
Pak Willy dan Pak Hendrawan datang ke perusahaan Om Roy, mereka mau meminta maaf.
"Tuan, di lobby ada Tuan Willy dan Tuan Hendrawan." Kata Asisten Sony.
"Meraka siapa Om?Apa rekan kerja Om?Kalau begitu aku pulang aja." Aisha merasa tak enak.
"Hufh, mereka itu Keluarga Ratu. Kamu tetap di sini saja." Om Roy mencegah Aisha untuk pulang.
"Ngga enak Om akunya."
"Aisha, perusahaan ini akan menjadi milik mu. Om ingin kamu cepat mengusai tentang bisnis, sehabis berbincang dengan keluarga Ratu. Om akan mengajarkan kamu tentang bisnis."
"Baiklah, Om."
"Sony, jemput mereka kebawah. Bilang pada mereka aku sudah menunggunya." Ucap Om Roy.
"Baik, Tuan." Asisten Sony mengundurkan diri.
"Dad, nanti Daddy ngga usah bicara dulu. Biar aku saja yang bicara, takut nanti Daddy salah bicara akan membuat kita celaka." Bisik Pak Willy.
"Iya-iya, terserah kamu." Pak Hendrawan menunduk, gara-gara ucapannya kemarin membuat perusahaan bangkrut dan keluarga hancur. Ia pun menyesali perbuatannya itu.
Asisten Sony menghampiri Pak Willy dan Pak Hendrawan.
"Maaf menunggu lama, mari ikuti saya. Tuan Arroyyan sudah menunggu kalian di ruangannya." Kata Assisten Sony sopan.
"Baik kalau begitu." Sahut Pak Willy. Pak Willy dan Pak Hendrawan mengikuti Asisten Sony.
Tak ada perbincangan selama perjalanan menuju ruangan Om Roy.
"Silakan, Tuan-tuan." Asisten Sony mempersilahkan Pak Willy dan Pak Hendrawan.
"Terimakasih." Ucap Pak Willy.
"Selamat siang Roy." Sapa Pak Willy.
__ADS_1
"Siang." Balas Om Roy datar.
"Om, jangan seperti itu kepada tamu." Kata Aisha menasehati Om Roy.
Pak Willy dan Pak Hendrawan menoleh ke sumber suara wanita, mereka terlihat bingung.
Mereka berdua menatap tak suka dengan Aisha, di sangka mereka Aisha wanita yang tidak benar.
"Ehhmm... Silakan kalian duduk." Om Roy mengerti dengan tatapan Pak Willy dan Pak Hendrawan, ia pun menghampiri Pak Willy dan Pak Hendrawan.
"Aisha, perkenalkan ini Pak Willy dan Pak Hendrawan... Pak Willy dan Pak Hendrawan perkenalkan ini Aisha Aliana Putri Assegaf, dia ini keponakan saya dari Abang saya Muhammad Ali Jusuf Assegaff." Kata Om Roy masih terlihat dingin.
"Masya Allah cantiknya, hai. Nak, perkenalkan saya Pak Willy Putra Hendrawan Sanjaya. Saya teman Papa mu dulu, ternyata dia udah nikah aja. Tidak memberitahu Om." Pak Willy senang melihat Aisha.
"Aku Aisha, Om. Wah! kalau Ayah ada pasti senang bisa ketemu dengan Om." Aisha tersenyum menutup kesedihan sambil mencium tangan Pak Willy, ia selalu sedih bila mengingat nama keluarganya yang telah meninggal. Lalu ia mencium tangan Pak Hendrawan.
"Saya Kakek Hendrawan Sanjaya." Singkat Pak Hendrawan, sebenarnya ia gugup karena baru kali ini ada anak yang mencium tangannya. Anak, menantu dan cucu bahkan istrinya tidak pernah mencium tangan. Apa yang dilakukan Aisha sebagi menghormati, Pak Hendrawan sangat mengagumi Aisha diam-diam.
"Apa yang kamu maksud, nak?Kalau ada ayah, emang Ali kemana?." Ucapan Aisha membuat Pak Willy bingung, Aisha menunduk. Om Roy melihat Aisha menunduk.
"Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun, kamu yang sabar ya. Nak, semoga Ayah, ibu dan adik-adik mu di terima amal ibadahnya. Dan di tempatkan di surga Allah. Amiin." Pak Willy mengelus punggung Aisha.
Aisha duduk di tengah-tengah Om Roy dan Pak Willy.
"Amiin Ya Robbal'alamin, terimakasih Om." Aisha menghapus airmatanya.
"Oia, kedatangan kalian kemari ada apa?." Om Roy berusaha tidak dingin, karena ia melihat perilaku Pak Willy pada Aisha. Terlihat seperti menyayangi Aisha dengan tulus.
"Begini Roy, saya dan Daddy ingin minta maaf atas kejadian kemarin."
"Iya, nak. Maafkan Bapak yang sudah tua ini, bicaranya sangat ngawur." Pak Hendrawan menatap Om Roy sendu.
Aisha memegang tangan Om Roy, seakan memberitahu kalau harus memaafkan mereka.
"Hufh, jujur saya sangat marah sekali. Perkataan Pak Hendrawan itu menghina keponakan saya ini, Kenan mencintai Aisha. Begitu juga sebaliknya. Mereka berdua saling mencintai sebelum datangnya Ratu, kebodohan Bang Devan memaksa Kenan bertunangan membuat mereka sakit. Tapi saya melihat kesungguhan Pak Willy dan Pak Hendrawan meminta maaf, saya akan maafkan. Tapi ada syaratnya." Om Roy menghela napas.
__ADS_1
"Jadi gadis ini yang Kenan cintai, Aisha dan Ratu beda jauh. Pantas saja Kenan sangat mencintai gadis ini. Aisha cantik tanpa make up tebal, sopan dan ramah. Sedangkan Ratu begitu banyak riasan, sombong dan keras kepala. Lebih baik aku memberitahu Ratu untuk tidak berurusan lagi dengan mereka dan ku ubah dia lebih baik." Kata Pak Hendrawan dalam hati.
"Apa syaratnya?." Tanya Pak Hendrawan.
"Batalkan pertunangan paksa ini dan jangan ganggu hubungan mereka." Jawab Om Roy.
"Maafkan kami Roy yang telah memaksa Devan melakukan seperti itu, karena putri ku terus merengek ingin bertunangan dengan Kenan. Putri ku sangat mencintai Kenan, tapi kalau Kenan tidak mencintai putri ku. Yah, mau di apakan lagi. Karena cinta itu tidak bisa di paksakan, apalagi yang di cintai Kenan itu gadis yang begitu kalah jauh dari Putri ku. Aku dan Daddy membatalkan pertunangan ini, jadi ku mohon kamu jangan memutuskan kerjasama yang kita jalin selama ini." Pak Willy memohon.
"Perusahaan akan saya pindahkan kepada Aisha, jadi dia yang berhak menentukan. Menurut kamu bagaimana?." Kata Om Roy.
"Iya, Nak. Bagaimana?." Pak Willy memohon harapan.
"Saya saat ini saya tidak mengerti tentang bisnis, jadi biarkan Om Roy yang mengerjakan. Tapi kalau soal masalah ini lebih baik tetap terjalin, karena sayang kalau berhenti di tengah jalan. Kasihan banyak karyawan yang akan jadi imbasnya." Kata Aisha.
"Masya Allah, kamu anak yang baik. Kakek sangat malu pada diri mu yang masih muda, sifatnya baik dan sangat mengagumkan. Tidak seperti Kakek yang sudah tua banyak tingkah ini." Pak Hendrawan terharu dengan apa yang dikatakan Aisha.
"Itulah Aisha dia itu selalu memikirkan perasaan oranglain di bandingi diri dia sendiri, karena keputusan Aisha seperti itu. Saya akan menuruti, perusahaan tetap menjalin kerjasama." Kata Om Roy.
Pak Willy dan Pak Hendrawan menjabat tangan Om Roy dan Aisha, lalu mereka pamit pulang.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like, Vote dan Komentarnya ya...
See you... 😘😘😘😘😘
__ADS_1