
Bonny dan Tika datang.
"Aisha, kamu cantik sekali." Kata Bonny.
"Iya, Sha. Aku jadi pingin nikah." Kata Tika. Bonny menyentil kening Tika.
"Ish! Sakit tau." Tika memegang keningnya.
"Lagian kalau ngomong yang benar." Kesal Bonny.
"Sudah-sudah kalian jangan bertengkar terus, cepat kalian ganti pakaian dan juga wajah kalian akan di make up." Mami Selly memisahkan.
"Iya, Mi. Maaf." Serentak, Bonny dan Tika menunduk.
Aisha tersenyum melihat kedua sahabatnya, jika sudah ketemu pasti ada aja yang diributkan. Walau mereka sering bertengkar, tapi mereka itu saling perduli dan melindungi.
2 Jam Kemudian, rombongan Kenan datang beserta dengan penghulu.
"Alhamdulillah, Pak penghulu datang. Jadi gue ngga perlu nunggu lama... Gue jadi grogi gini sih, padahal ini yang gue tunggu-tunggu." Kata Kenan dalam hati, ia memegang dadanya yang dari tadi berdebar-debar.
Wo mengatur Kenan, Papi Devan dan Om Roy duduk di tempat yang sudah di sediakan untuk ijab kabul.
Eyang Akung dan Eyang Putri Aisha hadir, Om Roy sangat senang akhirnya kedua orangtuanya bisa datang.
"Mom, Dad. Terimakasih sudah mau hadir di acara pernikahan cucu kalian." Om Roy meneteskan air mata.
"Jelaslah kami datang ke pernikahan cucu ku, walau abang mu Ali sudah tiada. Kami dan kamu yang akan mengantikan tugas mereka, untuk menjaga, mencintai, melindungi dan menyayanginya... Dan kamu jangan panggil kami Daddy dan Mommy, seharusnya Umi dan Abi. Kebiasaan kamu kebanyakan tinggal di negeri orang seenaknya panggil kami seperti itu." Abi Assegaf menjewer telinga Om Roy.
__ADS_1
Om Roy selalu pindah-pindah tempat tinggal, sudah macam negara ia tempati. Makanya Om Roy mempunyai rumah di setiap negara, dari pada sewa rumah lebih baik membeli rumah. Sewaktu-waktu ia akan kembali lagi, tidak perlu sewa rumah atau di hotel.
"Maaf-maaf, Bi. Aku kan tinggal di semua negara untuk belajar dan menjalankan usaha, Bi." Om Roy membela diri.
"Sudahlah, Bi. Lebih baik kamu duduk di dekat Nak Devan." Kata Umma Khaira, wanita bercadar.
Baik Ya Zaujati." Abi Assegaf menghampiri Papi Devan.
"Roy, antarkan Umma ketemu dengan Aisha." Pinta Umma Khaira.
"Iya, Umma."
Roy menghantarkan Umma Khaira ke kamar Aisha.
Tibalah mereka di kamar Aisha.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh." Serentak, orang yang ada di kamar Aisha menghentikan kegiatan. Mereka semua menoleh ke wanita bercadar datang bersama Om Roy.
"Maaf untuk laki-laki di kamar ini silakan keluar, termasuk kamu Roy." Perintah Umma Khaira.
"Maaf Nyonya dari tadi di sini tidak ada laki-laki hanya Roy yang baru datang." Tante Tasya membenarkan.
"Oia, bukannya dia." Umma Khaira menunjuk ke arah Bonny dan Tika.
"Hahaha... Umma mereka itu perempuan, sahabatnya Aisha. Mereka memang belum di make up." Om Roy tertawa geli.
"Maaf-maaf, Eyang tidak tau... Roy cepat sana kamu keluar." Umma Khaira mengusir Om Roy.
__ADS_1
"Iya, Umma." Om Roy keluar kamar.
"Oia, jika acara Ijab Qabulnya sudah mulai tolong beritahu Umma." Kata Umma Khaira.
"Iya, Umma sayang." Om Pergi meninggalkan para perempuan yang beda generasi.
Umma Khaira menghampiri Aisha.
"Masya Allah, kamu cantik sekali. Kamu sangat mirip dengan Abi mu, nak." Umma memegang dagu Aisha.
"Maaf ibu siapa?." Aisha bingung.
"Ini Eyang Uti, Umma dari Abi mu nak." Umma Khaira melepaskan cadarnya dan meneteskan airmata.
"Eyang... Hiks... Hiks...Hiks..." Aisha memeluk Umma Aisha dan meneteskan airmata.
"Maafkan Uti dan Akung, baru menemui mu. Seandainya Uti dan Akung lebih cepat menemukan kalian pasti... Hiks... Hiks... Hiks..."
"Tidak Uti, ini sudah suratan takdir. Allah lebih sayang Abi, Umi dan adik-adik."
"Iya, sayang. Sudah jangan bersedih, lihat make upnya jadi luntur."
"Iya, Uti."
"Kamu yang bernama Tasya?perkenalkan saya Umma dari Roy dan Uti dari Aisha. Roy sering cerita tentang dirimu, jadi kapan kalian menikah. Masa kalah sama dengan keponakannya sih."
"Ah! Iya bu." Wajah Tante Tasya merona.
__ADS_1