Cinta Yang Tak Biasa

Cinta Yang Tak Biasa
Episode 59


__ADS_3

"Kak Rangga, mama, ayo kita pulang"ujar Faina yang datang keruang tamu setelah dia menenangkan dirinya didapur rumah Reza.


"Fai, kamu sama Reza sudah selesai berbicara nak?"tanya nyonya Tasya yang melihat jika raut wajah Faina berbeda, entah mengapa Faina yang biasanya sangat pandai menyembunyikan kesedihannya kali ini dia tidak pandai lagi.


"Sudah ma"jawab Faina.


"Kamu kenapa nak?, apa yang Reza katakan?, apa kata-katanya menyakiti perasaanmu?"tanya nyonya Leli.


Bahkan yang kurasakan kali ini lebih dari kata sakit ma, kata-kata menantumu itu sungguh melukai hati putrimu ma, batin Faina


"Tidak. Aku tunggu mama dan kak Rangga diluar"ujar Faina lalu melangkah pergi dengan cepat karena air matanya Ingin kembali menetes dan dia tak ingin menangis didepan keluarganya.


"Apa terjadi sesuatu dengan dia dan Reza?"ujar tuan Herman.


"Aku akan bicara dengan Reza dulu"ujar nyonya Tasya hendak pergi, tapi langkahnya terhenti kala mendengar suara nyonya Leli.


"Kalau begitu saya, Rangga dan Faina pamit pulang dulu, sampaikan salam saya pada Reza"ujar nyonya Leli lalu bersalam dengan nyonya Tasya dan tuan Herman begitu pula dengan Rangga yang mencium kedua tangan sepasang paruh baya itu.


Rangga dan nyonya Leli pun memasuki mobil yang ternyata Faina sudah berada di jok belakang, Rangga dengan cepat menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Reza, sedangkan Faina, dia terus saja diam dan memikirkan kata-kata Reza tadi dan itu membuat hatinya begitu rapuh.


"Apa yang Reza katakan nak?"tanya nyonya Leli dengan selembut mungkin, tapi Faina tetap saja diam.


"Fai kamu cerita dong sama kakak dan mama, jangan nyimpan masalahmu sendiri karena itu akan membebankan pikiranmu"ujar Rangga.

__ADS_1


"Reza, Reza,,"ujar Faina terbata-bata, sungguh dia tak sanggup mengucapkan kata cerai itu.


Ya Allah engkau tidak suka perceraian, maafkan hamba karena mungkin itulah yang terbaik saat ini untuk semuanya terutama Reza, batin Faina dengan air mata yang kesekian kalinya jatuh, tapi dengan cepat dia menghapusnya.


"Reza kenapa Fai, katakanlah"ujar Rangga yang penasaran dengan kata-kata adiknya.


"Kita akan ber,,,cerai kak"ujar Faina dengan air matanya yang lagi-lagi dihapusnya dengan cepat.


Deg


Jantung Rangga dan nyonya Leli berpacu lebih cepat dari biasanya, mereka ikut bersedih atas apa yang menimpa Faina.


"Maafkan Fai ma, Fai ingkar janji sama mama, maaf"ujar Faina dengan air mata yang tak mampu ditahannya lagi.


"Rangga hentikan mobilnya, mama akan pindah tempat duduk dekat Faina, adikmu butuh sandaran saat ini"ujar nyonya Leli yang ingin memeluk Faina yang saat ini tengah rapuh.


"Sudahlah nak, ini sudah takdir, Faina sudah melakukan yang terbaik untuk mempertahankan rumah tanggamu nak, tapi Allah berkehendak lain, mungkin memang inilah yang terbaik"ujar nyonya Leli yang tau betul bagaimana perasaan anaknya itu karena dia pun mengalami hal yang sama, yaitu perceraian.


Sakit memang sakit, tapi beginilah kehidupan tidak akan pernah berjalan dengan mulus dan sesuai dengan harapan dan keinginan kita karena apa yang menurut kita terbaik belum tentu itu yang terbaik menurut Allah dan Allah akan memberikan yang paling baik untuk kehidupan kita, serta ujian itu adalah cara Allah menaikkan derajat umatnya.


Sedangkan ditempat lain.


setelah kepulangan Faina dan keluarganya, Nyonya Tasya langsung menemui Reza yang sudah berada dikamarnya.

__ADS_1


"Ada apa ma?"tanya Reza saat membuka pintu kamarnya dan melihat mamanya.


"Apa yang kamu lakukan terhadap Faina?, apa yang kamu katakan?"tanya nyonya Tasya.


"Aku mengatakan ingin cerai darinya"ujar Reza yang membuat nyonya Tasya kecewa.


"Reza!!, kamu menyakiti hatinya, dia sedang mengandung anakmu, mana tanggung jawabmu sebagai seorang suami dan ayah"ujar nyonya Tasya dengan air matanya yang sudah menetes, dia benar-benar kecewa dengan putra semata wayangnya itu.


"Aku akan menceraikannya setelah dia melahirkan ma, dan ini jalan yang paling baik untuk semuanya"ujar Reza.


"Astaghfirullah, kenapa kamu melakukan ini nak?"tanya nyonya Tasya yang sudah tidak tau mau mengatakan apa lagi.


"Andai mama tidak menjodohkan ku dengan Faina, dia dan aku tidak akan merasakan sakit seperti ini, kita tidak akan saling mencintai"ujar Reza.


"Jadi ini salah mama, kamu yang egois Reza, bukan mama!!"ujar nyonya Tasya.


"Aku egois ma, aku juga merasa sakit saat melihatnya menangis, aku juga sangat ingin menemaninya dimasa kehamilannya dan menuruti semua keinginannya, aku begitu sangat mencintainya ma, tapi kenapa tidak ada yang mengerti jika aku melakukan semua ini demi kebaikannya"ujar Reza.


"Kebaikan yang mana Reza?, tidak ada kebaikan untuk Faina disini"ujar nyonya Tasya.


"Bahkan saat mama mengucap namanya jantung ini berpacu lebih cepat dari biasanya. aku cacat ma, aku hanya akan menyusahkannya, orang-orang akan menghinanya karena punya suami yang cacat saat dia dan aku jalan bersama"ujar Reza yang sudah meneteskan air mata pula, yah Reza menangis, menangis untuk semua yang terjadi padanya, dia benar-benar rapuh jika soal orang yang dicintainya.


Andai keadaannya tidak seperti sekarang, dia akan memeluk Faina dan menghujani wanita itu dengan ciuman karena dia sangat merindukan Faina.

__ADS_1


Nyonya Tasya yang melihat anaknya menangis pun tersentuh, dia sadar mungkin kata-katanya terlalu berlebihan dan menyakiti hati Reza.


"Maafkan mama"ujar nyonya Tasya lalu keluar dari kamar Reza membiarkan anaknya itu untuk sendiri dulu agar pikiran Reza juga menjadi tenang.


__ADS_2