
Sekitar jam 7 malam Mas Rahmat datang ke rumah sakit untuk menggantikan ku yang seharian sudah menjaga ibu.
"Lin" bagaimana keadaan ibu tadi dan apa kata dokter?"
"Alhamdulillah Mas dokter mengatakan kan keadaan ibu berangsur membaik"
"kamu boleh pulang dan beristirahat malam ini biar Mas yang jagain Ibu di sini"
"Tapi Mas aku masih mau di sini jagain Ibu mas"
"Kamu juga butuh istirahat Lin" kamu jangan khawatir tentang ibu ada Mas yang jagain ibu"
Aku sesungguhnya memang menghawatirkan keadaan ibuku saat ini aku ingin selalu di samping ibu dan mengurus ibu, entah mengapa, perasaan ku takut jika terjadi sesuatu pada diri ibu.
"Yang dikatakan masmu benar Lin istirahatlah kamu nak,ibu akan baik-baik saja" ucap ibu mencoba meyakinkanku.
Tak berapa lama Mbak Eva bersama kedua putriku telah pun sampai, Mbak Eva membawa beberapa baju ganti buat ibu dan juga cemilan buat Mas Rahmat.
Setelah berpamitan pada Mas Rahmat dan Mbak Eva aku dengan berat hati meninggalkan ibu dengan mas Rahmat, sebelum pulang aku mencium pipi ibuku dan menyalami tangannya.
"Bu tinggal dulu ya Bu, besok Lina kembali akan jagain ibu ya" ucapku lirih Ibu mengangguk menatapku dan tersenyum padaku.
Setibanya di rumah aku masih kepikiran tentang ibu, jujur ada rasa khawatir di hatiku aku takut ibuku meninggal dunia, hingga pukul 12 malam mataku sulit untuk terlelap.
Air mataku mulai mengalir aku jadi ingat saat dulu,ketika aku sakit ibulah yang selalu ada disampingku menjagaku,menyuapi ku, memberiku obat dan selalu menjagaku sampai aku sembuh,jasa ibu teramat besar buat ku sedangkan kebaikan yang pernah aku lakukan pada ibu hanyalah seumpama butiran debu.
#Tiga hari kemudian #
Singkat cerita setelah tiga hari menjalani perawatan dirumah sakit kondisi ibu membaik dan dokter pun telah mengizinkan ibu pulang kerumah kami sangat senang mendengarnya dan kami secara kompak merawat ibu secara bergantian kami merasa bersyukur kepada sang pencipta yang telah memberikan kami kesempatan untuk merawat ibu.
Meskipun masih lemas namun ibu semangat untuk segera sembuh,aku merasa hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagiku karena ibuku sudah pulih dari sakitnya dan sesaat lagi aku bakal bertemu dengan Bagas orang yang sangat aku rindukan.
Malam ini aku menginap dirumah ibu bersama kedua putriku malam telah larut setelah ngobrol cukup lama Mas Rahmat dan mbak Lidya berpamitan untuk pulang.
"Lin " mbak kok ngantuk ya istirahat yuk" ucap Mbak Eva.
"Jelas dong Mbak ini sudah larut malam"
Malam ini aku, Mbak Eva dan bersama anak-anak kami tidur bersama di kamar ibu.Malam ini terasa begitu indah aku dan Mbak Eva jadi mengenang masa kecil kami dulu, dan sebelum benar-benar tidur aku dan Mbak Eva saling ngobrol tiba-tiba dering suara ponselku berbunyi.
__ADS_1
"Lin Bagas ya " tanya mbak Eva berbisik takut ibu akan mendengarnya
"Bukan mbak"
"Lalu siapa?" suamimu ya?"
"Ada deh nanti aku kasih tau tapi aku angkat telepon dulu ya mbak" ucapku masih berbisik dan kemudian melangkah keluar dari kamar ibu ,sebelum itu aku menoleh kearah mbak Eva yang mengerutkan kening aku hanya tersenyum melihat ekspresi mbak Eva.
"Jangan lama - lama keburu mbak tidur " ujar mbak Eva kembali berbisik aku memberi isyarat tanda oke pada mbak Eva,lalu segera menjauh dari kamar.
"Halo Fahri ada apa kok malam-malam kamu telepon Mbak"
"Eh anu mbak anu, itu mbak tidak anu itu"
"kamu mau ngomong apaan sih anu anu, kalau ngomong yang jelas Fahri"
"Hehehe iya mbak, jadi lupa aku mau ngomongin apa"
"Yaudah kalau lupa besok saja kamu telepon mbak"sekarang mbak mau istirahat dulu"
"Eh jangan-jangan mbak udah ingat kok,hmmm besok mbak ada acara nggak"
"Ye Mbak kok gitu sih galak banget"
"Habis kamu sih kayak wartawan aja nanya-nanya, to the point aja nggak usah muter-muter"
"Iya - iya hmmm mbak besok mau nggak temenin aku, besok di kantor lagi ada acara mbak, jadi aku ingin mbak temenin aku di acara tersebut"
"Kamu udah beneran gila ya Fahri masa kamu ngajak mbak, emang kamu nanti nggak malu jadi perhatian orang-orang kamu mengajak tante-tante, mana lagi di acara kantormu"
"Emang Kenapa mbak,kalau aku ngajak Mbak, dan mbak bukan tante-tante"
"Ngak nggak bisa Fahri, dan maaf Mbak belum ngomong ke kamu Mbak udah baikan sama cowok Mbak dan besok kami udah janji untuk ketemuan"
"Ye elah ngomong dong Mbak dari tadi mbak tuh yang muter-muter"
"Sorry deh, jadi kamu marah sama mbak"
"Nggak kok Mbak, oke deh semoga pertemuannya bakal sukses"
__ADS_1
"Kamu gapapa kan Fahri"
"Nggak Mbak asal Mbak bahagia aku juga ikut senang"
"Mangkanya kamu tuh cepat dong cari pacarnya nya jadi nggak perlu kamu minta temenin Mbak"
"Udah dapat kok mbak"
"Kamu serius Fahri, kapan-kapan kenalin dong sama mbak"
"Masih PDKT kok Mbak entar aku kenalin, oke deh Mbak happy weekend"
Setelah Fahri memutuskan sambungan teleponnya aku segera kembali masuk ke dalam kamar ibuku dan aku melihat Mbak Eva sudah tertidur pulas, aku segera merebahkan badanku dan memejamkan mataku entah sejak kapan akhirnya aku pun terlelap.
Aku aku bangun pagi ini lebih awal, aku menghampiri ibu Bu yang sudah terbangun sejak tadi lalu kubuka jendela kamar ibuku, cuaca pagi ini begitu cerah udara segar menerpa dan membelai wajahku.
Pagi ini aku mengajak ibuku untuk menikmati udara segar di pagi hari, ibu duduk di kursi rodanya dan aku membawa Ibu untuk berkeliling di sekitaran rumah, dan kami pun melalui pohon beringin yang tumbuh di pinggiran jalan, pohon tersebut telah tumbuh cukup lama dan entah mengapa masyarakat sekitar tidak menebang pohon tersebut malah sekarang masyarakat menjadikan pohon tersebut sebagai tempat ngumpul-ngumpul warga, masyarakat merawat pohon beringin tersebut dengan membuat taman di sisi-nya dengan bangku - bangku yang berada di bawah pohon beringin tersebut, Ibu pun mengajakku untuk berhenti sesaat dan duduk di bawah pohon itu.
"Kamu masih ingat dengan pohon beringin ini Lin?" tanya ibu kepadaku, ternyata Ibu mencoba mengingatkan ku kenangan di masa kecilku dulu, aku hanya diam menatap Ibu dan tersenyum.
"Ini merupakan pohon favorit mu bukan?" pohon inilah merupakan tempatmu paling aman untuk menghindari tidur siang, kamu mengira Ibu tidak bakal menemukan kamu di sini" ucap Ibu kembali melanjutkan cerita waktu kecilku.
"Benar sekali Bu, karena sebelumnya memang Lina selalu berhasil bersembunyi di sini Bu, dan Ibu tidak pernah menemukan ku hingga saat terakhir itu"
Lalu ibu mengusap punggung telapak tanganku aku bersandar di pundak ibu.
"Kamu salah Lina" sejak awal Ibu sudah mengetahui bahwa kamu bersembunyi di pohon ini"
"Tapi Kenapa Ibu membiarkannya, kalau Ibu sudah mengetahui"
"Ibu tidak sanggup melihat air matamu nak, karena jika ayahmu mengetahui Nya maka kamu akan dipukul oleh ayahmu, masa kecil adalah masa yang paling indah yang tidak mungkin lagi akan kamu lalui Ibu membiarkannya karena Ibu yakin kamu hanya ingin mempunyai waktu untuk bermain bersama dengan teman-temanmu"
Mendengar kata-kata Ibu barusan membuatku terharu kupeluk ibu dan tanpa sengaja air mataku pun jatuh berurai Ibu mengusap pucuk kepalaku.
"Terimakasih bu"
"Dan maafkan ibu Lin, jika sekarang Ibu tidak bisa membuatmu bahagia karena keegoisan ibu, Kamu akhirnya terpaksa menjalani kehidupan yang tidak sesuai dengan keinginanmu" ucap ibu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tidak Bu,Lina bahagia hingga saat ini"
__ADS_1
Kami akhirnya saling berpelukan hangat pelukan Ibu masih sama seperti dulu, saat akhirnya ayahku menemukanku yang sedang bersembunyi di bawah pohon beringin ini, Saat itu Ibu memelukku di sini di pohon beringin ini untuk menghindari dari amarah ayahku yang hendak memukulku, semua tetap sama pelukan Ibu begitu hangat dan menyejukkan hatiku.