
"Itu tadi aku dan Arkan lihat kecoa lagi ciuman." Mami Selly melirik ke arah Kenan dan Aisha. Mendengar itu Aisha dan Kenan wajahnya memerah.
"Kalian berdua kenapa mukanya pada merah semua." Papi Devan menarik bangku.
"I-itu, aku kepedasan. Kegigit cabe." Aisha gugup dan berbohong.
"Aku kepanasan, gerah banget rasanya pagi ini. Benar kata Mami tadi." Kenan juga Gugup.
"Perasaan ngga panas dech." Om Roy merasa curiga.
"Sudah ah! sarapannya, yo. Sha, kita berangkat nanti kesiangan." Kenan menarik tangan Aisha.
"Mi, Pi, Om dan Arkan. Aku berangkat dulu ya, Assalamualaikum." Aisha pamit.
"Dasar anak muda." Mami Selly menggelengkan kepala.
Kenan terus menarik tangan Aisha hingga di motor.
"Nih pakai." Kenan memberikan helm ke Aisha.
"Terimakasih." Aisha senang.
__ADS_1
"Cepat naik." Kenan sudah naik motor dan menyuruh Aisha naik di belakang.
"I-Iya, maaf ya aku pegang pundak kamu." Aisha gugup, jantungnya berdetak kencang. Aisha memegang pundak Kenan dan duduk di belakang, karena motor Kenan tinggi Aisha agak susah untuk menaikinya. Jadi harus pegang pundak Kenan.
"Sudah, pegang nanti Loe jatuh." Kenan agak galak. Aisha dengan ragu melingkari tangannya ke perut Kenan.
"Ish! lama banget." Kenan menarik tangan Aisha dan melingkari ke perut Aisha.
"I-iya." Aisha malu-malu.
"Pegangan yang kuat, ya." Kenan menyalakan motornya, lalu melajukan motor kesayangannya dengan kencang.
Tak lama kemudian, mereka sampai di sekolahan. Semua mata melihat kedatangan Kenan dan Aisha begitu mesra pikir mereka.
"Loe mau sampai kapan kaya gini, cepat turun udah sampai." Kenan ketus.
"A-apa??." Aisha membuka mata dan melihat sekeliling, ternyata sudah sampai di sekolahan. Lalu Aisha turun dari motor dan seluruh badan gemetaran.
"Loe kenapa?." Kenan heran.
"Masih pakai nanya, ini gara-gara kamu. Aku ketakutan sampai mati." Aisha marah dan memberikan helm ke Kenan. Wajahnya sudah pucat dan seluruh badan gemetaran.
__ADS_1
"Hahaha... Baru segitu aja udah ketakutan, padahal gue nyetir motor hanya standar aja." Kenan tertawa melihat wajah lucu Aisha.
Aisha kesel, Kenan bukan minta maaf malah mengejeknya. Aisha pergi kekelas dengan jalan sempoyongan. Melihat Aisha pergi Kenan buru-buru mengambil kunci motor dan bergegas mengikuti Aisha.
"Aisha tunggu." Teriak Kenan, Aisha tidak memperdulikan Ia melanjutkan jalannya. Karena badannya masih gemetaran Aisha berjalan agak susah.
Tiba-tiba tubuhnya seperti melayang.
"Gue bilang tunggu ribet amat sih." Kenan menggendong Aisha dengan bridal style. Semua orang memandang Kenan dan Aisha.
"Wah! pangeran kita gentleman banget, mereka pasangan serasi. Gue iri pengen juga di gendong." Murid 1 kagum
"Ish!! apa-apaan itu Aisha sok cantik, pura-pura sakit." Murid 2 merasa iri.
"Awas loe Aisha, gue akan beri perhitungan buat loe. Bikin gara-gara dia sama gue." Bella geram dan mengepal tangannya.
"Ken, cepat turunin aku." Aisha berontak.
"Bisa diam ngga loe, kita ini di tangga bukan loe aja yang jatuh tapi kita berdua." Bentak Kenan, membuat Aisha diam. Aisha malu semua orang menatap, lalu ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Kenan. Aisha mendengar debaran jantung Kenan.
"Jantung Kenan berdebar kencang, apa Kenan merasa sakit menggendong aku. Ya Allah Ken, maafkan aku ya." Batin Aisha polos dan memegang dada bidang Aisha.
__ADS_1