
Faina dan Reza pun pamit pada bu Sherly untuk pulang.
Sesampainya mereka dirumahnya, tiba-tiba hp Reza berdering, Reza yang saat itu tengah dikamar mandi tidak dapat mendengar hpnya yang terletak dimeja kamarnya.
Faina pun mengambil hp Reza dan melihat siapa yang meneflon Reza dan ternyata terletak nama 'tante kikan', hp Reza pun mati dan berdering kembali, Faina pun mengangkat hp itu.
Dalam telfon.
"Nak Reza bisa kesini lagi kan, Nisa membutuhkan nak Reza disini"ujar nyonya kikan.
"Rezanya ada dikamar mandi tante, saya Faina, nanti saya sampaikan pada Reza"ujar Faina.
"Saya minta tolong Fai, izinkan Reza meluangkan waktunya bersama Nisa dulu, kasihan Nisa, dia sudah berharap jika Reza bisa menjadi pelindungnya, tapi waktu dia kembali kesini ternyata Reza sudah menikah dengan kamu"ujar nyonya Kikan.
"Iya tante, saya mengerti kondisi Nisa saat ini"ujar Faina walau dalam hatinya dia tak ingin jika suaminya pergi, tapi saat ini mungkin inilah yang terbaik, membiarkan Reza meluangkan waktu untuk Nisa.
Sambungan itupun terputus dan Faina meletakkan hp Reza kembali kemeja.
"Siapa yang nelfon Fai?"ujar Reza yang melihat Faina meletakkan hpnya dan Reza sudah menebak jika Faina mengangkat telfon di hpnya itu.
__ADS_1
"Tante kikan"ujar Faina yang membuat Reza sedikit terkejut, Reza takut Faina akan marah dengan dia karena kemarin Reza kerumah Nisa tanpa bilang dulu pada Faina, terlebih lagi Faina tertidur disofa, dan Reza yakin jika Faina menunggunya hingga tertidur.
"Bilang apa?"ujar Reza.
"Tante kikan pengen kamu nemuin Nisa lagi"ujar Faina dengan tatapan yang sulit diartikan membuat Reza semakin takut jika Faina marah padanya.
"Maaf"ujar Reza.
"Untuk apa?"tanya Faina.
"Kemarin aku kerumah Nisa tanpa bilang dulu ke kamu, dan kalau kamu nggak ngijinin aku pergi nemuin Nisa sekarang, aku nggak akan pergi"ujar Reza yang membuat Faina tersenyum karena Reza sudah jujur padanya tanpa harus Faina desak dulu untuk Reza jujur.
"I love you more Fai"ujar Reza.
"I love you too Za"ujar Faina.
Setelah selesai mengganti bajunya, Reza pun segera memasuki mobilnya, tapi suara teriakan Faina menghentikan langkahnya.
"Tunggu Za!!!"ujar Faina berlari dengan sebuah rantang ditangannya.
__ADS_1
"Kenapa Fai?"ujar Reza.
"Ini, buat Nisa"ujar Faina memberikan rantang yang dia bawa.
"Ini apa?"tanya Reza
"Brownis"ujar Faina, Reza pun mengambil rantang itu dan membuka pintu mobilnya, tapi tangannya ditahan oleh Faina, Reza pun mengalihkan pandangannya ke Faina seraya mengernyitkan dahinya tanda bingung.
"Sampaiin salam aku buat Nisa"ujar Faina.
"Iya, nanti aku sampaikan, yaudah aku pergi, by"ujar Reza seraya tersenyum lembut kearah Faina, Reza pun membuka pintu mobilnya lagi, tapi lagi-lagi tangannya ditahan oleh Faina.
"Apa lagi Fai, kalau kamu nggak mau aku pergi, kamu tinggal bilang, aku nggak akan pergi"ujar Reza, Reza berharap Faina mengatakan jikalau dia tak ingin Reza pergi menemui Nisa, karena jika Faina mengatakan itu maka selamanya Reza tak akan lagi menemui Nisa apapun alasannya.
"Aku mencintaimu Za, jaga kepercayaan aku"ujar Faina lalu mencium pipi Reza untuk pertama kalinya membuat Reza menegang sekaligus bahagia.
Setelah Faina mencium pipi Reza, Faina pun langsung berlari memasuki rumahnya, membiarkan Reza yang mematung ditempatnya, sebab pipi Faina pun memerah sesudah mencium pipi Reza tadi, dan Faina tak ingin Reza menggodanya karena pipinya yang memerah.
Kamu sudah berani Fai, tunggu saja aku pulang dari rumah Nisa, kamu akan dapat hukumannya, batin Reza seraya memegang pipinya bekas ciuman Faina, dan bibirnya terus saja menyunggingkan senyuman.
__ADS_1