
Malam pun tiba.
Reza pun pulang kerumahnya, saat memasuki kamarnya, dia mengambil surat yang tertera dimeja kamarnya.
Dia membaca dan memahami setiap kalimat dan kata dalam surat itu, tangannya lemas sehingga surat itu jatuh kelantai, dia mengambil surat berikutnya yaitu surat perceraian dan hatinya seakan sakit mengetahui Faina meninggalkannya.
Reza pun langsung menghubungi Faina, tapi tak diangkat oleh gadis itu.
Aku nggak mau kehilangan kamu Fai, baru aja aku mau buka lembaran baru sama kamu, batin Reza.
"Bi, bi Sinta!!"ujar Reza teriak.
"Ada apa den?"ujar bi Sinta.
"Bibi tau kemana perginya Faina"ujar Reza.
"Saya tidak tau den, saya tidak melihat non Faina keluar rumah"ujar bi Sinta yang membuat Reza emosi.
"Bibi ini gimana sih, harusnya bibi tau dong kemana Faina, kan bibi yang satu harian tinggal dirumah"ujar Reza marah, bi Sinta yang kena marah pun menunduk diam.
"Maaf den"ujar bi Sinta.
Reza pun langsung pergi menuju rumah keluarga Faina, dia berharap belum terlambat untuk memperbaiki semuanya, dia mencintai Faina melebihi Nisa, yah sekarang Reza tau ratu dihatinya itu siapa.
Sesampainya disana, Reza pun mengetuk pintu rumah Faina dan tak lama pintu itu pun terbuka.
"Nak Reza"ujar nyonya Leli.
"Ma, apa Faina ada disini?"ujar Reza.
"Iya, dia ada didalam, kalian ada masalah?"ujar nyonya Leli.
"Masalah kecil kok ma, boleh aku bertemu dengan Faina?"ujar Reza.
"Boleh, ayo masuk nak"ujar nyonya Leli.
Reza pun masuk dan melihat Faina tengah bermain dengan Ali dan Reina dengan sangat asyik, di samping mereka pun ada Syifa dan Rangga yang sesekali tertawa melihat tingkah lucu Reina saat sedang diganggu Faina.
"Fai"ujar Reza yang membuat semua orang yang ada disitu menoleh kearahnya.
__ADS_1
Faina yang melihatnya pun langsung berdiri hendak menuju kamarnya, dia tak mau bertemu sama Reza sampai proses sidangnya selesai, tapi langkahnya terhenti oleh suara ibunya.
"Kalau ada masalah diselesaikan dengan baik Faina, bicaralah sama Reza, masalah kalian tidak akan selesai kalau kamu menghindar"ujar nyonya Leli.
"Kita bicara dihalaman belakang saja"ujar Faina lalu berjalan menuju halaman belakang, diikuti dengan Reza dibelakangnya.
"Untuk apa kamu kesini, apa tidak jelas surat yang aku tulis"ujar Faina saat mereka sudah sampai dihalaman belakang rumah.
"Aku tidak ingin kita bercerai"ujar Reza.
"Bukankah itu yang kamu inginkan, kamu sendiri kan yang memberiku surat perceraian itu"ujar Faina tanpa melihat wajah Reza.
"Aku ingin kamu bersamaku Fai"
"Aku tidak bisa menjadi penghalang terus-menerus antara kamu dan Nisa"
"Kamu bukan penghalang Fai, Nisa yang jadi penghalang antara kita"
"Kamu mencintainya Za, aku hanyalah istri kontrak kamu kalau kamu lupa"
"Tapi sekarang beda"
"Beda apanya, tetap sama"
"Aku mencintaimu Fai, aku tidak ingin bercerai, tolong tetaplah berada di sisiku"lanjut Reza lalu memeluk Faina yang terdiam membeku.
"Za, apa kamu yakin dengan yang kamu ucapkan?"ujar Faina.
"Sangat yakin, kalau perasaan kamu sendiri gimana?"ujar Reza.
"Aku, aku juga mencintai kamu Za"ujar Faina dan Reza kembali memeluk Faina dengan sangat erat.
Faina dan Reza pun kembali kedalam rumah dengan gandengan tangan.
"Tadi aja marah-marah, sekarang gandeng-gandengan, pusing gue sama lo Fai"ujar Rangga.
"Sirik aja sih lo kak"ujar Faina.
"Ma, aku sama Faina pulang dulu yah"ujar Reza pamit.
__ADS_1
"Kenapa nggak bermalam disini aja"ujar nyonya Leli.
"Iya, kita bermalam disini aja dulu Za, aku juga rindu sama mama"ujar Faina dan diangguki oleh Reza.
Setelah makan malam, nyonya Leli mengajak Faina untuk berbicara berdua.
"Mau ngomong apa ma?"tanya Faina.
"Fai tau kalau Nisa masuk rumah sakit?"ujar nyonya Leli.
"Iya tau, Faina juga udah pernah jenguk Nisa kok, mama tau dari mana?"ujar Faina.
"Papa kamu kasih tau ke mama, kamu sendiri tau dari mana?"ujar nyonya Leli.
"Reza temanan sama Nisa ma, dan Reza yang dihubungi sama pihak rumah sakit waktu Nisa kecelakaan"ujar Faina.
"Kok bisa?"
"Karena nomor Reza adalah nomor terkahir yang dihubungi sama Nisa"ujar Faina.
"Owh gitu, gimana kalau besok kita semua datang kerumah sakit untuk menjenguk Nisa"ujar nyonya Leli.
"Iya, terserah mama"ujar Faina.
Setelah berbincang panjang lebar dengan nyonya Leli, Faina pun masuk kedalam kamarnya untuk tidur.
"Za kamu dikamar mandi?!!"ujar Faina saat memasuki kamarnya dan tidak mendapati Reza, sedangkan pintu kamar mandinya tertup dan terdengar suara air.
"Iya Fai!!"ujar Reza.
Faina pun duduk ditepi ranjang kasurnya sambil memainkan hpnya, tak lama pintu kamar mandi pun terbuka dan terpampanglah wajah Reza tanpa memakai baju, dia hanya memakai celana.
"Reza, pakai baju!!"ujar Faina sambil menutup kedua matanya yang sudah tidak suci lagi.
"Apaansih Fai, histeris gitu, santai aja kali, belum juga pakai baju, gimana nanti kalau udah nggak pake celana"ujar Reza menggoda Faina.
"Iss Reza, aku nggak akan pulang sama kamu besok kalau kamu nggak pake baju sekarang"ujar Faina.
"Bisanya ngancem"ujar Reza.
__ADS_1
"Biarin"jawab Faina.
Reza pun memakai bajunya dan mereka pun tidur seranjang untuk pertama kalinya.