
Malam pun tiba.
Faina terus saja menelfon Nisa dari tadi, tapi hp Nisa tidak aktif, Faina pun memutuskan untuk menelfon Dion dan tak butuh waktu lama Dion pun mengangkat hpnya.
Dalam telfon.
"Halo Fai, makasih ya"ujar Dion dan membuat Faina heran untuk apa Dion berterima kasih.
"Makasih buat apa Dion?"tanya Faina.
"Aku sama Nisa udah baikan dan besok aku harap kamu sama keluarga kamu datang keacara pernikahan kami"ucap Dion yang membuat Faina menghembuskan nafasnya lega.
"Kamu serius kan Dion?"ujar Faina
"Bukan hanya serius Fai tapi dua rius"ujar Dion.
"Tapi kenapa hp Nisa tidak aktif Dion?"tanya Faina lagi untuk lebih memastikan.
"Owh, hp Nisa rusak Fai karena dia buang sembarangan waktu selesai telfonan sama kamu tadi siang, mungkin dia emosi, tapi sekarang kamu tenang aja Nisa udah nggak marah kok sama kamu, malah tadi dia nyuruh aku untuk telfon kamu jelasin semuanya dan suruh kamu untuk wajib datang besok, tapi malah kamu duluan yang nelfon aku"ucap Dion.
"Hmm Dion, apa Reza juga datang ke acara pernikahan kalian?"ujar Faina.
"Nggak Fai, kami juga ngundang Reza cuman dia lagi diluar negeri dan nggak bisa datang"ujar Dion yang membuat air mata Faina menetes.
"Owh yaudah deh, aku tutup ya, assalamualaikum"ucap Faina lalu mematikan telfonnya itu sebab dia tak mau jika Dion tau dia menangis dari suaranya.
*Sebentar lagi kamu pasti akan bahagia Fai, doakan Reza agar dia berhasil terapi kakinya diluar negeri dan dalam 3 bulan kehamilan kamu dia sudah bisa berjalan lagi, batin Dion.
Kenapa kamu setega ini sama aku Reza, padahal dulu aku mengira kalau kamu adalah lelaki yang bertanggung jawab, setidaknya tanggung jawab sama anakmu kalau kamu memang tidak bisa tanggung jawab sama aku, batin Faina sambil mengelus perutnya yang sudah membesar*.
Tok..Tok..Tok..
__ADS_1
Faina menghirup dalam-dalam nafasnya lalu ia hembuskan secara perlahan, itu dia lakukan agar dia menjadi lebih tenang.
Setelah itu dia pun membuka pintu kamarnya dan terpampanglah wajah cantik dan ayu Syifa dan nyonya Leli didepannya.
"Mama sama kak Syifa ada apa?"tanya Faina.
"Tadi baru aja mamanya Nisa telfon mama, Fai, dia ngundang kita semua untuk keacara pernikahan Nisa besok, kamu mau datangkan?"tanya Syifa.
"Pastilah aku datang kak"jawab Faina.
"Mama kira kamu nggak akan datang karena kecewa sama Nisa dan mamanya yang menyuruh kamu meninggalkan Reza dulu"ujar nyonya Leli yang membuat Faina heran dari mana mamanya tau soal nyonya Kikan yang memintanya bercerai dari Reza karena mengira jika Reza tidak mencintai Faina.
"Mama tau dari mana tentang hal itu?"tanya Faina.
"Mama tau semua tentang putrinya mama, kita kan punya ikatan batin"ujar nyonya Leli.
"Tapi nggak mungkin mama bisa tau gitu aja, mama Fai serius, mama tau dari mana soal itu semua?"ujar Faina.
"Mama lebih serius Fai, nggak usah dipikirin dari mana mama tau yang terpenting mama sudah tau semuanya"ujar nyonya Leli.
"Yaudah kamu tidur, kasihan bayi kamu, mama dan kak Syifa juga mau tidur, good nigth sayang"ujar nyonya Leli lalu memeluk Faina singkat dan berlalu kekamarnya begitu pula dengan Syifa.
*Mama tau darimana ya soal pembicaraan aku dan nyonya kikan waktu itu?, batin Faina bertanya-tanya.
Faina nggak usah tau jika ayahnya sendiri yang memberitahuku dulu tentang apa yang diucapkan kikan pada Faina, aku takutnya kikan akan marah pada mas Buddin nantinya, batin nyonya Leli*.
💜💜💜
Esok pun tiba.
Faina beserta keluarganya bersiap untuk menghadiri pesta pernikahan Nisa dan Dion.
__ADS_1
Setelah sampai disana, Faina berjalan kearah pengantin pria dan wanita yang sudah berdiri dialtar pernikahan, Faina tersenyum dan memeluk Nisa dan Nisa pun membalas pelukan Faina.
"Selamat atas pernikahannya ya Nisa, Dion, aku benar-benar berharap kalian pasangan sampai diakhirat kelak"ujar Faina.
"Iya Fai, makasih udah datang, dan aku doakan untuk kamu dan Reza juga"ucap Nisa yakin dan Faina hanya tersenyum menanggapi ucapan Nisa.
3 jam berlalu dan tamu undangan pun pulang satu persatu, dan sekarang yang tersisa hanyalah Faina beserta keluarganya, dan Nisa beserta keluarganya pula serta Dion dan keluarganya.
"Fai tante Kikan minta maaf ya sama kamu atas ucapan tante tempo lalu"ujar nyonya Kikan.
"Nggak usah dipikirin tante, Faina udah maafin tante sebelum tante minta maaf"ucap Faina tulus.
"Aku juga minta maaf ya Leli, aku merasa bersalah karena sudah merebut mas Buddin dari kamu dulu, seharusnya aku sadar jika tak pantas aku dekat dengan suami orang"ujar nyonya Kikan sambil memegang tangan nyonya Leli dengan lembut.
"Aku sudah memaafkan ku biarkan yang lalu berlalu, kita tak perlu mengingatnya lagi"ujar nyonya Leli.
"Fai, Rangga dan Ali sini peluk ayah sayang"ujar tuan Buddin lalu ketiga anaknya itu memeluknya dengan senang hati, tuan Buddin yang melihat Nisa menatap mereka dengan terharu pun memanggil Nisa dan memeluknya juga.
"Fai sayang ayah"ucap Faina.
"Ayah juga sayang Faina, Faina harus jaga kandunganmu nak, kamu harus janji sama ayah kalau kamu akan melahirkan secara normal dan kamu akan baik-baik saja"ujar tuan Buddin yang membuat Faina kembali memikirkan kata-kata Dokter kandungannya tempo hari yang mengatakan bisa saja jika kandungan Faina tidak kuat, keluarganya harus memilih antara dirinya atau calon anaknya yang diselamatkan.
"Ayah dan semuanya Faina boleh minta sesuatu"ujar Faina sambil menatap semua anggota keluarganya.
"Minta apa sayang?"ujar nyonya Leli.
"Jika nanti pada saat Faina lahiran dan terjadi sesuatu dan kalian harus memilih antara Faina atau calon bayi Faina, tolong pilihlah anak Faina untuk diselamatkan"ucap Faina yang membuat semua orang saling beradu pandangan.
"Fai kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, kamu dan anak kamu akan selamat, kak Rangga yakin itu"ucap Rangga.
"Iya, papa juga yakin jika anak papa dan cucu papa pasti kuat dan keduanya akan selamat"ucap tuan Buddin sambil mengelus lembut kepala Faina.
__ADS_1
**Jangan lupa like dan komen ya untuk menghargai cerita Author, jangan cuman menjadi pembaca tanpa jejak.
Makasih**.