
Dion mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata sambil memukul stirnya sekali-kali, dia benar-benar pusing kenapa Faina harus sudah jadi milik orang lain dan kenapa orang itu adalah Reza.
Dion berhenti disalah satu Restoran dan memilih untuk makan karena tenaganya sudah habis.
"Dion!"panggil seorang wanita yang melihat Dion duduk sendiri disalah satu meja restoran dengan makanan yang sudah Dion pesan.
Dion berbalik kearah suara itu dan matanya menangkap sosok Nisa.
"Hey Nis"ujar Dion, Nisa pun duduk di salah satu kursi dimeja Dion.
"Lo lagi nunggu seseorang?"tanya Nisa karena tak biasanya Dion makan sendiri disebuah restoran.
"Nggak, gue lagi pengen sendiri aja"ujar Dion dingin dan membuat Nisa mengernyitkan dahinya heran.
"Lo kenapa?, tumben dingin"ujar Nisa.
"Lo nggak salah kirim foto wajah istrinya Reza kan Nis?"ujar Dion masih berharap jika Faina yang disukainya bukan Faina istri sahabatnya.
"Nggak kok, emang kenapa?"tanya Nisa dan Dion pun menghembuskan nafasnya kasar karena harapannya tak sesuai dengan kenyataan.
"Nggak papa"ujar Dion berusaha tersenyum walau hatinya sedikit sakit, Dion pun bingung kenapa dirinya tidak terlalu kecewa padahal ini sudah dua kalinya dia harus mengalah demi sahabatnya.
"Dion gimana kalau kita pacaran"ucap Nisa sambil menatap Dion. Dion yang sedang meminum jusnya pun tersendak kaget dengan ucapan Nisa. "Astaga lo nggak papa?"tanya Nisa sambil memegang tangan Dion, Dion dengan cepat menarik tangannya yang dipegang Nisa karena jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
"Lo ngomong apa sih Nis, jangan ngaco deh"ucap Dion dengan raut wajah serius.
"Gue nggak ngaco, yang tadi gue bilang itu serius"ujar Nisa.
"Lo udah nggak waras, gue cabut yah"ujar Dion hendak beranjak dari kursinya, tapi langkahnya terhenti dengan teriakan Nisa.
"Dion tunggu!!!"teriak Nisa.
"Apa lagi sih Nis?"ujar Dion.
__ADS_1
"Gimana jawabannya, lo tau nggak sih lo itu adalah orang pertama yang gue ajak pacaran kayak tadi, seharusnya lo bersyukur"ujar Nisa.
"Gimana gue bersyukur kalau lo itu hanya bercanda Nisa"ujar Dion.
"Gue nggak bercanda, gue serius"ujar Nisa.
"Alasannya?"
"Karena kita sama-sama jomblo"jawab Nisa.
"Yang lain"
"Karena gue mau membuka hati gue buat lo, gue nyaman jalan sama lo akhir-akhir ini Dion, dan mungkin ini saatnya gue kembali menjalin hubungan asmara"ujar Nisa, Dion pun tak bisa menutupi hatinya jika dia juga nyaman akhir-akhir ini jalan dengan Nisa sampai dia lupa untuk mencari Faina dan memikirkan Faina. "Kita coba dulu, kalau dalam waktu satu bulan kita belum sama-sama mencintai, kita akhiri hubungan kita dan kembali menjadi teman"lanjut Nisa.
Gue pernah mencintai lo Nis, mungkin nggak akan susah untuk gue membuka perasaan gue buat lo lagi dan melupakan Faina, karena sampai kapanpun gue dan Faina nggak akan pernah bersama karena Faina sudah menikah dengan sahabat gue, batin Dion.
"Ok gue setuju, satu bulan kan waktunya?"ujar Dion.
"Iya. Karena ini adalah hari jadian kita, gimana kalau kita jalan berdua ketaman, kayaknya seru"ujar Nisa.
💜💜💜
Sedangkan ditempat lain.
4 Bulan kemudian.
Kehamilan Faina sudah memasuki bulan ketujuh, dan selama 4 bulan ini dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan Reza atau bahkan kontakan dengan Reza tidak pernah.
Rey, orang suruhan Reza pun selalu memantau gerak-gerik Faina dari jauh dan melaporkannya dengan Reza.
Reza juga belum bisa berjalan, kata Dokter kemungkinan kecil bagi Reza bisa berjalan seperti dulu lagi dan saat ini Reza sudah putus asa dan sedikit hilang harapan untuk kembali berjalan.
Urusan kerjaan Reza pun kebanyakan ditugaskan kepada Fero, Fero hanya datang kerumah Reza jika ada yang perlu ditanda tangani oleh Reza secara langsung, Reza pun memantau urusan perusahaannya dari Gmail yang dikirimkan Fero.
__ADS_1
Hari ini Faina akan pergi chek kandungannya kepada Dokter, Faina berharap anaknya tidak akan lahir secara prematur dan tidak cacat sedikitpun, Faina juga sudah bisa sedikit menerima semua ketentuan Allah terhadap kehidupannya, jadi sekarang dia sudah tidak terlalu bersedih.
"Fai mending kamu sama kakak aja chek kandungannya ya, kakak temanin atau biar mama aja yang ngecek kandungan kamu seperti 4 bulan ini"ujar Syifa pada Faina yang sudah berpakaian rapi untuk pergi mengecek kandungannya.
"Aku bisa sendiri kok kak, lagi pula kalau kak Syifa pergi nemenin aku siapa yang bakal jagain Ali dan Reina. Kalau soal mama, aku kan jarang periksa kerumah sakit, mama juga suruh aku untuk sekali-kali periksa kerumah sakit"ujar Faina.
"Ali pasti bisa kok jagain Reina kalau kita perginya cuman sebentar"ujar Syifa yang merasa khawatir dengan adik iparnya itu.
"Nggak usah kak, gimana kalau Ali sama Reina bertengkar, kakak dirumah aja, lagi pula aku udah biasa kok pergi sendiri, jadi kak Syifa nggak usah khawatir"ujar Faina.
"Yaudah hati-hati dijalan, kabarin kakak kalau ada apa-apa ya"ujar Syifa.
"Pasti kakak"ucap Faina lalu melangkah pergi dan mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.
Ya Allah kenapa perasaanku tidak enak terhadap Faina yah, batin Syifa.
Saat Syifa sedang melamun mengkhawatirkan Faina yang pergi sendiri, tiba-tiba hpnya berdering dan yang menghubunginya adalah nyonya Leli.
Dalam telfon.
"Assalamualaikum Syifa"
"Walaikumsalam ma, ada apa ya?"
"Faina mana?"tanya nyonya Leli.
"Faina baru aja pergi chek kandungannya ma"ucap Syifa.
"Owh gitu, kenapa perasaan mama nggak enak ya Syif, mama kepikiran Faina terus"ujar nyonya Leli.
"Mama nggak usah terlalu mikirin Faina, Faina pasti baik-baik aja kok"ujar Syifa yang sebenarnya dia juga sangat mengkhawatirkan Faina, tapi jika dia juga bilang jika dia mengkhawatirkan Faina nanti mama mertuanya itu bisa panik.
"Yaudah, kamu hati-hati yah dirumah"ujar nyonya Leli.
__ADS_1
"Iya ma, mama juga hati-hati ya"ujar Syifa.
setelah sambungan terputus, Syifa langsung menghubungi Faina, tapi hp Faina tidak aktif membuat Syifa menjadi lebih panik dan khawatir.