
Esok pun tiba.
Faina sudah bangun sejak tadi dan yang dia kerjakan hanya menatap wajah Reza dan membersihkan tubuh suaminya itu, Faina benar-benar begitu sangat merindukan Reza, semua gombalan dan tingkah berlebihan Reza membuat Faina sangat rindu lelaki itu.
"Bagaimana kondisinya sekarang nak?"ujar nyonya Tasya yang baru saja datang bersama dengan tuan Herman.
"Masih tetap sama ma"jawab Faina lemas.
"Fai bagaimana kalau kita kontrol kandungan kamu, mama temenin chek up yah"ujar nyonya Tasya yang khawatir dengan kondisi janin Faina.
"Tidak ma, aku tidak ingin pergi kemana-mana sampai suamiku sadar"ujar Faina.
"Tapi nak,,"ujar nyonya Tasya terpotong.
"Tolong jangan paksa aku ma"ujar Faina dengan air mata yang sudah jatuh dari pelupuk mata gadis itu.
"Jangan menangis nak, tangisanmu akan membuat Reza juga ikut bersedih"ujar nyonya Tasya sambil memeluk menantunya itu, sebenarnya nyonya Tasya juga sangat sedih melihat anak lelaki satu-satunya terbaring diruangan rumah sakit itu apalagi saat ini anak perempuannya tidak berada dinegara yang sama dengannya, tapi dia berusaha kuat untuk menguatkan menantunya yang pasti lebih terpukul apalagi dengan keadaan Faina yang tengah berbadan dua itu.
💜💜💜
__ADS_1
2 bulan berlalu dan kondisi Reza tetap sama dan tidak ada perubahan apapun, hanya saja terkadang tangannya bergerak sendiri saat Faina mengajaknya berbicara tentang kandungan Faina, atau saat Faina menempelkan tangan Reza keperutnya.
Nisa, nyonya Kikan serta tuan Buddin juga sering datang kerumah sakit untuk menjenguk Reza, nyonya Kikan pun sudah minta maaf pada Faina tentang perkataannya beberapa waktu lalu yang menyuruh Faina meninggalkan Reza hanya karena berfikir bahwa Reza masih mencintai Nisa.
Selama 2 bulan itu pun Faina tidak pernah chek kandungannya ke Dokter karena tak ingin meninggalkan Reza, walau sudah dipaksa oleh nyonya Tasya bahkan nyonya Leli tapi tetap saja wanita itu tidak beranjak dari ruangan Reza untuk mengecek kandungannya.
Nisa dan Dion pun sering kali bertemu atau menghabiskan waktu, awal mereka jalan Dion sering sekali membahas tentang wanita yang ia cinta hanya dalam satu kali pandang itu yang tak lain adalah Faina, tapi akhir-akhir ini Dion sudah tak lagi membahas Faina pada Nisa.
Dan hari ini masih sama dengan hari-hari biasanya, Faina tetap saja menunggu Reza untuk sadarkan diri dengan sesekali air matanya terjatuh. Setelah puas memandangi wajah Reza, Faina pun terlelap dalam tidurnya.
💜💜💜
Faina berlari kearah Reza dengan sangat bahagia, tapi langkahnya terhenti kala mendengar suara Reza.
"Berhenti disitu sayang dan jangan mendekat lagi"ujar Reza dengan suara yang begitu dingin.
"Tapi kenapa?, aku merindukanmu Za, ayo kita pulang, apa kau tidak merindukan aku?"ujar Faina bingung.
"Karena aku akan pergi ke tempatku yang baru Fai, aku merindukan mu, tapi belum saatnya kita bersama lagi"ujar Reza yang membuat tangis Faina pecah.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku Za, jangan kumohon!!!"ujar Faina sambil menatap bayangan Reza yang mulai menghilang.
"Fai, Faina bangun nak"ujar nyonya Tasya sambil menggoyangkan tubuh Faina dengan lembut karena mendengar Faina mengigau dengan air mata Faina yang jatuh.
Faina pun membuka matanya dan memperhatikan sekelilingnya dan dia bernafas lega saat melihat Reza masih berada dihadapannya.
"Ada apa?"tanya nyonya Tasya melihat raut wajah sedih Faina.
"Aku mimpi buruk ma"jawab Faina sambil melap sisa air matanya.
"Mimpi hanya bunga tidur nak, mimpimu tak akan terjadi"ujar nyonya Tasya yang sudah bisa menebak apa mimpi menantunya karena tadi dia mendengar Faina mengigau nama Reza.
"Aku harap juga seperti itu ma"jawab Faina sambil memeluk tubuh nyonya Tasya dan nyonya Tasya pun membalas pelukan menantunya itu.
"Fai,,,na"ujar Reza sambil membuka matanya dengan perlahan, tangan Reza juga memegang kepalanya yang terasa sangat pusing.
Faina yang mendengar suara Reza pun langsung melepaskan pelukan nyonya Tasya dan menatap kearah tempat tidur Reza dan benar Reza sudah membuka matanya.
"Za, apa ini nyata?"ujar Faina dengan air mata yang sudah jatuh dari matanya, air mata itu adalah air mata kebahagiaan melihat suaminya sudah sadar.
__ADS_1