
Saat bangun pagi seperti biasanya aku langsung segera membersihkan diri dan menjalani rutinitas sehari - hari,saat aku membersihkan tempat tidur aku melihat ponselku dan mengaktifkannya kembali aku melihat ada 3 kali panggilan telepon dan 2 pesan singkat dari Bagas,Bagas tampak tak begitu khawatir terhadap diriku,ia hanya mengirim sebuah pesan dan menanyakan kenapa aku tidak mengangkat telepon dari nya dan aku lagi dimana,hanya sesingkat itu aku menyesal telah membaca chat dari Bagas membuat ku bad mood.
Baru saja aku mengaktifkan ponselku namun Fahri langsung meneleponku.
"Pagi mbak ku yang cantik"
"Iya ada apa Fahri?
"Motornya pagi tadi udah aku anterin ya mbak aman didepan teras rumah dan maaf aku tau mbak masih tidur aku tidak ingin menganggu mbak"
"Terimakasih Fahri"
"Mbak kok nampak lemes gitu,cowok mbak telepon kah atau kirim pesan?" kalau aku boleh ngasih masukan mending mbak jauhi cowok mbak itu,tapi semua terserah mbak sih"
"Mbak coba Fahri dan sekali lagi mbak ucapkan terimakasih ya"
"Biasa aja mbak,oiya kalau mbak ada apa - apa jangan sungkan kasih tau aku ya"
"Oke"
"Bye mbak cantik"
Aku kembali menyelesaikan pekerjaanku namun pikiranku lagi - lagi pada Bagas sampai hati ia membohongiku padahal ia sedang berada disini ia lebih memilih bersama dengan wanita tersebut ketimbang bersamaku,aku sengaja tidak membalas chat dari Bagas, hatiku masih sangat sakit.
Aku sedang melakukan kegiatan menyetrika pakaian para langganan ku, saat Bagas sedang meneleponku aku sengaja tak menjawabnya,kemudian iya mengirimkan pesan WhatsApp, kembali aku mengacuhkannya,entah mengapa kali ini ruangan ini rasanya hampa udara, pikiranku kembali terbang melayang awal pertama aku dipertemukan kembali dengan Bagas, aku sama sekali tak menyangka Bagas adalah lelaki yang suka mempermainkan hati seorang wanita,aku semangkin terluka mengenangnya tatapan ku begitu kosong kini aku benar - benar kehilangan gairah untuk hidup.
"Bunda om Bagas telepon nih"
Lamunanku seketika buyar, putriku tiba -tiba muncul sambil menyerahkan ponsel miliknya kepadaku, aku segera menerima panggilan telepon dari Bagas.
"Halo yank kok dari tadi malam dirimu tidak mengangkat panggilan telepon dariku"~ Bagas
"Mengapa menghubungi diriku kembali"
__ADS_1
"Maksudnya"~ Bagas
"Setelah puas dengan nya, baru dirimu menghubungiku, dirimu anggap aku apa!"
"maksudnya apa sih Yank" ~ Bagas
"sekarang nggak usah muter-muter deh"
"dirimu lo yank yang muter-muter"~ Bagas
"Oke sekarang jelaskan denganku,siapa wanita yang sore semalam bersamamu"
"yang mana dan kapan aku aja masih disini"
Aku mulai menangis sebegitu bertahannya Bagas untuk mengelak, sementara dengan jelas aku melihatnya sore kemarin Bagas bersama dengan seorang wanita disebuah Mall,aku tak sanggup untuk berdebat dengan Bagas aku segera memutuskan sambungan telepon dengan Bagas, namun berulang kali Bagas kembali menghubungiku.
"Ada apa lagi sih" tanyaku masih dengan terisak.
"Keponakan kok mesra gitu"
"Terserah dirimu yank,menilainya dan aku ucapkan terimakasih atas penilaian mu terhadap diriku, yang jelas 5 hari lagi aku bakal kesana dan paling aku akan jalan - jalan sendirian nanti jika dirimu tak ingin menemuiku"~ Bagas
"Terserah mau jalan sendiri,mau berdua bukan urusanku"
"Yakin nggak mau lagi,okelah kalau begitu tas ini bakal aku kasih sama orang"~ Bagas
"Bodo"
"Jangan nangis ya,kalau gitu?"~ Bagas
"Mulai sekarang jangan hubungi aku,mengerti terlebih jangan lagi telepon ke nomor anakku"
"Oke baiklah"
__ADS_1
Aku segera memutuskan sambungan telepon dari Bagas,semudah itu ia menanggapi perkataan ku Tampa sedikitpun mau membujukku,**** lagi - lagi aku mengharap Bagas.
Setelah memutuskan obrolan dengan Bagas aku malah semangkin kesal dan uring-uringan, aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, "ya tuhan kok makin parah gini sih"bathinku.
Aku butuh Fahri aku nggak kuat harus memendamnya sendiri kali ini aku mencoba menghubungi Fahri
"Ada apa mbak cantik" terdengar suara Fahri dari seberang sana,apa masih sakit hati mbaknya"
Dan akhirnya aku menceritakan semuanya pada Fahri, literally semuanya sudah tidak ada yang kututupi dari Fahri karena hanya ada dia tempat untuk berkeluh kesah saat ini,
"jadi cowok Mbak bilang wanita itu keponakannya, dan Mbak percaya?"
"Mbak ragu Fahri karena saat Mbak melihat mereka begitu mesra"
"jadi sekarang apa keputusan Mbak"
"Mbak bingung Fahri karena semakin Mbak menjauhinya mbak semakin tersiksa"
"Ya udah mbak untuk saat ini, Mbak boleh mempercayainya mungkin saja apa yang diucapkan tuh cowok memang benar adanya, nggak ada salahnya Mbak memberikan kesempatan yang kedua buat tu cowok"
Setelah puas curhat selama hampir setengah jam pada Fahri tentang masalah yang sedang kuhadapi akupun mengakhiri sambungan telepon,aku mengusap air mata yang kembali mengalir di pipi, mataku tertuju pada ponsel yang terletak tepat di sampingku kuraih ponselku dan mulai mengecek pesan whatsapp, tidak ada satupun pesan dari Bagas, tiba-tiba mataku tertuju pada pembaharuan SW di WhatsApp aku membuka sw tersebut, dan ternyata Bagas sedang mengupdate sw dengan rasa penasaran aku lihat status Bagas yang ternyata hanya sebuah photo dirinya yang tersenyum sangat manis dan Bagas menambah caption diphoto yang diunggah tersebut "sedang mengusahakan semoga tuhan mengiyakan"
"benar-benar sialan"umpatku aku baru sadar dengan melihat sw Bagas itu adalah hal yang paling bodoh yang pernah kulakukan, dengan menyadari kebodohanku tadi aku segera keluar dari aplikasi WhatsApp.
tak berapa lama kemudian notifikasi sebuah pesan whatsapp masuk di ponselku dan itu dari Bagas.
"Cie ada yang penasaran dengan sw aku kayaknya nih siapa ya kira - kira 😆"
Perasaan yang campur aduk membuatku menonaktifkan ponselku tapi sialnya aku tetap saja kepikiran Bagas sejujurnya aku masih sangat mencintainya bahkan aku merindukan kehadirannya saat ini namun sesaat kemudian darahku kembali mendidih hingga luka di hatiku semangkin berdarah - darah bila teringat saat Bagas menatap wanita tersebut karena dorongan rasa penasaran akhirnya aku stalking akun FB Bagas melalui ponsel putriku aku melihat unggahan Bagas 3 Minggu yang lalu terlihat photo Bagas sedang bersama sang istri bergandeng tangan dan saling berpelukan.
Hatiku bagai disayat sembilu melihat photo tersebut....."oh tuhan mengapa bukan aku yang menjadi pendamping Bagas,mengapa aku harus melalui cinta yang menyedihkan ini tuhan,apakah aku tidak berhak untuk hidup bahagia tuhan,mengapa semuanya semangkin sulit terasa, sejak kapan dan sudah berapa kali Bagas telah selingkuh dariku"bisikku di dalam hati.
Dengan susah payah aku mencoba fokus pada pekerjaan ku yang menumpuk dan memang sangat sulit untuk fokus bila menyangkut tentang sebuah permasalahan.
__ADS_1