
"Fai, gue lihat dari tadi lo nggak fokus"ujar Disha yang saat ini tengah berada diruangan Faina. Yah Faina sudah datang dikantornya dan mulai bekerja, tapi sedari tadi dia hanya melamun dan pekerjaan yang ia kerja selalu salah.
"Gue, gue lagi badmood Dish"ujar Faina.
"Emang ada apa?, soal kekasih halal lo itu"ujar Disha.
"Siapa lagi kalau bukan itu"ujar Faina.
"Kenapa lagi dia?, apa dia ketemu sama mantannya itu"ujar Disha.
"Bukan Dish, dia berubah sama gue, sikapnya jadi lembut"ujar Faina.
"Bagus dong kalau kayak gitu Fai, terus apa yang lo permasalahin?"ujar Disha.
"Gue yakin kalau sifatnya itu cuman sesaat, atau dia hanya merasa bersalah sama gue"ujar Faina.
"Atau dia udah cinta sama lo Fai"uahr Disha.
"Mustahil"jawab Faina singkat, menurut Faina, mana mungkin Reza mencintainya, Reza hanya mencintai Nisa dan itu tak akan pernah berubah.
"Nggak ada yang mustahil kalau Allah sudah berkehendak Fai"ujar Disha.
"Iyain aja apa kata lo deh Disha"ujar Faina.
💝💝💝
Sedangkan ditempat lain.
__ADS_1
Nggak mungkin kan kalau gue suka sama Faina, iya nggak mungkin, gue cuman ngerasa bersalah aja sama dia makanya gue kayak gitu, batik Reza.
Reza juga sejak tadi sangatlah tidak fokus dikantornya, bahkan saat meeting dengan klien, Reza hanya diam dan tidak fokus pada meeting itu.
"Kalau cinta itu diungkapkan bos"ujar Fero masuk keruangan Reza.
"Lo yah Fer, kebiasaan kalau masuk ruangan gue nggak pernah ketuk pintu"ujar Reza kesal.
"Sorry Za, owh yah, kenapa dari tadi lo nggak fokus sih?, apa ini semua ada hubungannya sama Faina"ujar Fero.
"Nggak ada, gue hanya malas banget hari ini, nggak mood gue"ujar Reza bohong.
"Gue tau kalau lo bohong Za, kentara, owh yah gue kesini mau kasih surat ini buat lo tanda tangani"ujar Fero memberikan sebuah kertas.
Reza pun menandatanganinya dan Fero pun keluar dari ruangan Reza. Setelah kepergian Fero, Reza beranjak dari kursinya menuju cermin ruangannya.
"Apanya coba yang kentara, perasaan muka gue gitu-gitu aja"ujar Reza menatap wajahnya sendiri.
Reza dan Faina sudah berada dirumah mereka, Reza berada diruang tamu, sedangkan Faina berada dikamarnya.
"Den, makanan sudah bibi siapin, den sama non silahkan makan"ujar bi Sinta menghampiri Reza.
"Owh iya bi, bibi boleh istirahat, makasih ya"ujar Reza ramah.
"Permisi den"ujar bi Sinta lalu masuk kekamarnya.
Reza pun segera menuju kamar Faina dan mengetuknya.
__ADS_1
"Fai makanan sudah siap, makan yuk"ujar Reza.
Faina pun membuka pintu kamarnya itu.
"Duluan aja, aku masih sibuk"ujar Faina hendak masuk kembali ke kamarnya, tapi tangannya dicekal oleh Reza.
"Nanti kamu sakit kalau telat makan Fai"ujar Reza.
"Nggak kok Za, kamu duluan aja"ujar Faina dingin, Faina hanya tidak ingin bersama Reza dimeja makan, Faina tak ingin terlalu sering bertemu dengan Reza, sebab Faina takut rasa cinta yang ia tanamkan untuk Reza akan semakin berbuah dan kelak itu akan menyulitkan dirinya sendiri.
"Tapi Fai,,"ucapan Reza terpotong oleh suara telfonnya.
Reza pun mengangkat telfon itu karena penasaran, sebab nomor yang menelfonnya adalah nomor yang tidak ia kenali.
Dalam telfon.
"Reza aku kangen"ujar seorang wanita yang sangat dikenali oleh Reza, siapa lagi dia kalau bukan Nisa.
"Kamu ngapain Nis, ini udah malam dan dapat nomor aku dari mana?"ujar Reza.
Faina yang mendengar itu pun sudah tau jika pasti yang menghubungi suaminya adalah Nisa.
Faina pun segera masuk kekamarnya dan menutup pintunya dengan kencang membuat Reza terkejut.
"Nggak penting aku dapat dari mana, gimana kalau besok kita ketemuan, makan siang atau gimana gitu"ujar Nisa.
Dulu Reza ingin sekali Nisa seperti ini padanya, dulu setiap kali mendengar suara Nisa jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya, tapi entah kenapa saat ini dia biasa saja, bahkan dia malas jika harus berhubungan atau ketemu lagi dengan wanita yang bernama Nisa itu.
__ADS_1
Sekarang yang ia pusingkan dari hatinya adalah dia ingin dan mau terus membuat Faina bahagia, Reza juga sangat merasa kehilangan jika Faina tak ada disisinya, apakah ini sebuah rasa cinta, Reza sendiri pun tak tau.
"Maaf Nis, aku sibuk"ujar Reza lalu menutup telfon itu secara sepihak.