Cinta Yang Tak Biasa

Cinta Yang Tak Biasa
Bertemunya Rey dan Faina


__ADS_3

Reza dan Dion berbincang cukup lama sampai akhirnya Dion harus kembali lagi ke cafe miliknya karena ada sedikit masalah.


"Ma, pa, tante, om, dan Reza, saya izin antar Dion kedepan dulu yah"ujar Nisa dengan sopan.


"Iya sayang, hati-hati ya"ujar nyonya Kikan.


Dion dan Nisa pun jalan bersama sampai ditempat parkir mobil Dion.


"Nis, gue mau nanya sesuatu, boleh?"ujar Dion.


"Boleh, tanya apa?"jawab Nisa.


"Lo bisa nggak sih kasih liat gue foto istrinya Reza"ucap Dion.


"Untuk apa?"tanya Nisa heran.


"Gue cuman pengen liat aja wajah cewek yang udah berhasil naklukin hati Reza, kecuali lo"ujar Dion.


"Faina itu wanita cantik dan baik, kalau lo liat lo bisa naksir loh"ujar Nisa.


"Ha, naksir?, ya nggak lah, Faina kan istrinya Reza"ujar Dion.


Nisa pun langsung mengirimkan foto Faina ke hp Dion lewat media sosial.


"Gue udah kirim foto Faina ke hp lo lewat whatsaap, liat aja nanti gimana wajahnya"ujar Nisa.


"Ok Nis, thank you ya, gue duluan"ujar Dion lalu memasuki mobilnya dan pergi setelah mendapatkan anggukan dari Nisa.


Sedangkan ditempat lain.


Malam pun tiba dan Rangga belum pulang membuat Faina gelisah sehingga dari tadi dia cuman mondar-mandir di ruang keluarga.

__ADS_1


"Fai kamu itu kenapa sih?"tanya nyonya Leli yang melihat wajah gelisah anaknya.


"Ma, kak Rangga belum pulang"jawab Faina.


"Kamu kan tau nak kalau kakakmu tidak pernah pulang jam segini, biasanya kan kakakmu pulang jam 9.00 malam Fai, ini kan baru jam 8.00"ujar nyonya Leli.


"Iya ma aku tau, cuman kak Rangga udah janji sama aku untuk cepat pulang supaya kita bisa kerumah sakit jengukin Reza, aku takut waktu jengukinnya habis, nanti kita dilarang masuk lagi"ujar Faina.


"Udah tunggu dulu sebentar, mungkin sebentar lagi Rangga datang"ujar nyonya Leli.


"Iya Fai, kakak juga udah hubungin mas Rangga cuman nggak aktif dari tadi"ujar Syifa sambil memegang hpnya dan sesekali menghubungi hp Rangga.


"Atau gini deh kak Syifa,ma, aku pergi aja sendiri naik taxi kerumah sakit, aku bisa kok"ujar Faina.


"Jangan Fai, mama khawatir nanti kamu kenapa-napa, tunggu aja dulu kak Rangga pulang biar kita semua kesananya barengan"ujar nyonya Leli.


"Iya Fai, lagi pula kan kamu udah janji sama mas Rangga tadi pagi kalau kamu nggak akan kesana sendiri"ujar Syifa


Sudah satu jam lebih dia menunggu dan Rangga belum juga pulang.


"Ini udah lewat jam 9.00, kak Rangga tega banget sih ingkar janji sama aku, kalau kak Rangga ingkar janji berarti aku juga nggak papa ingkar janji, Ok Faina, ayok kita pergi"ujar Faina lalu mengunci pintu kamarnya.


Faina berniat untuk pergi sendiri kerumah sakit, dia membuka jendelanya dan memanjatnya sehingga dia berhasil keluar lewat jendela tersebut.


Maafin aku kak, ma, dan semuanya, aku nggak bisa tinggal diam dan santai didalam rumah sementara suamiku membutuhkan aku, batin Faina.


Faina berjalan menelusuri gelapnya malam, dan dia juga kedinginan sebab lupa memakai jaket.


"Taxi mana sih, dari tadi kok nggak lewat-lewat"ujar Faina. "Wah ada penjual rujak, beli deh"lanjut Faina sambil menelan ludahnya melihat buah-buahan di dalam gerobak rujak itu.


Saat Faina hendak menyebrangi jalan karena penjual rujak itu berada dijalan seberang tiba-tiba mobil melaju cepat kearahnya.

__ADS_1


"Ahkkkkkkkkkkkk"teriak Faina.


"Awas"ujar seseorang lalu menarik tubuh Faina sehingga mobil itu tidak menabrak tubuhnya.


Faina memejamkan matanya, dia benar-benar syok dengan apa yang barusan dialaminya.


"Kamu nggak papa?"tanya orang yang menolong Faina tadi.


Faina membuka matanya dan yang pertama kali dia lihat adalah wajah seseorang yang cukup ganteng menurutnya dan badan orang itu juga sangatlah bagus, orang itu juga sedikit berotot.


"Apa kamu malaikat pencabut nyawa?"tanya Faina membuat orang itu mengernyitkan dahinya heran, baru saja orang itu ingin menjawab pertanyaan Faina, tapi Faina berucap kembali. "Saya mohon jangan cabut nyawa saya sekarang pak pencabut nyawa, saya masih mau bertemu suami saya dan saat ini saya sedang hamil, saya mohon"ujar Faina sambil menangkupkan kedua tangannya membuat orang yang menolongnya tadi jadi tertawa terbahak-bahak.


"Ternyata kamu lucu juga"ujar orang itu disela tawanya.


"Maksudnya?, saya emang lucu dan saya tau itu tanpa pak pencabut nyawa bilang"ujar Faina.


"Perkenalkan saya Rey, bukan malaikat pencabut nyawa yang mba bilang, dan satu lagi mba belum meninggal karena tadi saya menolong mba sehingga mobil itu tidak menabrak tubuh mba yang berbadan dua ini"ujar Rey sambil mengulurkan tangannya.


Faina pun membalas uluran tangan Rey.


"Saya Faina. Kamu beneran bukan malaikat pencabut nyawa kan?"ujar Faina.


"Bukan mba"jawab Rey.


"Stop panggil saya mba!!" ujar Faina.


"Lalu saya panggil apa?, bagaimana kalau bu Faina saja"ujar Rey.


"Saya juga bukan ibu-ibu dan saya bukan mama atau guru kamu yang bisa kamu panggilkan ibu, panggil saja saya Faina. Kalau kamu panggil saya nama saja tampa embel-embel itu akan membuat kita lebih enak ngobrolnya,"


"Owh baik, Faina"ujar Rey sembari tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2