
Aku tidak bisa untuk melupakan Bagas begitu saja,aku benar - benar tidak mampu,baru saja bangun dari tidurku yang ada di otakku adalah Bagas.
Aku kembali mengaktifkan ponselku,aku terkejut ada beberapa panggilan telepon dari mbak Eva beberapa jam yang lalu.
Aku bergegas bangkit dari tempat tidurku dan segera menghubungi mbak Eva tapi tidak ada jawaban sama sekali,perasaanku semangkin tak menentu "apakah telah terjadi sesuatu pada ibu" bathinku.
Akupun langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dengan buru - buru dan setelah mengganti pakaian aku berjalan menuju kamar kedua putriku dan membangunkan mereka.
"Ada apa bunda?" tanya putri sulungku sambil mengusap matanya.
"Segeralah bangun sayang kita akan ke rumah si mbah"ujarku datar.
Tanpa bertanya kembali kedua putriku segera mengikuti apa yang kukatakan dan di waktu yang bersamaan Mbak Eva kembali menghubungiku, segera kuraih ponsel yang terletak di atas nakas.
"Halo mbak,ada apa mbak ?" tanyaku begitu mbak Eva menerima panggilan teleponku.
"Lin segeralah kemari dek" ucap mbak Eva dengan suara serak aku bertambah panik.
"Ada apa ibu mbak, jangan buat aku takut seperti ini, pasti terjadi sesuatu dengan ibu kan, jawab Mbak" tanyaku hampir menangis.
" Tadi malam ibu masih tampak baik - baik saja Lin dan subuh tadi mbak mendengar ibu memanggil mbak ibu ingin minum,disaat mbak kembali dari dapur membawakan ibu minum ibu sudah pingsan tidak sadar,mbak panik segera menghubungi Rahmad dan Lidya kami segera membawa ibu kerumah sakit,kamu tidak usah panik Lin ibu sudah ditangani dokter sekarang"
Ucapan mbak Eva tidak membuatku tenang, kakiku menjadi kaku dan sulit untuk digerakkan keringat dingin bercucuran di tubuhku seketika badanku terasa lemas,perasaan gundah dan sedih berkecamuk di hatiku,aku tak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu dengan ibu aku belum sanggup untuk kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupku suasana terasa mendung seperti suasana hatiku saat ini dengan sekuat tenaga dan berurai air mata aku mencoba bangkit berjalan menuju dapur dan meneguk segelas air putih.
"Bun, kami telah selesai apakah kita berangkat sekarang?" tanya putriku yang berada diambang pintu aku hanya mengangguk dan kami berangkat menuju kerumah sakit.
Dengan berlari - lari kecil aku melewati koridor rumah sakit menuju kamar rawat ibuku dan disana aku melihat abangku mas Rahmat dan kedua kakakku yang sudah berada disana terlebih dahulu.
Aku segera mendekat dan mbak Eva memelukku.
"Mana ibu mbak" tanyaku dengan panik.
"Didalam ibu sedang ditangani dokter Lin" ujar mbak Eva lirih,mbak Lidya mengusap punggungku"
__ADS_1
"Kita berdoa saja Lin,itu yang ibu harapkan dari kita saat ini" ucap mbak Lidya masih mengusap punggungku,tak berapa lama dokter keluar dari dalam ruangan dimana ibu dirawat,kami semua dalam keadaan cukup tegang menunggu penjelasan dokter.
"Bagaimana dengan ibu kami dokter" tanya mas Rahmat segera.
"Ibu saudara sudah melewati masa kritis namun sebaiknya biarkan beliau beristirahat"
"Tapi bolehkan kami melihat ibu kami dok" tanyaku tak sabar
"Sebaiknya jangan terlalu lama dan secara bergantian" ucap dokter memberi penjelasan setelah mendapat izin dokter aku melangkah menuju pintu kamar membiarkan mas Rahmat yang masih berbincang dengan dokter
Aku memasuki kamar rawat ibuku disana aku melihat ibu yang sedang terbaring lemah dengan mengunakan selang oksigen dan infusan mata ibuku tertutup kupandangi wajah tuanya,bulir - bulir jatuh membasahi pipiku hatiku begitu perih melihat kondisi ibu,menurut keterangan dokter yang disampaikan mas Rahmat pada kami ibu mengalami komplikasi penyakit yang cukup berat ditambah dengan faktor usia yang sudah lanjut diperlukan penanganan yang serius terhadap penyakit ibu, andaikan aku bisa menggantikan posisinya aku
akan merasa sangat bahagia.
Siang ini aku memilih untuk mendampingi ibu dirumah sakit karena memang peraturan rumah sakit yang hanya memperbolehkan Satu orang mendampingi pasien,kami mulai membagi jadwal untuk menjaga ibu dirumah sakit secara bergantian,maka mas Rahmat dan mbakku mereka terpaksa pulang,kedua putriku ikut pulang bersama mbak Eva.
"Lin mas pamit ya kalau ada apa - apa segera hubungi mas" ujar mas Rahmat dengan mengusap pundakku
Setelah semua pulang aku kembali duduk disamping ibuku,kembali kutatap wajahnya dan kuusap pucuk kepalanya, untuk saat ini hanya satu keinginanku aku ingin melihat ibu cepat pulih,aku merasa sangat menyesal aku selama ini hanya sibuk dengan urusanku sendiri hingga aku jarang berkunjung kerumah ibuku bahkan aku sempat merasa kesal pada ibu karena ibu selalu memaksaku untuk tetap hidup bersama Reza air mataku kembali tumpah sungguh aku seorang anak yang tidak berbakti pada ibu.
"Cepat sembuh bu,maafkan Lina" bisikku ditelinga ibu lalu kucium pipinya ibu mulai membuka mata secara perlahan ada buliran bening yang mengalir disudut kelopak mata tuanya,aku buru - buru menghapus air mataku agar ibu tidak ikut sedih dan aku berupaya tersenyum didepan ibu ada terselip kebahagian dihatiku melihat ibu yang sudah siuman akupun bergegas memanggil perawat,tak lama kemudian perawat tersebut bersama dokter datang dan segera memeriksa kondisi ibu.
Setelah melakukan pemeriksaan ulang dokter mengatakan keadaan ibu baik- baik saja saat ini dan segera berlalu pergi meninggalkan ruangan,hatiku bisa lega sekarang dokter pun telah melepas oksigen pada ibu.
"Lin ibu haus" ucap ibu lirih,aku segera memberikan minum pada ibu,agar kondisi ibu cepat pulih aku berupaya agar tetap ada makanan yang masuk untuk itu aku terus - terusan membujuk ibu untuk makan dan akhirnya ibu mau makan juga,kini ibu sedang terlelap tidur aku membiarkan ibu beristirahat dengan tetap berada disamping ibuku.
Sebuah notifikasi pesan terdengar berbunyi aku segera membukanya dan membaca.
"Baiklah jika ini kemauan mu agar kita mengakhiri semuanya aku terima,maafkan kesalahanku selama ini dan aku pamit"
Aku menyandarkan kepala di kursi setelah membaca chat Bagas hatiku sedih sejujurnya aku tak bisa untuk berpisah darinya tak ingin berlarut-larut dalam galau apalagi situasi ibuku yang sedang sakit saat ini aku memutuskan memberikan kesempatan pada Bagas dengan berusaha percaya pada ucapan Bagas bahwa wanita yang kulihat bersama Bagas adalah keponakan Bagas.
Perlahan aku menjauh dari ibu dan melangkahkan kakiku keluar kamar rawat ibu,tampa berpikir panjang aku mendial nomor Bagas dan langsung menghubunginya.
__ADS_1
"Halo"
"Iya halo"~ Bagas
Aku tidak tahu harus bicara apa hingga sesaat kami hanya saling terdiam
"Kok diam,masih marahkah?"
"Tidak"
"Tidak apa"
"Tidak marah"
"Lagi dimana sekarang?"
"Lagi dirumah sakit?"
"Kamu sakit yank"
Dan akhirnya suasana pun mencair aku dan Bagaspun berbaikan kembali tanpa mengungkit tentang permasalahan kemarin.
"Yank udah dulu ya aku tidak bisa lama - lama ninggalin ibu sendiri,tapi kamu janji tetap datang kemari kan 3 hari lagi?"
"Insyaallah aku akan tepati janji,Oke kalau gitu jaga ibu kembali dan jangan lupa dirimu untuk segera makan siang"
"Iya yank,makasih ya"
"Sama - sama muachhh"
Dan benar saja setelah mengakhiri obrolan dengan Bagas,aku merasa lapar cinta memang terkadang membagongkan bisa membuat kita terbang melayang namun juga bisa buat kita nyungsep jatuh tak berdaya.
#Bagi yang setuju dengan author ☝️bahwa cinta itu membaggongkan jng lupa mampir dan tinggalkan jejak dng membawa bunga 👌☺️#
__ADS_1