
Libur telah usai sore ini Reza berencana kembali kekota B.
Dari pagi aku sudah menyiapkan beberapa baju Reza yang akan dibawanya aku juga sudah menyiapkan makanan untuk makan siang.
Hari ini cucianku menumpuk sedangkan pemilik baju memintaku untuk menyelesaikan bajunya dengan segera,aku sangat keteteran.
Saat sedang sibuk menyelesaikan pekerjaanku Reza memanggilku,memintaku mengambilkan makanannya,akupun mengatakan padanya bahwa aku sedang sibuk,aku meminta pada Reza untuk mengambil makanannya sendiri, tapi tampaknya Reza sangat kecewa dia langsung keluar rumah dan memilih untuk pergi kerumah mamanya.
perasaanku tak tenang akupun bangkit meninggalkan setrikaanku dan menyiapkan makanan Reza,saat Reza menikmati makanannya aku menyampaikan unek - unek dihatiku aku meminta pada Reza untuk mengerti kesibukanku dan agar dia bisa mandiri apalagi disaat aku sedang sibuk seperti saat sekarang ini.
Bukan malah mencoba memahami perkataan ku secara positif, Reza malah menyangka aku sudah bosan melayaninya.malas untuk berdebat aku memilih menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda,meninggalkan Reza menikmati makanannya.
Aku menghembuskan napas lega akhirnya pekerjaanku selesai,aku melangkah kekamar ingin beristirahat meluruskan badan, pinggangku terasa pegal terlalu lama duduk,kebetulan putriku sedang tidur siang.
Tiba - tiba Reza mendekatiku mengelus rambutku dan mulai menyentuhku dengan melepaskan pakaianku satu persatu,tak ada rasa bersalah, tidak ada perkataan maaf dari bibirnya yang telah menuduhku tadi.
Reza membalikkan badanku aku pura - pura menutup mata,didalam hatiku sangat bersedih Reza tidak cukup mengerti bahwa aku sedang lelah,aku ingin menolaknya tapi aku takut pasti Reza akan marah dan mulai menuduhku.
Perlakuan Reza kemarin malam ia ulang kembali saat menggauliku,aku hanya diam pasrah kali ini aku tidak meronta aku mencoba bertahan semampuku air mataku mengalir disudut mataku.
Reza mengerang mencapai *******,tak berapa lama Reza kembali mengulanginya ranjang pun kembali bergoyang setelah puas Reza membiarkanku tergeletak di ranjang tampa ada ciuman di kening atau bisikan terimakasih seperti dulu,Reza membersihkan diri kekamar mandi lalu tidur siang, hatiku teriris betapa sakit yang kurasa air mataku berlinang membasahi bantal.
Sore ini Rezapun berangkat kekota B untuk memulai pekerjaannya kembali.
Setelah Reza pergi aku melamun seorang diri kupandangi putriku yang sedang bermain aku mulai memikirkan nasib putriku jika aku harus berpisah dengan ayahnya,apakah putriku akan bisa menerima alasanku kelak, aku kembali menangis lamunanku tiba - tiba buyar Farhan adik iparku itu sudah berdiri didepan pintu aku segera mengusap kelopak mataku.
"Kak kemana mas Reza?"
"Sudah berangkat barusan"
"Kakak bisa bantu aku?"
"Emang ada apa sih dek?" ujarku bertanya pada Farhan.
__ADS_1
"Kak pinjamin uang aku dong aku ada kebutuhan mendesak dan nggak bakal lama, seminggu juga pasti akan aku kembalikan.
"Kakak nggak punya uang dek"
"Kakak kan ada usaha laundry dan mas Rezapun baru pulang masak nggak pegang uang kak"
"Telepon saja masmu kakak yakin belum jauh" jawabku Farhan memukul daun pintu dan berlalu pergi.
Rasa sabarku sudah diambang batas kelakuan adik iparku sungguh sangat keterlaluan aku semangkin muak melihatnya.
Malam ini aku mengecek semua pendapatan dan pengeluaran ku selama satu bulan,butuh waktu yang cukup lama untuk membeli sebuah rumah jika aku hanya mengandalkan pendapatan dari usaha laundry, aku memutar otak untuk menambah penghasilanku, disamping itu agar aku tak mempunyai waktu untuk memikirkan sikap orang - orang yang tidak menghargai kehadiranku,mataku mulai mengantuk kumatikan lampu kamar akupun segera beranjak tidur.
Pagi - pagi sekali Reza sudah meneleponku aku segera mengangkatnya Reza menanyakan kabar dirumah akupun memberitahunya bahwa aku dan putri kami sedang baik - baik saja, seiring itu Reza juga menanyakan mengapa aku tidak mengangkat telepon darinya malam tadi aku sudah menjelaskan padanya,Reza mulai kembali marah sungguh aku tak menyadari bahwa Reza meneleponku tadi malam akupun segera mengecek ponselku ada Tujuh kali panggilan dari Reza tapi kali ini aku mulai emosi Reza meneleponku sekitar pukul 03.OO wib dini hari akupun segera mematikan ponselku.
Reza kembali menghubungiku namun aku enggan untuk mengangkatnya puluhan pesan WhatsApp dikirim Reza dengan caci maki namun tak ku balas sekalipun.
Tak berapa lama ibu mertuaku datang ke rumahku
"Lina" mengapa kamu tidak mengangkat telepon suamimu!,,
"Kamu tu tidurnya kayak orang mati saja"
"Aku kecapean ma cucianku lagi banyak - banyaknya dan tidak ada waktuku untuk nungguin orang meneleponku subuh hari"
"Banyak alasanmu Lin" kamu sengaja membuat Reza tidak fokus pada kerjaannya di sanakan!" sarkas ibu mertuaku
Aku sudah tidak bisa mengontrol emosiku aku balik menyerang ibu mertuaku dengan kata - kata dan akhirnya ibu mertuaku pulang seketika.
Aku benar benar sudah tak perduli apa yang akan bakal terjadi jika ibu mertuaku melaporkan ku pada Reza.
Saat aku sedang duduk santai sambil menemani putriku bermain diteras rumah tiba - tiba mbak Surti bertamu kerumahku mbak Surti adalah tetanggaku dulu rumahnya berdekatan dengan rumah ibuku.
"Assalamualaikum apa kabar Lin?"
__ADS_1
"waalaikumsalam,mbak Surti?" aku baik - baik mbak"
Aku sedikit kaget dengan kedatangan mbak Surti kerumahku,namun aku senang ada teman untuk ngobrol.
"Sedang santai kan Lin" mbak nggak ngeganggukan"
"Iya nih mbak,emang ada apa sih mbak kayaknya serius banget" tanyaku penasaran
"Udah lama sih mbak pengen main kerumahmu,sekalian kangen nih soalnya sejak kamu nikah kami jarang kerumah ibumu Lin" ucap mbak Surti sambil tersenyum.
"Hmmm,mbak dari dulu nggak berubah ya suka modus"
Mbak Surtipun tertawa mendengar perkataan ku aku ikut tertawa setelah ngobrol beberapa lama mbak Surtipun menyampaikan maksud dan niatnya berkunjung kerumahku,saat ini mbak Surti bekerja sebagai salesman produk peralatan rumah tangga dengan cara kredit.
Mbak Surtipun juga menceriakan padaku penghasilannya setiap bulan,saat mbak Surti asik bercerita otakku mulai berpikir untuk ikut menekuni pekerjaan yang dilakukan mbak Surti,apa lagi semangkin banyak promosinya semangkin banyak yang beli semangkin banyak pula uang masuk yang diterima terang mbak Surti,ini sungguh pekerjaan yang tepat bagiku disamping bisa jalan - jalan dan bersilaturahmi aku bisa sambil tetap menjaga anakku,pekerjaan ini juga tidak membutuhkan modal.
"Hei,kok malah ngelamun sih Lin?"
"Hehehe habis suara mbak bagus serasa dinina bobokan, aku jadi ngantuk"
"Kamu tu ya Lin" dari dulu nggak berubah suka bercanda"
"Kalau aku berubah nanti mbak tidak ngenalin aku donk" ucapku tertawa lepas.
"Udah deh jangan bercanda terus, ayo dong kamu ambil yang mana nih,mbak bantu deh pengajuannya nggak pake lama"
"Beneran serius mbak mau bantuin aku?"
"Tentu donk Lin" buat kamu apa yang tidak" ucap mbak Surti tersenyum nyengir.
"Aku suntuk mbak ajakin aku kerja kayak mbak donk"
"Kamu serius Lin?" ujar mbak Surti tak percaya.
__ADS_1
Akupun menegaskan keseriusanku pada mbak Surti akhirnya mbak Surti bersedia untuk membantuku mendapatkan pekerjaan sebagai salesman perabotan rumah tangga seperti yang sedang ia tekuni saat ini,setelah lama kami saling ngobrol mbak Surti berpamitan padaku,
Bersambung