
Esok pun tiba.
Faina bangun dari tidurnya dan berjalan menuju dapur. Sesampainya di dapur, dia melihat Reza tengah memasak nasi goreng dengan sangat fokus, tetapi yang membuat Faina kaget adalah kondisi dapurnya yang sudah sangat berantakan.
"Za"ujar Faina.
"hmm"
"Kamu ngapain?"ujar Faina.
"Masak, khusus buat kamu"ujar Reza yang membuat Faina tersenyum senang dalam hatinya
Untukku, ya Tuhan, kenapa jantung ku berdetak lebih kencang sih, batin Faina seraya memegang dadanya.
"Fai"
"FAINA"
__ADS_1
"Ish, kamu kok teriak sih, aku kan jadi kaget"ujar Faina.
"Maaf, kamu sih dipanggil-panggil dari tadi nggak nyahut-nyahut"ujar Reza dengan tangannya sudah memegang sepiring nasi goreng. "Cobain deh"lanjut Reza lalu menarik tangan Faina menuju meja makan.
Kenapa disaat aku sudah ingin menyerah, kamu bersikap seolah-olah membuat ku bertahan kembali Za, batin Faina sambil melirik Reza sebelum memakan nasi goreng itu.
Satu suap nasi goreng itu pun masuk kedalam mulut Faina, Faina pun melirik Reza, sebab nasi goreng ini sangatlah asin, sedangkan Reza, dia tersenyum lembut kearah Faina.
"Enak?, enak kan pastinya, Reza gitu, apasih yang nggak bisa oleh seorang Reza Anugrah"ujar Reza kepedean.
"Enak banget"ujar Faina, Faina tak ingin Reza kecewa kalau dia bilang nasi goreng ini sangat lah tidak enak, apalagi Faina adalah orang yang tidak suka makanan asin, tapi kasihan Reza jika dia bilang ini tidak enak, padahalkan Reza sudah susah payah membuatkannya.
Faina kaget, sungguh kaget, Reza tidak jijik, itu kan sendok bekasnya, berarti Reza telah mencuri ciumannya walau tidak disengaja.
Setelah memasukkan sendok itu kedalam mulutnya, Reza langsung mengeluarkan nasi itu kembali karena sungguh nasi itu sangatlah asin dan tidak layak dimakan, tapi apa kata Faina tadi, nasi ini enak, mungkin lidah Faina bermasalah saat ini.
"Fai, ini kan asin banget, kenapa kamu nggak bilang"ujar Reza lalu mengambil gelas dan menuangkan air lalu meminumnya.
__ADS_1
Faina hanya terdiam, dia terbeku dengan apa yang barusan terjadi, Reza memakai sendok yang keluar dari mulutnya dan mereka sudah berciuman begitu, astaga.
"Faina"ujar Reza memegang bahu Faina.
"I,,ya"ujar Faina gugup.
"Kamu kenapa?"tanya Reza melihat tingkah Faina berubah dan Faina terlihat sangatlah gugup.
"Za, tadi kamu makan pakai sendok bekas aku, kamu nggak jijik?"ujar Faina dengan raut wajah yang susah diartikan.
"Kamu kan istri aku, buat apa jijik, bahkan aku boleh melakukan yang lebih dari itu, bukan"ujar Reza.
"Za, kamu lupa atau pura-pura lupa sih, kan kamu sendiri yang buat perjanjian nikah kontrak. Kita cuman nikah satu tahun setelah itu tidak akan ada apa-apa lagi diantara kita"ujar Faina mengingatkan, Faina tidak suka dengan sikap Reza yang seperti sekarang, Faina akan susah melupakan Reza jika lelaki itu bersikap seperti ini, Faina ingin Reza yang dulu, dingin dan cuek kepadanya, bukan yang sekarang.
Reza yang mendengar kata-kata Faina menjadi tidak suka, moodnya berubah, kenapa disaat seperti ini Faina harus mengingatkannya sih, tapi benar juga, Reza yang membuat jarak diantara mereka, lantas kenapa Reza pula yang ingin jarak itu putus.
"Za, jangan pernah membuat seorang wanita berharap kepadamu, sebab kamu tidak akan tau bagaimana rasa sakitnya saat kamu meninggalkannya nanti. Aku harap kita kembali seperti dulu, sering bertengkar dan kamu bersikap dingin ke aku, supaya kita juga gampang pisah di satu tahun nanti"lanjut Faina lalu pergi meninggalkan Reza yang masih mencerna setiap bait kata yang Faina ucapkan.
__ADS_1
Aku akan sangat senang jika pernikahan ini sungguhan, tapi pernikahan ini hanyalah drama satu tahun yang kita harus lalui.