Cinta Kamu

Cinta Kamu
#49


__ADS_3

"Pagi semuanya." Kenan datang dengan wajah tampan dan bau parfum yang khas membuat Aisha klepek-klepek.


Aisha mendengar suara dan kecium bau parfum Kenan membuat dirinya terasa mencair, detak jantungnya berdebar sangat kencang. Aisha teringat kejadian semalam, hingga wajah menjadi merah merona.


"Sayang, wajahmu kenapa merah?apa kamu sakit?." Mami Selly panik.


"Ti-tidak, Mi. Aku berangkat dulu, ya. Sudah ada janji dengan Tika dan Bonny, Assalamualaikum semuanya." Aisha gugup dan buru-buru pergi.


"Ish! Ini anak kenapa lagi." Mami Selly menaruh tangannya di pinggang.


Kenan melihat tingkah Aisha, ia tersenyum.


"Pasti dia ngga akan melupakan kejadian tadi malam." Kata Kenan dalam hati.


"Hari kenapa Kenan dan Aisha bertingkah aneh?Mami curiga nih, kalian pasti ada apa-apanya." Mami Selly mendekati Kenan dan mencari-cari sesuatu.


"Ih! Mami, jangan dekat-dekat. Geli aku." Kenan berusaha menahan tubuh Mami Selly.


"Cepat katakan, apa yang kamu lakukan pada putri kesayangan Mami." Mami Selly menyelidiki.


"Aku ngga ngapa-ngapain Aisha, mungkin hari ini aku terlihat ganteng dan keren. Jadi dia salting, Mi." Ucap Pede Kenan.


"Pede banget kamu, Mami tetap ngga percaya sama kamu." Mami Selly menarik telinga Kenan.


"Aduh!, Mi. Sakit telinga aku, nanti kegantengan aku bisa hilang." Kenan tetap narsis, walau telinga di jewer.


"Mami ngga akan melepaskan kamu, sebelum kamu ceritakan ke Mami."

__ADS_1


"I-iya, Mi. Lepaskan dulu baru nanti Kenan ceritakan."


"Ngga, cepat ceritain."


"Mi, Papi semalam bawa bingkisan gede banget. Coba Mami periksa di ruang kerja Papi." Kenan membohongi Mami.


"Awas kamu, kalau kamu bohong." Ancam Mami Selly dan melepaskan tangannya di telinga Kenan.


"Suer, Mi. Coba lihat aja kalau Mami penasaran." Kenan mengangkat dua jari.


"Baiklah, Mami akan kesana." Mami Selly pergi menuju ruang kerja Papi Devan.


"Sebelum Mami marah lagi, gue cabut dulu." Kenan langsung berlari dan menuju ke motor kesayangannya.


Kenan melajukan motornya tanpa arahan yang jelas.


Aisha, Tika dan Bonny janji di sebuah cafe dekat kampus yang mereka incar. Mereka juga mengisi formulir pendaftaran mahasiswi baru yang sudah mereka ambil sebelumnya formulir pendaftaran.


"Loe yakin, sha. Mengambil jurusan kedokteran?." Tika memastikan.


"Insya Allah, aku yakin." Aisha tersenyum.


"Semangat, ya. Untuk menggapai citamu." Bonny bijak.


"So bijak, lo." Tika menyenggol lengan Bonny.


"Hehehe... sekali-kali bolehlah." Bonny membalas menyenggol Tika.

__ADS_1


Mereka tertawa bersama. Tika melihat Bella dia sedang bersama laki-laki yang sudah berumur.


"Guys, itu bukannya Bella ya?." Tika mencolek tangan kedua sahabatnya.


"Iya, sama siapa dia?." Kata Aisha.


"Biasa paling sama om-om." Bonny asal bicara.


"Hus, Bonny kamu jangan ngomong kaya gitu. Ngga baik, mungkin itu papanya Bella." Aisha menasehati Bonny.


"Iya, Ustadjah Aisha. Maafkan diriku ini." Bonny mengantupkan kedua tangannya.


"Hahaha... lebay loe." Tika melempar tisu ke arah Bonny.


"Ish, si kerempeng. Rasakan pembalasan gue." Bonny melempar kembali tisu kearah Tika.


"Kalian ini, kaya bocah kurang kasih sayang." Aisha.


"Sekarang loe sudah berani mengatai kita ya. Rasakan ajian kelitikan super Bonny." Bonny mengelitikan perut dan pinggang Aisha.


"Super Bonny, Hahaha... ada-ada aja loe, si es bon-bon." Tika tertawa geli.


"Hahaha... Ampun super Bonny... Hahahaha... Udah-udah aku cape." Aisha lemas.


"Sekarang giliran loe kerempeng." Bonny mendekati Tika.


"Sory gue mo ketoilet, lain kali aja." Tika langsung lari.

__ADS_1


"Dasar kerempeng." Bonny bercak pinggang.


__ADS_2