👍😘😘😘


__ADS_2