Cinta Yang Tak Biasa

Cinta Yang Tak Biasa
Selamat tinggal


__ADS_3

Esok pun tiba.


"Bi, biar Faina yang masak buat Reza hari ini"ujar Faina.


"Owh oke non kalau kayak gitu, mau bibi bantuan?"ujar bi Sinta.


"Nggak, nggak usah bi, saya mau sendiri aja masaknya"ujar Faina dan diangguki oleh bi Sinta.


Setelah memasak, Faina pun mengetuk pintu kamar Reza dan membangunkan lelaki itu.


"Ehmm ini enak banget, pokoknya bibi harus masak ini terus"ujar Reza makan dengan lahap membuat bi Sinta senyum-senyum sendiri.


"Bukan bibi yang masak den, tapi non Faina"ujar bi Sinta.


"Kamu yang masak Fai?"tanya Reza.


"Iya"ujar Faina.


"Pokoknya kamu harus masakin aku kayak gini terus yah, ini enak banget"ujar Reza dan Faina hanya tersenyum.


Ini terakhir kalinya aku masak buat kamu Za, karena setelah ini, kita hanyalah tinggal kenangan, batin Faina.


"Aku berangkat yah"ujar Reza saat sudah selesai makan, Reza benar-benar menyukai makanan itu sehingga dia menghabiskan 3 piring sekaligus.

__ADS_1


Faina pun langsung mengulurkan tangannya membuat Reza mengernyitkan dahinya heran.


"Za"ujar Faina lalu mengambil tangan Reza dan menciumnya untuk pertama dan terakhir kalinya.


Reza yang melihat Faina melakukan itupun membeku ditempatnya, jantungnya berdetak lebih cepat saat Faina menyentuhnya, apalagi saat Faina mencium tangannya membuat Reza begitu bahagia.


"Hati-hati dijalan"lanjut Faina lagi karena Reza terdiam.


"Iya"ujar Reza tersenyum lalu pergi.


Selamat tinggal Reza, batin Faina menatap mobil Reza yang dengan cepat meninggalkan halaman rumahnya.


Setelah kepergian Reza, Faina masuk kekamarnya dan mengambil surat perceraian yang dulu Reza berikan untuknya, tangannya bergerak susah payah menandatangani surat perceraian itu.


*Dear Reza.


Assalamualaikum Imamku, hari ini aku memutuskan untuk pergi, maaf tak bisa di sisimu lagi, aku jelas tau siapa yang kau cintai, dia yang terbaring lemah dirumah sakit itukan, itukan orang yang kamu cinta.


Aku cukup mengerti kalau aku hanyalah penghalang untuk kalian bersama dan merajut cinta seperti dulu, maka dari itu kuputuskan untuk pergi, surat perceraian yang kau berikan dulu sudah kutanda tangani. Semoga kamu dan Nisa bahagia.


Salam perpisahan, Faina*.


Air mata Faina jatuh kala menulis surat itu, sakit sekali hatinya jika mengingat cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, tapi Faina juga senang karena orang yang dicintainya akan bahagia bersama orang lain setelah ia pergi nanti.

__ADS_1


Faina pun membereskan kopernya, setelah itu dia bergegas kekamar Reza, untung jam segini bi Sinta menyiram tanaman dibelakang rumah, jadi gampang untuk Faina pergi.


Faina meletakkan surat-surat itu dimeja kamar Reza, pandangannya berputar memutari kamar itu, aroma tubuh Reza dikamar itu masih tercium di hidung Faina.


Setelah selesai menaruh surat itu, Faina pun segera pergi dengan cepat meninggalkan rumah Reza sebelum bi Sinta selesai menyiram tanaman.


💝💝💝


Sedangkan ditempat lain.


"Jadi kapan bos akan menyatakan cinta pada nona Faina?"ujar Fero.


"Dari mana kau tau kalau aku sudah mencintainya"ujar Reza sedikit terkejut.


"Bos itu kentara kalau sedang jatuh cinta dan entah kenapa saya yakin kalau bos mencintai nona"ujar Fero.


"Owh, aku tidak tau Fer kapan akan menyatakannya, menurutmu Faina mencintaiku atau tidak?"ujar Reza.


"Kalau dari saya sih bos, saya yakin kalau nona Faina juga mencintai bos, karena dari yang saya lihat, nona cemburu kalau bos dekat dengan Nisa"ujar Fero.


"Kau yakin Fer, aku tidak mau kalau cintaku harus bertepuk sebelah tangan untuk kedua kalinya"ujar Reza.


"Sangat yakin bos"ujar Fero yang membuat senyum dibibir Reza terbit.

__ADS_1


__ADS_2