
Tak lama kemudian jam pelajaran telah usai. Aisha buru pergi keluar, Kenan melihat Aisha yang cemburu. Merasa senang, dia bangga Aisha tidak bisa berpaling darinya.
Bbrruukk
Aisha menabrak seseorang.
"Maaf, saya tidak melihat anda." Kata Aisha merapihkan pakaiannya.
"Aisha, loe ngga apa-apa kan?." Sandi cemas, ia memeriksakan keadaan Aisha.
"Eh! Ngga kenapa-napa kok, San."
"Syukur dech."
"Sory, San. Gue harus pergi."
"Tunggu, gue ikut. Ya." Sandi memegang tangan Aisha.
"Mmm... Baiklah." Mereka berdua pergi. Kenan melihat Aisha berjalan dengan Sandi, ia mengepalkan tangannya.
"Ken, ayo. Kita kelapangan buat latihan tenis." Ratu merangkul tangan Kenan.
"Iya." Kenan jawab dengan malas, tapi Ratu tidak menanggapinya.
Di Lapangan Tenis
Kenan dan Ratu melihat Aisha sedang bermain tenis dengan Bang Joe, kakak senior yang merupakan pelatih tenis di kampus.
Aisha belum ada persiapan untuk memukul bola. Bang Joe sudah melempar bola dan mengenai hidung Aisha, hingga pingsan.
"AISHA!!!." Teriak Sandi langsung berlari dan mendekati Aisha yang tak sadarkan diri.
__ADS_1
Sebenarnya Kenan khawatir, tapi dia masih gengsi.
"Huh! dasar bodoh." Ratu sinis melihat Aisha.
"Aisha, bangun." Sandi memukul pelan pipi dan memberikan Aisha minyak angin.
Perlahan-lahan Aisha membuka matanya.
"Syukurlah, loe bangun juga." Sandi langsung memeluk Aisha, membuat Kenan marah.
"Udah ngga usah peluk-peluk juga, Sha. Cepat naik kepunggung gue. Gue antar pulang." Kenan marah dan sudah berjongkok.
"Tapi..." Aisha ragu.
"Ngga usah tapi-tapian, cepat naik kepunggung gue." Teriak Kenan.
Aisha takut Kenan marah, lalu ia menaiki kepunggung Kenan
"Lain kali kalau ngga bisa main tenis jangan ikut main, kalau begini siapa yang repot." Kenan memarahi Aisha.
"Dasar bodoh. Lebih baik Loe minta mami berlatih."
"Memang Mami bisa, kok aku ngga pernah tau ya."
"Loe makanya jangan banyak keluyuran yang ngga jelas."
"Ih, aku bukan keluyuran tau. Aku tuh belajar sama kedua sahabatku, yang ada itu kamu keluyuran ngga jelas bersama para wanita."
"Kenapa kalau gue jalan sama para wanita?Loe cemburu?."
"Ng-ngga, aku ngga cemburu. Aku sudah ada cowok yang aku suka dari kecil sampai sekarang, bahkan aku selalu membawa kemana-mana fotonya."
Kenan mendengar itu langsung menurunkan Aisha.
"Loe pulang aja sendiri, gue masih ada urusan."
__ADS_1
"Ya udah, terimakasih, ya." Aisha hendak pergi, tapi tangannya sudah di pegang Kenan.
"Dasar ngga peka loe."
"Ngga peka gimana maksudnya?." Aisha bingung.
"Lupakan, memang loe ngga peka." Kenan kesel dan pergi.
"Dasar aneh." Aisha menatap kepergian Kenan, ia masih bingung apa yang di bicarakan Kenan.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Di rumah
Aisha menghampiri Mami Selly yang berada di dapur.
"Assalamualaikum, Mi." Aisha memeluk Mami Selly dari belakang.
"Wa'alaikumsalam, sayang. Ini hidung kenapa?." Mami membalikan badan dan heran melihat hidung Aisha di plester.
"Oh, ini aku tadi kena bola tenis." Aisha memegangi hidungnya.
"Kok bisa, gimana ceritanya." Mami Selly mulai panik.
"Ini, Mi. Aku belum siap untuk memukul, bola tiba-tiba udah di depan mata. Aku ngga sempat menghindar, bola udah keburu cium hidung aku, Mi."
"Ya ampun, kamu ada-ada aja. Nanti hari pekan kamu Mami ajarkan cara bermain tenis dengan lincah dan gesit."
"Jadi benar Mami bisa main tenis?."
"Mami bukan sombong, dulu waktu seumur kamu. Mami itu atlit tenis."
"Wah! Mami memang hebat, bisa jadi atlit dan kok, udah gitu cantik dan baik hati. Pantesan Papi Devan jatuh cinta sama Mami."
"Kamu bisa aja."
__ADS_1