
Malam pun tiba.
Reza hendak pulang kerumahnya, tapi teflonnya berbunyi, dia mengangkat telfonnya itu sembari menyetir mobilnya.
Dalam teflon.
"Halo"ujar Reza.
"Nak Reza ini tante kikan, tante dapat nomor kamu dari Nisa"ujar nyonya kikan.
"Owh yah tante, ada apa yah?"ujar Reza sedikit risih.
"Dari tadi Nisa menangis nak Reza, dia tidak mau makan, tante minta tolong bujuk dia yah, tante takut nanti dia tambah sakit"ujar nyonya kikan yang membuat Reza menjadi pusing, disatu sisi dia sudah tidak mau berhubung lagi dengan mantannya itu untuk menjaga perasaan istrinya, tapi disisi lain, dia merasa kasihan dengan Nisa, biar bagaimana pun Nisa pernah menjadi salah satu orang yang menjadi alasannya tersenyum.
"Yaudah tante, sebentar lagi saya kesana"ujar Reza.
"Kamu kerumah aja za, karena Nisa sudah keluar dari rumah sakit tadi sore"ujar nyanya kikan.
__ADS_1
"Iya tante, tante tinggal kirim alamat rumah tante"ujar Reza.
Setelah sambungan terputus, Reza pun menelfon Faina, tapi hp Faina tidak aktif, tak lama masuk notifikasi pesan dan itu dari nyonya kikan yang memberitahu alamat rumahnya.
Sesampainya Reza disana, Reza langsung disambut oleh nyonya kikan.
"Nisa ada dihalaman belakang rumah Za, kamu kesana aja, sekalian bawain dia makanan"ujar nyonya kikan memberikan sepiring nasi dengan beberapa lauk kepada Reza, Reza pun menerimanya dan bergegas ke halaman belakang rumah untuk bertemu Nisa.
"Kenapa Reza disini?"ujar tuan Buddin yang tiba-tiba datang di depan nyonya kikan.
"Dia sudah beristri, jangan kamu dekati dia dengan Nisa, biarkan Nisa mencari pendamping hidup yang lain, lelaki yang belum memiliki pasangan"ujar tuan Buddin.
"Kamu bilang kayak gini karena Faina anakmu kan, sedari dulu kamu memang tidak pernah menyayangi Nisa, kamu tidak pernah menyayangi Nisa seperti kamu menyayangi Faina"ujar nyonya kikan.
"Astagfirullah kikan, dari dulu aku selalu mendahulukan kebahagiaan Nisa dari pada Faina, kurang sayang apa lagi aku dengan Nisa"ujar tuan Buddin.
"Terserah apa katamu mas, kebahagiaan Nisa adalah Reza, dan kebahagiaan Nisa adalah segala-galanya bagiku"ujar nyonya Kikan lalu pergi dari hadapan tuan Buddin.
__ADS_1
Sedangkan Reza yang baru tiba dihalaman belakang rumah nyonya kikan melihat Nisa tengah menatap langit sambil sesekali air matanyanya terjatuh.
Reza mendekat dan duduk didekat kursi roda Nisa karena didekat kursi roda Nisa terdapat sebuah kursi, Nisa sempat terkejut saat melihat siapa yang datang, tapi mulutnya tidak bisa berucap apa-apa.
"Jangan seperti ini Nis, kamu menyakiti dirimu sendiri, makanlah"ujar Reza hendak menyuapi Nisa tapi Nisa malah memalingkan wajahnya, Reza menghela nafasnya lalu kembali berucap.
"Masih ingat dulu kamu bilang apa ke aku?"ujar Reza yang membuat Nisa kembali menoleh kearahnya. "Cinta tidak bisa dipaksakan. Kata-kata kamu itu yang membuatku sadar jika mencintai secara sepihak itu hanya akan membuat diri kita menderita, sebab itu aku melepasmu dulu, membiarkan mu menikah dengan pilihan mu sendiri"ujar Reza yang membuat air mata Nisa kembali jatuh, tapi kali ini air matanya jatuh lebih deras.
"Maaf jika aku menyakitimu Nis, tapi inilah kenyataannya, aku tidak bisa bersamamu lagi, aku mencintai Faina begitupun sebaliknya"ujar Reza lalu menghapus air mata Nisa dan mulai menyuapi gadis itu, Nisa pun membuka mulutnya dan memakan nasi itu sampai habis.
Setelah makan, Reza mengantar Nisa kekamarnya dan menggendong Nisa dari kursi roda keranjang Nisa.
Setelah itu, Reza pun bergegas pamit karena jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam dan Reza yakin Faina tengah cemas padanya.
Sesampainya dirumahnya, Reza melihat Faina tertidur disofa, Reza pun mendekat kearah Faina dan mencium kening wanita itu, lalu mengangkat Faina keranjangnya agar tidur Faina lebih nyenyak dan badan Faina tidak sakit.
"Good nigth sayang"ujar Reza sambil mengelus kepala Faina, setelah itu Reza mengganti pakaiannya dan ikut tidur disamping Faina sambil memeluk erat Faina.
__ADS_1