
Faina mengerjapkan matanya berulang kali, dia melihat kondisi sekitarnya dan sekarang dia berada disebuah ruangan serba putih.
"Non, mana yang sakit?"ujar bi Sinta.
"Bi, saya kenapa?"ujar Faina sambil memegang kepalanya.
"Non Fai tadi pingsan"ujar bi Sinta lembut.
"Pingsan?"ujar Faina dan bi Sinta hanya mengangguk.
"Permisi bu"ujar seorang Dokter yang menangani Faina.
"Iya, saya sakit apa yah Dok?"ujar Faina masih dalam keadaan lemas.
"Mba tidak sakit apa-apa"ujar Dokter itu.
"Terus kenapa saya bisa pingsan Dok?"ujar Faina.
"Karena, selamat ibu hamil"ujar Dokter itu yang membuat Faina syok.
"Hamil Dok?"tanya ulang Faina.
"Benar sekali bu"ujar Faina.
"Boleh saya tau umur janin saya Dok?"tanya Faina.
"Memang mba Faina sudah berapa lama tidak datang bulan?"tanya Dokter itu kembali.
"Sudah mau masuk 2 Minggu lebih sedikit Dok"ujar Faina.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya prediksi usia janin ibu sudah memasuki 3 minggu"ujar Dokter itu lagi.
Sebenarnya Faina bahagia karena dia hamil, tapi apakah sanggup dia bahagia sementara suaminya sedang sekarat ditempat lain.
"Non"ujar bi Sinta karena dia tau bagaimana sulitnya Faina saat ini, disatu sisi Faina bahagia karena dia hamil dan disisi lain dia bersedih karena suaminya mengalami kecelakaan.
"Bi saya,,,saya"ujar Faina terisak, bi Sinta pun langsung memeluk majikannya itu.
"Jangan sedih non, kasihan janin non nantinya"ujar bi Sinta berusaha menenangkan Faina.
Setelah menebus vitamin kehamilan untuk Faina, Faina dan bi Sinta pun kembali ke UGD tempat Reza ditangani dan ternyata disana sudah tidak ada Reza.
"Bi Reza mana?"tanya Faina kebingungan.
"Saya juga nggak tau non"ujar bi Sinta melirik kesana-kemari untuk mengetahui keberadaan Reza.
"Mba, mba mencari pasien yang tadi di disini yah?"tanya seorang suster.
"Dia sudah dipindahkan ke ruang ICU mba"ujar suster itu dan Faina langsung berlari kearah ruang ICU mengikuti denah yang ada fitnah sakit itu.
"Non jangan lari-lari, kasihan anaknya non Faina"ujar bi Sinta mengehentikan lari Faina, Faina yang tersadar kalau sekarang dia hamil pun menghentikan larinya dan berjalan cepat kearah ICU.
Dokter yang keluar dari ruangan Reza berpapasan dengan sampainya Faina keruangan itu.
"Dokter bagaimana keadaannya?"ujar Faina.
"Mba keluarga pasien yang kecelakaan itu yah?"ujar Dokter itu.
"Iya Dok, saya istrinya"ujar Faina.
__ADS_1
"Baik mba, jadi begini mba, suami mba mengalami koma, kepalanya mengalami pendarahan yang cukup fatal, bukan hanya itu kakinya juga mengalami kelumpuhan"ujar Dokter itu yang membuat Faina lagi-lagi menjatuhkan air matanya, tapi untuk saat ini Faina menghapus air mata itu dengan cepat dan berusaha tegar.
"Lalu kapan suami saya bisa sadar dok?, dan kapan suami saya bisa berjalan kembali?"ujar Faina.
"Bukan itu yang seharusnya mba tanyakan, yang seharusnya mba tanyakan adalah, apakah suami mba akan bisa melewati masa kritisnya atau tidak, sebab kebanyakan orang akan meninggal setelah kepalanya yang bermasalah karena semua saraf berada di otak, tapi semua kita serahkan hanya kepada Allah, kita hanya menunggu mukjizat datang mba"ujar Dokter itu.
Faina hanya terdiam mendengar semua itu, hatinya teriris dan batinnya tak siap kehilangan Reza, lalu bagaimana nasib janin yang ia kandung kalau Reza meninggal.
Ya Tuhan, jika kau ingin mengambil nyawa Reza maka ambillah nyawaku sehari sebelum kamu mengambil nyawanya karena aku pun tak siap jika harus kehilangan Reza, batin Faina yang mengingat kata-kata Reza waktu itu padanya, Faina sadar dia tak akan dapat merubah takdir dengan apapun itu, tapi saat ini dia berdoa agar Tuhan tidak mengabulkan doa Reza untuk meninggal sehari sebelum Faina meninggal karena Faina juga tak akan sanggup.
"Kalau begitu saya permisi dulu"ujar Dokter itu.
"Terimah kasih Dok"ujar bi Sinta karena Faina hanya terdiam tanpa membalas ucapan Dokter itu.
Setelah kepergian Dokter itu, bi Sinta pun mendekat kearah Faina yang menatap kosong kearah depannya, matanya tersirat begitu banyak luka, luka itu yang ia dapat sedari dirinya kecil hingga saat sekarang.
Faina melangkah menuju ruangan Reza, dia membuka pintu ruangan itu dan melihat suaminya tengah terbaring lemah dengan infus ditangannya, Faina yang melihat itu tak sanggup menahan air matanya, air matanya pun tumpah tanpa izin dari Faina.
Bi Sinta yang tidak tau harus berbuat apa-apa pun segera menghubungi keluarga Reza memberitahukan kabar buruk ini, bi Sinta juga menelfon keluarga Faina.
"Jangan tinggalkan aku Za"lirih Faina sambil memegang erat tangan Reza. "Reza Anugrah, namamu tersirat indah dihati ini, aku akan mengabulkan apapun yang kamu inginkan asal kamu bangun Za, tolong bangun"ujar Faina.
"Non"ujar bi Sinta memegang pundak Faina. "Mending non Faina pulang saja dirumah dulu, istirahat, kasihan anak dalam kandungannya non, dia juga butuh istirahat, biar saya saja yang menjaga den Reza disini"lanjut bi Sinta.
"Faina mau disini bi"ujar Faina.
"Tap,,"
"Jangan paksa saya bi"
__ADS_1
Bi Sinta pun akhirnya memilih mengalah dan duduk disofa dekat ruangan itu sambil terus memperhatikan gerak-gerik Faina sebab bi Sinta khawatir dengan kondisi Faina dan janinnya, sedangkan Faina sesekali air matanya jatuh di pipinya kala melihat orang yang ia cintai tengah sekarat dan mungkin semua orang juga akan seperti itu jika orang yang ia sayangi dan cintai terbaring lemah di sebuah ruangan yang ada di rumah sakit.
Jangan lupa vote, like dan komen yah.