CINTAMU MEMBAWAKU PULANG

CINTAMU MEMBAWAKU PULANG
Eps.71


__ADS_3

Sesaat aku menghampiri perawat dan meminta bantuannya untuk menjaga kan Ibu sebentar, aku segera menuju ke kantin untuk mengisi perutku yang sudah mulai keroncongan aku menjadi sangat berselera makan siang ini.


setelah mengisi perut aku kembali ke ruangan ibu,tetapi tiba-tiba saja ponselku berdering sesaat aku menghentikan langkahku untuk kembali ke ruangan ibu.


Aku melihat sebuah nama muncul di layar ponselku dan ternyata itu adalah Fahri.


"Halo mbak cantik, apa kabar hari ini?"


"Kenapa Fahri,mbak sekarang lagi berada di rumah sakit nih"


"Di rumah sakit mana mbak,mbak sakit apa Mbak,Mbak sakit gara-gara cowok itu ya, ini namanya keterlaluan mbak aku akan menelepon cowok itu mbak, mbak bisa kan kirimkan nomor cowok itu"


"Fahri,Fahri dengarkan mbak dulu"


"Tidak bisa Mbak, cowok itu sudah nyakitin Mbak ini tidak bisa dibiarkan, sekarang Mbak jawab aku mbak berada di rumah sakit mana"


"Fahri dengerin dulu, Mbak tidak sakit tapi Ibu Mbak yang sedang sakit, kamu tuh ya emosian"


"Oh jadi bukan mbak yang sakit"


"Mangkanya kalau orang ngomong itu dengerin dulu Fahri"


"Maaf deh mbak aku kirain mbak yang sakit,jadi gimana keadaan ibu mbak sekarang?"


"Masih dalam masa pemulihan Fahri"

__ADS_1


"Mbak udah makan?" jangan lupa makan siang ya?"


"Udah Fahri,kamu juga ya"


Setelah ngobrol dengan Fahri aku kembali keruangan ibu.


"Terimakasih mbak" ucapku pada perawat tersebut


"Iya sama - sama mbak"


Perawat tersebut segera berpamitan denganku sementara ibu masih tertidur,aku kembali duduk disamping ibu,aku elus tangannya dan kupeluk tubuhnya dengan perlahan kerebahkan kepalaku disisi tempat tidur aku ingin sekali ibu mengelus pucuk kepalaku seperti yang pernah ia lakukan dulu,angan ku terbang melayang kemasa lalu tangan inilah yang dulu selalu merawat ku dengan penuh kasih sayang dan tangan ini lah yang selalu memanjakan aku dengan masakan nya tak pernah perutku merasakan kelaparan,hingga aku dewasapun semua ibu lakukan tak pernah sedikitpun ia mengeluh mengingat itu semua aku merasa sangat bersalah pada ibu karena sampai detik aku masih saja mengabaikan nasehatnya.


"Maafkan aku ibu" bisikku didalam hati perlahan ibu terlihat mulai bangun aku segera melepaskan pelukanku dan mengusap mataku aku tak ingin membuat ibu bingung dan bertanya mengapa aku bersedih.


"Ibu sudah bangun? ucapku dan tersenyum pada ibu,ibu mengangguk dan mengusap punggung tanganku.


"Ibu mau Lina memijatnya?"


Lagi - lagi ibu cuma mengangguk aku dengan senang hati berpindah duduk dan segera memijat kaki ibu secara perlahan - lahan agar ibu tidak merasa sedang sakit aku mengajak ibu ngobrol untuk menghiburnya dengan cerita masa lalu dan sepertinya cerita tersebut mampu membuat ibu tersenyum raut wajah ibu sedikit berubah cerah.


"Jadi ibu masih mengingatnya?"


"Iya,dan semua itu kan gara - gara kamu bandel"


"Tapi ibu saat itu panik banget bu, sampai sekarang Lina ingat,walau akhirnya ibu marah juga dengan Lina"

__ADS_1


Akhirnya kami saling menatap dan kemudian tersenyum kembali kami mengingat kembali kejadian masa lalu.


Ketika itu aku sedang berada di boncengan sepeda ibu, saat itu kami sedang menuju pulang kerumah setelah selesai dari kebun waktu itu aku masih duduk dibangku sekolah menengah pertama kelas 1 ( kalau sekarang kelas 7 ) aku begitu tertarik akan bunga - bunga liar yang mekar sepanjang jalan aku meminta pada ibu untuk memetik bunga - bunga tersebut.


Ibu Pun menuruti permintaanku dan memetik bunga - bunga tersebut dengan cukup banyak lalu kembali melanjutkan perjalananan menuju rumah,namun dipertengahan jalan ada berbagai bunga - bunga liar yang juga tumbuh bermekaran dengan warna yang berbeda aku kembali meminta pada ibu untuk memetiknya ibu pun kembali menuruti keinginanku dan memetiknya bunga - bunga liar diberikan kepadaku lalu kembali mengayuh sepeda.


Namun aku merasa belum cukup karena sepanjang jalan setapak itu berbagai bunga liar tumbuh indah dan berwarna - warni lagi - lagi aku meminta pada ibu untuk mengambilkan bunga itu untukku,saat itu ibu menolak aku terus membujuk ibu dan ibu akhirnya kesal kala itu Ibu mengabaikan keinginanku dan terus saja mengayuh sepedanya, akupun merasa kecewa pada ibu agar ibu mau berhenti dan aku mendapatkan bunga tersebut aku pun mencari akal, aku memasukkan kakiku pada lingkar sepeda lalu aku pun berteriak terdapat goresan di kakiku yang hingga kini masih membekas Ibu akhirnya menghentikan sepedanya.


Kakiku benar terluka tapi tidak begitu parah ketika itu Ibu sangat panik dan berusaha memijat kakiku namun aku berpura-pura terus tetap menangis Ibu mencoba membantuku untuk berdiri namun aku sengaja tidak bisa berdiri dalam situasi tersebut aku melancarkan strategi ku, dengan wajah ekspresi memelas aku meminta pada ibu untuk memetik bunga yang dari tadi sangat kuinginkan baru saja Ibu hendak melangkah mengambil bunga yang ku inginkan tiba-tiba Pakde Renggo lewat di depan kami, ibu pun minta tolong pada Pakde renggo karena Pakde Renggo terkenal seorang tukang urut yang sangat ahli, kehadiran Pakde Renggo benar-benar merusak rencana ku aku panik sekaligus takut jika harus dipijat Pakde Renggo tentu akan sangat sakit sekali dan nanti ya pasti kebohonganku akan terbongkar,Aku panik entah apa yang ada dipikiran ku saat itu secara spontan aku langsung bangkit dan berdiri tegak, terkuak sudah tipu muslihat ku Ibu pun menyadari bahwa saat itu aku hanya berpura-pura.


Ibu langsung menjewer telingaku didepan pakde Renggo lalu segera meninggalkanku sedangkan Pak Renggo hanya menatap heran dan masih berdiri tepat di depanku, aku semakin ngeri melihat tatapan Pakde Renggo yang berwajah seram tersebut dengan mata besar dan kumis tebal seperti kumis Pak Raden tanpa menunggu aba-aba aku langsung segera berlari mengejar ibuku sambil menangis dan memohon maaf kepada ibu,hati ibu pun luluh saat itu dan menghentikan sepedanya, Ibu menatapku dengan tatapan yang tajam aku semakin menangis meraung-raung namun sesaat kemudian ibu malah tertawa terbahak-bahak melihat ke bandelan ku dan akhirnya aku pun menghentikan tangisan ku dan ikut tertawa lepas.


Mengingat kejadian itu ibu pun kembali tertawa seperti dulu lagi aku bahagia melihat tawa ibuku disore ini tawa yang masih seperti dulu.


Sesaat ibu sepertinya melupakan bahwa sekarang ia sedang sakit,ibu ternyata masih mengingat dengan jelas kejadian itu.


"Tapi setelah itu kamu tetap kembali meminta pada ibu untuk memetik bunga - bunga itu kan Lin"


"Ibu salah bu, Lina kembali mengambil bunga - bunga yang Tampa sengaja tertinggal karena takut melihat tampang pakde Renggo saat itu bu"


Aku sengaja membuat cerita yang berbeda sekedar ingin tahu reaksi ibuku,namun ibu malah tersenyum dan mengusap pucuk kepalaku,ibu tidak pernah lupa Lin tentang semua yang pernah ibu lalui bersama anak - anak ibu,karena setiap saat bersama anak-anak merupakan kisah yang terindah buat seorang ibu, Ibu bahkan tahu apa yang tersimpan di dalam hati anak-anak, kendati mereka tersenyum namun Ibu bisa membaca apa yang tersirat di dalam hati anak-anak ibu.


Jleb.......


kata - kata ibu begitu dalam seolah kata tersebut sedang menghakimi ku secara tidak langsung hari ini, senjata makan tuan namanya kalau sudah begini.

__ADS_1


"Bu gerah kan ayo Lina bantu untuk membasuh badan ibu"ucapku mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan sore ini,ibu memandangku dengan tatapan yang berbeda, aku segera mengambil tisu dan mulai mengelap tubuh ibu.


__ADS_2