
Aisha hendak masuk kelas, ia melihat Kenan dan Ratu sedang bicara di lorong. Lalu Aisha sembunyi di balik tembok.
"Mereka lagi bicara apa?." Batin Aisha.
"Ken, akhirnya Kakek setuju akan menanam modal di perusahaan Papi loe." Ratu senyum.
"Syukurlah." Kenan bersikap biasa aja. Tidak kaget atau senang.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Hari sudah mulai sore, seluruh anggota tenis berkumpul.
"Sore semuanya." Ketua tim Tenis.
"Sore..." Serentak.
"Kami akan mengadakan liburan khusus untuk anggota tim Tenis."
"Hhoorree..."
"Tapi sebelumnya kalian harus minta izin kepada kedua orangtua, wali dan bila merantau bisa minta izin ke ibu kos."
"Siap kapten..."
"Sabtu minggu ini jam 6 kalian sudah harus berada di kampus, sekian dan terimakasih."
Seluruh anggota berpencar. Aisha melihat Kenan selalu bersama Ratu.
"Setiap hari selalu melihat mereka berdua. Sakit sekali hati ini." Aisha memegang dadanya.
Aisha pun pergi dengan hati yang sedih. Di perjalanan ponsel Aisha berdering. Lalu, ia melihat Kenan menghubunginya.
"Ha-halo." Aisha gugup.
__ADS_1
"Loe dimana sekarang?." Kata Kenan ketus.
"A-aku di taman kampus, ada apa kamu menelfonku."
"Gue sekarang lagi di kantor Papi, loe jangan macem-macem. Jam kuliah udah selesai harus pulang, jangan ngayap kemana-mana dan mencoba kabur."
"Siapa coba yang ngayap, aku itu kerja tau."
"Udah ngga usah ngeyel, gue selalu memantau loe dari sini. Loe ngga bisa kemana-mana, karena anak buah gue ada disekitar loe." Ancam Kenan dan langsung mematikan sambungan telpon dengan Aisha.
"Ish! Nih orang malah matiin aja, tadi dia bilang anak buahnya ada di sekitar ku. Dimana mereka." Aisha menoleh kanan dan kiri mencari anak buah Kenan.
"Ah! Bodo amat, aku pulang aja. Mumpung Kenan ada di kantor, jadi aku bebas." Aisha senang.
Aisha menaruh ponsel ketasnya, lalu bergegas pulang kerumah.
Aisha tiba di rumah, ia kaget melihat Arkan berada di lantai merintih kesakitan.
"K-kak A-ai sha pe-pe rut s-sa-sa kit." Rintih Arkan.
"Ya Allah, kamu tunggu dulu. Aku telpon Kenan dulu." Aisha buru-buru ambil ponselnya di tas.
"Hiks... Hiks... Kenan, pas aku pulang. Arkan sudah di lantai dan mengeluh perutnya sakit, ini gimana?aku takut Arkan kenapa-napa." Aisha menangis.
"Apa!! Loe sekarang bawa Arkan kerumah sakit, gue akan nyusul. Tetap kabari gue." Kenan terkejut. Setelah sambungan telpon dengan Kenan, Aisha langsung membawa Arkan kerumah sakit terdekat.
Tiba di rumah sakit, Arkan langsung di tangani dokter. Tak lama kemudian dokter keluar.
"Dok, bagaimana dengan Arkan?." Tanya Aisha berdiri tepat di depan dokter.
"Pasien mengalami usus buntu dan segera lakukan operasi, anda siapanya pasien?." Kata dokter.
__ADS_1
"Lakukan yang terbaik, dok. Saya kakaknya, dok."
"Baiklah, kamu tanda tangan disini dan lakukan pembayaran di loket."
"Baik, dok. Saya mohon selamatkan adik saya."
"Saya akan usahakan."
"Terimakasih, dok." Setelah dokter masuk kembali keruangan, Aisha pun langsung ke loket pembayaran.
"Aisha, bagaimana keadaan Arkan?." Tanya Arkan yang baru datang.
"Arkan mengalami usus buntu, sekarang masih di dalam. Maaf tadi aku langsung menyetujui operasinya, hiks... Hiks... Hiks... Aku takut Arkan kenapa-napa." Aisha langsung memeluk Kenan.
"Nggak apa-apa loe udah lakukan terbaik buat Arkan, udah loe tenang, ya." Kenan menenangkan Aisha, mengelus punggungnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jgn lupa like, vote dan komentarnya ya...
__ADS_1