
Setelah malam itu Reza benar - benar menuruti kata - kata mamanya.
Reza tidak pernah memberi uang bulanan padaku,segala sesuatu aku hanya bilang pada Reza dan Reza akan membelinya selain itu Reza selalu menolak jika aku mengajaknya untuk berkunjung kerumah ibu dengan berbagai alasan.
Aku hanya bisa ngobrol dengan ibu dan mbak Eva melalui telepon.
Waktu Reza buatku semangkin berkurang karna selain bekerja Reza disibukkan dengan urusan mama dan adiknya,awalnya aku mencoba protes pada Reza tapi Reza selalu memohon pada ku untuk mengerti keadaanya akupun akhirnya mengalah dan mencoba untuk memahaminya,karena aku pikir keadaan ini akan berakhir setelah aku melahirkan.
Usia kehamilanku kini memasuki lima bulan namun aku belum mempersiapkan perlengkapan baby,karena Reza hari ini sibuk akupun mencoba menghubungi Murni memintanya untuk menemaniku berbelanja.
"Hallo Mur,lu ada waktu nggak"
"Emang kenapa Lin"
"Temenin gue belanja yuk"
"Lho emangnya Reza kemana Lin"
"Lu kayak wartawan Mur banyak nanyanya bilang aja kalau lu nggak bisa gapapa kok"
"Hehehe yaelah ah gitu aja ngambek oke,kapan Lin"
"Dua minggu lagi ya sekaranglah!"
"Biasa aja kali Lin nggak usah ngegas,oke gue siap - siap dulu baru jemput lu"
"Sip"
Tak berapa lama Murni pun datang untuk menjemput ku setelah berpamitan dengan ibu mertuaku aku dan Murni segera pergi,aku membeli semua perlengkapan baby dengan uang tabunganku sendiri karena pagi tadi aku lupa meminta uang pada Reza untuk berbelanja perlengkapan baby,setelah selesai berbelanja Murni mengajakku untuk mampir dicafe tempat dulu kami sering nongkrong bareng,akupun menyetujui ajakan Murni karna aku juga sedang bosan dirumah.
Ketika aku memasuki area cafe aku melihat seseorang yang tak asing lagi dia adalah Farhan adik iparku Farhan sedang duduk dengan seorang wanita dengan begitu mesranya melihat itu Murni langsung menarik tanganku menjauh.
"Lu nggak usah kaget Lin,Farhan emang suka gitu orangnya"
"Jadi lu udah tau kelakuannya Mur?" tanyaku
Murni pun secara panjang lebar menceritakan tentang kelakuan adik iparku itu,aku merasa kasihan pada Reza sekaligus sangat kecewa padanya yang selalu memanjakan adiknya.
__ADS_1
Saat aku sedang berpikir sesuatu tiba - tiba ponselku berbunyi Reza menelpon memintaku untuk segera pulang,aku dan Murni meninggalkan paste cafe dan segera pulang.
Setibanya aku dirumah aku melihat Reza dan ibu mertuaku sedang duduk didepan rumah, Reza menyambutku dengan raut wajah marah sedangkan ibu mertuaku menegurku dan mulai mengkritik.
"Lin kamu belanja apaan sih?" tanya ibu mertuaku dan langsung memeriksa semua barang belanjaanku.
"Perlengkapan baby ma"
"Seharusnya kamu kalau mau beli ngomong donk mubazir ini namanya buang - buang duit"
"Ini penting ma lagian Lina belinya juga sedikit ma"
"Popok ini pakainya juga sebentar kamu bisa pake bekas arsy Lin" ujar mertuaku lagi (arsy adalah anak dari Farhan adik iparku).
"Iya ma Lina tidak tahu" jawabku singkat dan akupun izin pada ibu mertuaku dan segera kekamar.
Mendengar kata - kata mamanya Reza hanya diam tak bergeming,aku mulai terbakar emosi aku marah,aku hanya ingin memberikan yang terbaik buat anakku dengan memakai uang ku sendiri menjadi suatu permasalahan bagi ibu mertuaku,adil kah jika anakku harus memakai pakaian bekas sementara Farhan asik berfoya-foya diluar sana dan tanggung jawabnya harus dipenuhi oleh Reza.
Kuhempaskan tubuhku keatas ranjang aku benar - benar kesal.
Mengapa semua terasa melelahkan? aku mulai jenuh dengan hidupku yang penuh aturan, memikirkan semuanya membuatku menangis.
"Sayang jangan menangis aku marah karna ada alasannya"
"Apa alasanmu Re?" tanyaku lalu segera membalikkan badan menghadap Reza.
"Mengapa pergi tidak memberitahuku sayang kalau ada apa - apa bagaimana?"
"Aku minta maaf Re aku mengaku salah tapi aku punya alasan juga sehingga aku pergi tidak memberitahumu terlebih dulu" ucapku namun Reza tidak mau mendengar alasanku dan tetap menganggap bahwa aku tidak bisa memahaminya.
Sore itu didalam kamar terjadi perdebatan antara aku dan Reza,aku sudah tak sanggup lagi menghadapinya akupun menceritakan pada Reza apa yang kulihat dicafe tadi sore,bahkan akupun mengatakan pada Reza bahwa aku mendengar semua apa yang mamanya katakan beberapa bulan lalu yang menyuruh Reza tidak memberiku uang bulanan setelah mendengar semua perkataanku tidak ada respon sedikit juga dari Reza.
"Istirahatlah,jangan mendesak ku untuk memilih" ujar Reza lalu melangkah keluar kamar.
Aku malas untuk keluar kamar setelah berdebat dengan Reza aku mengurung diri dikamar,pandanganku sesaat tertuju pada ponselku aku butuh teman untuk sekedar bercerita,mbak Eva.....aku ingin bercerita pada mbak Eva tetapi bagaimana jika mbak Eva memberitahu ibu pasti ibu akan marah padaku, hal itu membuat aku mengurungkan niat untuk menelepon mbak Eva.
Terlintas dipikiran ku apakah aku telah salah menikah dengan Reza,anak laki - laki satu - satunya yang bisa diandalkan ibunya ataukah aku hanya apes hari ini,tak berselang lama akupun tertidur.
__ADS_1
Reza membangunkan ku untuk makan malam,aku menolaknya dengan alasan aku tidak sedang lapar, Reza membujukku dengan mengajakku keluar malam ini.
Sebelum pergi tentunya aku dan Reza terlebih dahulu berpamitan tapi lagi - lagi aku harus menahan rasa sakit oleh ucapan ibu mertuaku.
"Lin kamu marah sama mama ya"
"Tidak ma"
"Lantas mengapa kamu tidak keluar kamar dari tadi sore bahkan kamu tidak mau makan,padahal mama sudah capek - capek menyiapkannya"
"Lina tadi capek ma .....Lina minta maaf ma"
"Sudah - sudah ma kamu harus maklum Lina kan lagi hamil" timpal Ayah mertuaku
Namun ibu mertuaku tetap berbicara dengan kata - kata yang menyudutkan ku Reza menarik tanganku untuk segera keluar.
Selama didalam mobil tak ada pembicaraan yang terjadi antara aku dan Reza kami saling diam aku hanya bisa menangis mengingat kata -kata ibu mertuaku.Reza menghentikan mobilnya disebuah taman kota, Reza meraih tanganku membawaku dalam peluknya.
"Lin apakah kamu mencintaiku sayang?" tanya Reza padaku
Aku bingung harus jawab apa mengapa harus mempertanyakan cinta setelah terjadi pernikahan dan setelah aku hamil,mengapa tidak dari awal Reza mempertanyakannya,seharusnya saat ini bukan cinta yang Reza tanyakan padaku tapi komitmen sebuah pernikahan,terjadi penolakan dalam hatiku atas pertanyaan reza sehingga aku memilih diam
"Lin mengapa diam jawablah sayang" ujar
Reza mengulang pertanyaannya kembali aku terpaksa menganggukkan kepala.
"Terimakasih sayang" ucap Reza seraya mengecup keningku aku balik bertanya pada Reza dengan pertanyaan yang sama rezapun menjawab sesuai yang aku pikirkan akupun minta bukti dari ucapannya,aku meminta pada Reza untuk pindah kekontrakan awalnya Reza merasa keberatan dengan berbagai alasan tapi aku tahu alasan yang tepat adalah bagaimana Reza akan menyampaikan pada ibunya akupun menyakinkan Reza dengan alasan hanya ingin ada waktu untuk berdua akhirnya Rezapun menyetujui keinginanku dan meminta waktu untuk menyampaikan pada mamanya bagaimana agar mamanya tidak tersinggung dengan keputusan kami pulang kekontrakan akupun menyetujuinya karna memang itu lebih baik.
(Keesokan harinya)
Ibu mertuaku mengajakku menghadiri pesta pernikahan anak laki - laki tante Melly,sebelum ketempat pesta berlangsung ibu mertuaku mengajak mampir terlebih dahulu disebuah toko membeli kado untuk anak tante Melly disana ibu mertuaku bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik,mereka terlihat begitu akrab ibu mertuaku pun memperkenalkannya padaku gadis itu bernama Monica,dalam perjalanan tak henti - hentinya mertuaku memuji Monica bahkan ibu mertuaku menjelaskan kepadaku hubungan Monica dengan Reza dulunya.
"Lin cantik dan berkelas ya Monica itu" ujar ibu mertuaku aku hanya menganggukkan kepala.
"Monica dan Reza dulu pacaran lho Lin,cukup lama mereka berhubungan tapi entah kenapa tiba - tiba mereka putus dan Reza menikahi mu" terang ibu mertuaku.
Aku hanya diam saja menanggapi kata - kata mertuaku itu.
__ADS_1
Setelah menghadiri acara pesta,mertuaku kembali mengatakan hal yang buat hatiku sakit dengan mengatakan bahwa tante Melly sangat beruntung mendapat menantu yang cantik dan kaya.
Kuakui aku tidak secantik dan kaya seperti Monica dan menantu tante Melly,aku hanya berasal dari keluarga sederhana tapi tak seharusnya ibu mertuaku berbicara demikian yang seolah - olah sengaja membanding - bandingkan aku dengan mereka,hatiku benar - benar sakit dibuatnya.