
Esok pun tiba.
Faina bangun dari tidurnya dan sebuah tangan melingkar dipinggangnya, dia tersenyum kala melihat Reza tertidur lelap dihadapannya.
"Kamu tau Za memilikimu adalah kado terindah dalam hidupku"ujar Faina, tangannya terangkat mengelus lembut pipi Reza.
"Sudah puas menatapku sayang"ujar Reza yang ternyata sedari tadi dia sudah bangun dan dia mendengar ucapan Faina, hatinya juga sangat bahagia mendengar kata-kata Faina.
Faina langsung menarik tangannya dari pipi Reza karena sangat malu, tapi Reza malah menahan tangan Faina dipipinya.
"Aku suka melihatmu salah tingkah seperti ini sayang"ujar Reza membuat Faina tambah deg-degan, semakin lama Reza semakin mendekatkan dirinya kepada Faina, semakin dekat dan bunyi pintu kamar mereka membuat Reza dan Faina langsung terkejut, Reza pun langsung melepaskan Faina, dan Faina dengan cepat membukakan pintu kamarnya.
"Ada apa ma?"ujar Faina, orang yang mengetuk pintu kamar Faina dan Reza itu tak lain adalah nyonya Leli.
"Turun gih makan, setelah itu kita harus kerumah sakit karena siang nanti mama tidak bisa, banyak pasien di Puskesmas"ujar nyonya Leli dan diangguki oleh Faina.
Setelah kepergian nyonya Leli, Faina kembali menutup pintu kamarnya.
"Za kata mama kita disuruh turun untuk makan, setelah itu kita sama-sama kerumah sakit"ujar Faina yang membuat Reza mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Kerumah sakit, untuk apa?"ujar Reza.
"Jenguk Nisa, kenapa emangnya?"jawab Faina.
"Nggak kenapa-napa sih, yaudah deh aku mandi dulu baru turun"ujar Reza.
"Yaudah aku tunggu dibawah yah"ujar Faina.
"Nggak mau mandi bareng aku"ujar Reza yang langsung mendapatkan pelototan dari Faina. "Heheheh, bercanda Fai"lanjut Reza lalu memasuki kamar mandi, sedangkan Faina dia tersenyum melihat tingkah laku Reza.
Setelah mereka makan, mereka pun siap-siap untuk kerumah sakit, sesampainya mereka dirumah sakit, nyonya Leli langsung menuju kamar ruang inap Nisa diikuti oleh anak-anaknya, Reina dan Ali tidak ikut, mereka dititipkan pada bi Sinta.
Apa Faina benar-benar tidak ingin meninggalkan Reza, Reza kan mencintai Nisa begitupun sebaliknya, kenapa dia tidak mau mengerti, batin nyonya kikan.
"Bagaimana kondisi Nisa?"ujar nyonya Leli berusaha bersikap ramah, walau penghianatan nyonya kikan dan tuan Buddin masih terus berputar diotaknya dan membuat hatinya merasa ngilu.
"Besok Nisa sudah bisa pulang"ujar tuan Buddin karena nyonya kikan hanya diam saja.
"Reza kamu bisa kan menyuapi Nisa lagi, Nisa ingin disuapi olehmu nak, dia belum makan dari tadi malam"ujar nyonya kikan yang membuat Reza serta semua orang yang berada disitu mengalihkan pandangannya kearah Faina.
__ADS_1
"Kenapa kalian melihatku?"ujar Faina heran.
Aku yakin kalau Nisa dan Reza bukan hanya sekedar teman biasa, pasti mereka pernah mempunyai hubungan, batin nyonya Leli, karena tidak mungkin nyonya kikan menyuruh Reza menyuapi Nisa jika bukan dari permintaan Nisa sendiri.
"Sayang apa kamu tidak akan cemburu kalau aku menyuapinya?"ujar Reza, Nisa yang mendengar itu pun merasa sakit dihatinya, Reza sudah memanggil Faina dengan kata sayang, apa mereka sudah mencintai?, itulah salah satu pertanyaan yang timbul dibenak Nisa.
"Suapi saja, tidak apa-apa"ujar Faina sedikit malu, sebab Reza memanggilnya sayang didepan keluarganya.
Reza pun segera menyuapi Nisa, tapi Nisa malah memalingkan wajahnya.
"Nisa, kenapa nak?"ujar nyonya kikan memberikan Nisa kertas dan pensil.
tangan Nisa pun bergerak menulis di kertas itu dengan susah payah.
Aku tidak ingin disuapi olehnya lagi, itulah yang ditulis oleh Nisa.
"Kenapa sayang?"ujar nyonya kikan heran karena kemarin anaknya yang meminta untuk Reza menyuapinya dan ingin jika lelaki itu selalu ada disisinya.
Suruh dia pergi, aku tidak butuh dikasihani, tulis Nisa lagi, air mata Nisa sudah jatuh di pelupuk matanya.
__ADS_1
Sakit, sangat sakit saat tau orang yang kita kira akan bisa melindungi kita dan memberikan kita limpahan curahan cinta ternyata sudah mencintai orang lain, sudah memanggil perempuan lain dengan kata sayang, terlebih lagi perempuan itu adalah saudara tiri kita sendiri.