
Reza, Fara, dan kedua orang tua Reza telah sampai dirumah tuan Buddin untuk menjenguk nyonya Kikan, begitu pun dengan nyonya Leli, Rangga, dan Syifa serta Ali dan Reyna.
Mereka mengetuk pintu rumah nyonya Kikan dan Nisa lah yang membuka pintunya.
"Tante"ujar Nisa lalu memeluk nyonya Leli, yah Nisa dan nyonya Leli memang sudah sangat dekat semenjak 3 tahun yang lalu. Setelah berpelukan dengan nyonya Leli, Nisa pun menyalimi semua orang yang datang secara bergantian.
"Bagaimana kabar mamamu nak?"tanya nyonya Tasya.
"Buruk tante, aku juga nggak tau kenapa mama diteror seperti ini"ujar Nisa dengan suara sedih.
"Nisa sayang, coba kamu ingat apa mama kamu punya musuh?"ujar nyonya Leli. Nisa pun berfikir sebentar lalu berucap.
"Aku nggak tau tan, mama jarang cerita ke aku tentang masalah pribadinya"ucap Nisa.
"Boleh kami ketemu sama mamamu?"tanya tuan Herman.
"Boleh, ini kamar mama, masuk aja"ucap Nisa dan semua orang yang datang kesitu pun masuk kedalam kamar nyonya Kikan.
Disana mereka dapat melihat kalau tuan Buddin sedang menyuapi nyonya Kikan dan nyonya Kikan hanya membuka mulutnya saat makanan itu menyentuh bibirnya lalu pandangannya terus mengarah kedepan, pandangannya seperti kosong dan memikul beban, mungkin karena dia terlalu takut dengan teror dan ancaman yang dia terima selama ini.
"Kalian sudah datang?"ujar tuan Buddin sambil tersenyum dan dibalas senyuman oleh semua orang yang ada disana.
"Kamu yang sabar yah mas, aku yakin Kikan akan kembali seperti dulu"ujar nyonya Leli ikut sedih melihat kondisi nyonya Kikan.
"Iya Buddin, atau kamu coba saja bawa Kikan ke psikiater mungkin mereka bisa membantu"ujar tuan Herman.
"Iya Herman, aku sama Nisa dan Dion memang berencana membawa Kikan kesana besok. Besok kami titip Satria dirumah kamu ya Reza"ujar tuan Buddin.
__ADS_1
"Iya pa, titip aja, biar Satria nanti main sama Fara"ujar Reza.
"Makasih ya nak Reza"ujar tuan Buddin
Malam pun tiba.
Keluarga nyonya Leli dan nyonya Tasya sudah pamit pulang sejak sore tadi.
"Kikan aku pergi dulu sebentar ya, kalau ada apa-apa kamu panggil Nisa aja"ujar tuan Buddin, tapi nyonya Kikan hanya terdiam tak berucap apapun.
Tuan Buddin pun melangkah pergi, tujuannya saat ini yaitu menghadiri pesta pernikahan anak temannya, sebenarnya pesta itu harus membawa pasangan kalau ada, tapi melihat kondisi nyonya Kikan saat ini, dia tidak tega harus membawanya.
Setelah kepergian tuan Buddin tiba-tiba air mata nyonya Kikan jatuh, dia kembali mengingat awal dirinya menjadi wanita penghibur diclub malam itu.
Flashback on
Saat pulang dari pemakaman, tiba-tiba datang dua orang yang berbadan besar.
"Kalian siapa?"tanya nyonya Kikan.
"Kami disuruh bos kami untuk membawa kamu"ujar salah satu orang itu.
"Kalian siapa?, aku tidak mengenal kalian"ujar nyonya Kikan.
"Ayahmu berutang banyak pada bos kami dan dia belum membayarnya sampai sekarang, belum lagi harga bunganya, rumah beserta perusahaan ayahmu tidak cukup menggantikan itu semua, jadi kami akan membawamu kerja dengan bos kami"ujar orang itu lagi.
"Tidak, aku tidak mau"ujar nyonya Kikan.
__ADS_1
"Kau harus ikut dengan kami mau atau tidak mau, ini bukan pilihan tapi perintah"ujar orang itu lagi lalu menyeret nyonya Kikan yang berusaha memberontak menuju mobilnya.
Flashback off
Itulah awal mula nyonya Kikan berada diclub malam itu. Air matanya kala mengingat kejadian itu turun begitu derasnya.
Prank
(Anggap aja suara pecahan)
"Itu apa yang pecah?"tanya nyonya Kikan pada dirinya sendiri, dia pun berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendelanya yang ternyata terbuka, angin malam yang begitu kencang membuat dirinya sedikit takut. Nyonya Kikan melihat kesana kemari lewat jendela kamarnya dan tiba-tiba pandangan matanya melihat sosok orang yang berlari kencang, orang itu mirip sekali dengan Faina.
Tidak Kikan itu hanya halusinasimu saja, batin nyonya Kikan.
Nyonya Kikan pun menutup jendela kamarnya dan langsung bersembunyi dibalik selimutnya.
"Kikan"terdengar suara seseorang membuat nyonya Kikan membuka kembali selimutnya dan melihat kesana kemari, tapi dia tak menemukan siapapun.
Tiba-tiba ada sebuah surat yang sudah diremas dan dibentuk menjadi bola mengenai badan nyonya Kikan.
"Siapa yang melempar surat ini?"tanya nyonya Kikan pada dirinya sendiri, dia pun membuka surat itu dan isi surat itu 'Temui aku ditaman dekat rumah mu kalau kamu mau selamat, tapi jangan sampai kau membawa orang lain, cukup kamu sendiri, kalau kau tidak menemui ku, aku tidak akan pernah tenang dialamku dan aku akan selalu meneror mu'.
**Jangan lupa like dan komen ya, aku akan tambah semangat buat up kalau kalian juga vote sebanyak mungkin.
Makasih
Salam manis Author😊**
__ADS_1