
Setelah pergi dari cafe itu, Faina memutuskan untuk kerumah Reza, dia merindukan lelaki itu walau Faina sendiri tau jika Reza pasti tidak akan mau bertemu dengannya.
Sesampainya Faina disana, dia mengetuk pintu rumah Reza berkali-kali, tapi tidak ada yang membukakan pintunya.
"Mba Faina cari siapa?"ujar tetangga Reza yang lewat dan melihat Faina.
"Aku cari Reza, dari tadi aku mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban"ujar Faina.
" Mas Reza baru saja berangkat keluar negri bersama kedua orang tuanya dan pembantunya juga diliburkan makanya rumahnya kosong sekarang"ucap tetangga Reza itu.
Apa Reza benar-benar tidak ingin melihatku itu sebabnya dia pergi keluar negeri, batin Faina kecewa.
"Sejak kapan mereka pergi mba?"tanya Faina.
"baru saja mba Faina, mungkin sekitar satu jam yang lalu"ujar tetangga Faina.
"Owh iya, terima kasih infonya"ujar Faina lalu melangkahkan kakinya untuk pulang kerumahnya.
Sesampainya Faina dirumahnya, dia memasuki kamarnya dan menatap foto pernikahannya dengan Reza.
"Kamu jahat Za, kenapa kamu menghindari aku, baiklah aku benar-benar sudah yakin jika kamu akan baik-baik aja tanpa aku, kamu tenang aja setelah bayi kita lahir, aku akan menandatangi surat cerai yang kamu berikan dulu"ujar Faina yang kembali mengingat jika Reza sudah memberikannya surat cerai pada saat mereka baru sehari menikah.
Faina mengusap air matanya dan mengambil hpnya untuk menghubungi Nisa, dia tidak mau gara-gara dirinya Nisa dan Dion harus batal menikah, dia harus meyakinkan Nisa jika Dion benar-benar mencintainya.
Dalam telfon.
__ADS_1
"Halo Nis"
"Iya Fai, ada apa?"ujar Nisa.
"Nisa bisakah kita bertemu, aku ingin bicara hal yang penting kepadamu"ujar Faina.
"Maaf Fai, aku sibuk dan nggak punya waktu untuk ketemu hari ini, next time yah"ujar Nisa lalu mematikan telfon sepihak.
*Ya Allah, aku harus bagaimana?, batin Faina.
💜💜💜*
Sedangkan ditempat lain.
setelah mematikan telfon sepihak dari Faina, Nisa meleparkan hpnya kesembarang tempat.
Tok...Tok...Tok.
"Siapa?"tanya Nisa yang mendengar pintu kamarnya diketuk.
Hening.
"Siapa?"tanya Nisa lagi, tapi tetap saja tidak ada yang bersuara.
Nisa pun membuka pintu kamarnya dan dia langsung dipeluk oleh orang yang mengetuk pintu kamar itu, siapa lagi kalau bukan Dion pelakunya.
__ADS_1
"Lepas!!"ujar Nisa berusaha melepaskan pelukan Dion, tapi tenaga Dion lebih kuat dibandingkan dengan tenaga Nisa.
"Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, aku minta maaf Nisa, aku sudah yakin jika aku mencintaimu, saat kamu mengucapkan ingin mengakhiri hubungan ini, hatiku merasa tidak rela, kumohon beri aku satu kesempatan lagi"ucap Dion.
"Lepas Dion"ucap Nisa dan Dion menggeleng tanda dia tak ingin melepaskan Nisa. "Lepasin aku atau aku akan pergi ke mama sekarang dan bilang kalau kita tidak jadi menikah"lanjut Nisa yang membuat Dion pasrah dan melepaskan pelukannya.
"Maaf Nis, beri aku satu kesempatan lagi"ujar Dion.
"Apa jaminannya jika kamu tidak akan menyakiti hati aku lagi setelah aku memberikan kesempatan itu"ujar Nisa.
"Aku takut berjanji, aku takut tidak bisa menepatinya"ujar Dion.
"Lalu?"tanya Nisa yang mulai kembali ragu.
"Aku akan terus berusaha membuat mu bahagia dengan sekuat tenaga ku Nis, aku tidak bisa berjanji disaat seperti ini karena aku tidak bisa menjamin jika itu akan terlaksana atau tidak, tapi aku akan terus berusaha"ucap Dion, Nisa dengan sangat teliti memperhatikan manik mata Dion mencari kebohongan dimata lelaki itu, tapi yang dia dapatkan hanyalah tatapan lembut dan kejujuran yang membuat hatinya bergetar.
"Baiklah, aku akan kasih kamu satu kesempatan lagi, sekarang pulanglah"ujar Nisa hendak masuk kedalam kamarnya, tapi tangannya ditahan oleh Dion.
"Kamu ngusir aku"ujar Dion.
"Kalau kamu ngerasa, yaiya"ucap Nisa yang masih berbalik badan dan tanpa Dion ketahui Nisa tersenyum sedikit.
"Jahat banget, awas ya nanti kalau kamu udah jadi istri aku, aku akan buat kamu tepar seharian diatas tempat tidur"ujar Dion.
"Dasar pria mesum, sana pulang, tadi katanya mau ngebahagiain, nyatanya sekarang udah berani ngancem aku lagi"ujar Nisa yang hatinya sudah berbunga-bunga.
__ADS_1
"Baiklah ratuku, aku akan pulang"ujar Dion lalu mendekatkan mulutnya ditelinga Nisa. "Siapkan dirimu besok malam ya, disaat kita sudah resmi jadi pasangan suami istri karena aku orangnya suka nambah"bisik Dion yang membuat Nisa geli sendiri membayangkannya, Nisa pun dengan cepat melepaskan genggaman Dion dan langsung masuk kedalam kamarnya dan mengunci kamarnya itu.
"Makasih Fai, dengan aku bertemu dengan dirimu tadi sekarang aku yakin jika keputusan yang aku ambil ini adalah jalan yang paling baik. Aku mencintaimu Nisa"ujar Dion lalu berpamitan pada nyonya Kikan dan tuan Buddin untuk pulang kerumahnya.