
"Sayank kemana baby ester???" panik ray bertanya pada tisya.
"baby ester sama Alex" jawab tisya santai,Ray menghembuskan nafas leganya.
"apa kamu sudah selesai???" tanya ray
"Sudah" ujar tisya
"yaudah yuk kita pulang" ujar ray sambil mengambil tas milik tisya
Mereka pun berjalan beriringan keluar dari kamar rawat inap menuju parkiran mobil.Tampak dari kejauhan ada sepasang mata yang mengawasi gerak gerik mereka,tisya yang memang sangat peka akan situasi langsung memberi isyarat lewat tatapan mata pada anak buah yang ikut menjemput nya.
"Apa ada masalah???" tanya alex saat tisya sudah berada dalam mobil
"Apa kau tak tau ada seseorang yang memantau kita???" ujar tisya sambil mengangkat sebelah alisnya dan menatap alex yang tengah menggendong baby ester.
"Hah benarkah???" ujar alex sambil membulatkan matanya.
" Tampaknya kemampuanmu sudah menurun lex!!!Apa karena kau sudah tua jadi kemampuan mu sudah menurun????" ejek tisya
Alex yang mendengar ejekan tisya hanya bisa mendengus "Kau itu yang sudah tua Queen, kemampuanmu itu yang sudah menurun ada pengkhianat di dekatmu saja kau tidak tau dan tidak bisa mendeteksinya" ujar alex sembari menyindir ray yang tengah duduk di bagian kemudi disamping tisya.
__ADS_1
Ray hanya diam dengan mendengar sindiran dari Alex
"Siapa memangnya yang berani mengkhianati ku lex???" tanya tisya dengan nada dingin
alex hanya mengedikkan kedua bahunya " Cari saja sendiri" ujar alex cuek
" Apa dia ingin bertemu dengan malaikat pencabut nyawa jadi berani mengkhianatiku???" ujar tisya dengan nada dinginnya.
Mendengar kata kata tisya pias sudah wajah ray ada rasa ketakutan dalam benaknya.
" Dia memang ingin sekali bertemu dengan malaikat maut Queen,mungkin dia sudah bosan hidup" ujar alex semakin membuat pucat wajah ray.
"Kau baik baik saja ray???" tanya alex dengan senyum devilnya
"Lalu mengapa wajahmu pucat sekali???" tanya alex,mendengar kata alex tisya langsung menoleh ke arah ray.
"Ti-tidak aku tidak pucat,,,mungkin aku hanya kecapean saja" ujar ray berusaha menetralkan rasa gugupnya
Alex semakin tersenyum puas melihat rasa gugup dan takutnya ray.Mereka kembali dalam keheningan selama perjalanan hingga sampai di mansion tisya.
"Lex jika penguntit itu tertangkap kau harus cepat menghubungiku biar aku saja yang mengurusnya" ujar tisya
__ADS_1
"Apa kau yakin queen ???" tanya alex
"Memangnya kenapa???"ujar tisya balik bertanya
"yang benar saja kau baru melahirkan dan kau ingin meng-eksekusi orang???" tanya alex menatap tak percaya.
" memangnya kenapa?? aku ingin bereksperimen sudah lama aku tidak menghirup harumnya aroma darah" ujar tisya sambil tersenyum devil
" bukannya kemarin saat kau melahirkan kau sudah menghirup aroma darah ???" tanya alex
" itu beda lex gue pengen menguliti orang,lalu mengoyak perutnya dan mengambil jantungnya hahaha sangat menyenangkan sekali" ujar tisya sambil tertawa terbahak bahak.
"Dasar psikopat" ujar alex sambil mendengus kesal
Tanpa mereka sadari ada ray di balik pintu,mendengar kalimat sang istri dia langsung lemas tak mampu menopang tubuhnya sendiri.
" ya tuhan bagaimana ini jika tisya tau aku mengkhianatinya pasti aku akan di kuliti hingga tak berbentuk" gumam ray dengan nada gemetar
Disaat bersamaan tisya membuka pintu dan melihat ray sudah terduduk lemas di depan pintu kamar baby ester
"Ray??? Sedang apa kamu duduk di depan pintu??? Apa kau sakit???" tanya tisya sembari membantu ray berdiri.
__ADS_1
Ray hanya diam dan menatap manik sang istri lalu
" Aku ingin kita bercerai sya....."