CINTAMU MEMBAWAKU PULANG

CINTAMU MEMBAWAKU PULANG
Eps.73


__ADS_3

Cuaca sedang cerah cerahnya, langit belum begitu gelap, namun begitu lampu taman kota mulai menyala diikuti lampu lampu jalan yang yang menambah kesan romantis dengan caranya sendiri.


Meskipun sudah mengenakan sweater namun hawa dingin tetap terasa sampai ke kulitku, aku mencengkeram erat dengan Bagas dan menyandarkan kepala di pundaknya, untuk sepersekian detik Bagas masih diam hingga akhirnya ia mengecup pucuk kepalaku dengan begitu lembut.


Ditepian pantai dengan tidak memperdulikan orang-orang sekitar yang masih berada di pantai untuk menikmati sunset yang hampir tenggelam Bagas melepaskan cengkeraman tanganku di lengannya lalu kemudian melingkarkan tangannya di pinggangku semakin merapatkan duduknya.


Tiba-tiba Bagas meraih wajahku menghadap padanya kupejamkan mataku aku hanya dapat merasakan hembusan nafas Bagas di wajahku,semangkin dekat dan cup........ Bagas mencium ku aku lalu tersadar saat ini kami sedang berada di mana lalu aku mendorong wajah Bagas untuk sedikit menjauh aku mencoba menahan gejolak rasa yang beberapa bulan ini membuatku gila.


Bagas melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangku lalu sedikit menggeser menjauh ia menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan lalu menyandarkan tubuhnya ke Bangku dan menyilangkan kedua tangannya di dada tampak di wajahnya semburat kekecewaan.


"Dirimu kenapa yank, kayak nggak semangat gitu, dirimu masih marah dan tidak mempercayai ucapanku" tanya Bagas menoleh ke arahku.


Kini giliranku yang menggeser duduk merapat pada Bagas lalu kuraih tangannya dan menggenggam erat tangannya.


Ponselku berdering secara tiba - tiba,aku mengacuhkan panggilan telepon tersebut, Bagas menoleh ke arahku dan menatapku lekat.


"Kok nggak diangkat yank" tanya Bagas perasaanku mulai tidak enak.


"Nanti aja aku masih menikmati kebersamaan bersama denganmu"


Namun lagi - lagi ponselku mengeluarkan bunyi kali ini aku meraih ponsel dari dalam tasku tertera nama Fahri di layar ponselku Bagas lalu mengambil ponsel dari tanganku dan segera menerima panggilan telepon dari Fahri.


"Halo siapa ini?"


"Saya Fahri dan anda siapa ya kok anda yang angkat telepon saya?"


"Saya pacarnya!"


"Santai mas bro nggak usah pakai ngegas"


Bagas segera mematikan sambungan telepon,lalu menatapku.


"Siapa dia?"


"Teman dan bukan siapa - siapa"

__ADS_1


"Sejak kapan?" dan sudah pernahkah kalian berdua jalan bareng?"


"Dia keponakanku"


"Bulshit,keponakan ketemu gede?"


Aku lalu tersenyum menatap wajah Bagas sumpah dalam keadaan marah Bagas tetap tampak tampan aja,kira - kira ibunya ngidam apaan ya dulunya,aku sudah tidak sabar ingin segera membawa wajah itu lebih dekat padaku,ia lalu melirik kearahku lalu tersenyum smirk.


"Yank kamu kok ganteng banget sih,aku jadi pengen"


"Sama cowok itu dirimu nggak pengen?"


Aku lagi - lagi menggeleng masih saja menatapnya,kembali ku genggam erat jemari tangannya lalu bersandar dibahunya sesaat aku tenggelam bersama sunyi malam yang mulai menutup hari dengan sempurna.


Sekitar pukul 7 malam tiba - tiba langit berubah mendung angin pun bertiup cukup kencang aku panik memandang pada Bagas namun Bagas sedikitpun tak bergeming pada cuaca yang mulai tak bersahabat itu,Bagas malah mengenggam erat tanganku sementara para pengunjung lainnya mulai bergegas melangkah pergi meninggalkan tepian pantai.


"Yank ayo kita pulang tampaknya sebentar lagi bakal hujan"


"Kenapa kayak nya dirimu panik gitu,atau sengaja hujan menjadi alasan dirimu agar secepatnya bisa bertemu cowok itu"


"Jadi aku harus ngomong apa"


Ditengah perbincangan kami yang belum kelar akhirnya hujan turun begitu derasnya Bagas menarik tanganku berlari menuju mobilnya jarak mobil yang terparkir tidak begitu jauh namun karena hujan yang turun sangat deras membuat pakaian ku basah,lalu Bagas buru - buru membuka pintu mobil dan kami segera masuk kedalam mobil.


Aku terkesima melihat dada bidang Bagas saat ia membuka bajunya lalu aku melemparkan pandanganku kearah luar mobil,Bagas hendak mengambil sesuatu dibelakang ku tak sengaja aku menoleh kearahnya dan mata kami saling beradu pandang jantungku berdegup tak karuan sontak aku memalingkan wajah dan memejamkan mata aku begitu sangat ingin seperti dulu namun situasi saat sekarang membuatku menahannya.


Bagas menyodorkan handuk padaku aku buru - buru menerimanya lalu mengeringkan rambutku.


"Buka bajunya nanti masuk angin" ucap Bagas


Pikiranku semangkin kacau "apakah Bagas akan melakukannya disini, didalam mobil ini" bathinku


"Aku nggak bakal aneh - aneh kok,aku tahu cowok itu lebih menarik dan bisa membuat dirimu bergairah untuk melakukannya"


Plak......secara repleks aku menamparnya,aku sangat emosi Bagas begitu rendah menilaiku, kendati aku akui aku sangat kesepian saat dirinya jauh, namun aku tidak akan segampang itu dan melakukannya dengan orang lain.

__ADS_1


"Aku bisa melakukannya denganmu namun aku tidak akan pernah melakukannya dengan orang lain karna aku mencintaimu dan kulakukan itu atas dasar cinta,jadi tolong jangan menilaiku serendah itu"


Aku sudah tidak bisa membendung air mataku, ucapan Bagas benar - benar sangat menyakiti hatiku aku mengigit bibirku sendiri menahan rasa sesak didada.


Bagas memelukku secara tiba- tiba aku menumpahkan tangisan didadanya,Bagas mengecup pucuk kepalaku.


"Maafkan aku sayang jujur aku cemburu"


Bagas menyentuh daguku dengan ujung jarinya kembali mata kami saling menatap Bagas kemudian mulai mencium ku aku memejamkan mata membalas ********* mangkin lama mangkin *****.


Bersama deras hujan yang mengguyur bumi kini tubuhku hanya dibalut selimut berwarna krem,didalam mobil ini kami menuntaskan segalanya.


skip aja ya 😉 kalian semua tahu apa selanjutnya yang terjadi.


Hujan mulai reda kami segera meninggalkan pantai Bagas mengarahkan mobil menuju jalanan yang sudah sepi, tiba disalah satu toko pakaian yang tampak masih buka Bagas menghentikan mobilnya,mengusap rambutku dan mencium pipiku lalu keluar dari dalam mobil,tak berapa lama iapun kembali memberikan paper bag padaku yang berisikan pakaian wanita,aku segera mengenakannya namun aku begitu kaget ternyata Bagas juga membelikanku dalaman dan sangat pas dengan ukuran punyaku,aku menoleh dan menatapnya.


"Jangan heran yank aku sudah merasakannya tentu aku tahu ukurannya" Bagas mengedipkan mata mengodaku wajahku memerah tersipu malu.


"Yank kita makan dulu yuk lapar nih" ujar Bagas aku hanya mampu menganggukkan kepala


Malam ini benar - benar sangat ramai banyak orang keluar rumah memadati restoran - restoran mungkin saja mereka merasa lapar apalagi saat cuaca dingin dan setelah hujan turun begitu lebatnya hampir tidak ada satu tempat pun sepi dari pengunjung


Seketika aku membeku terdiam tak bergeming saat Bagas membukakan pintu mobil untuk ku,


"Buruan yank udah lapar nih,nanti kalau mau lanjut kita kehotel aja" ucap Bagas tersenyum aku cemberut kesal dengan Bagas pikirannya selalu ngeres tapi aku suka.


"Disini ramai bagaimana jika ada yang mengenali kita?"


"Kita disini untuk makan yank,bukan gituan,jadi kalau adapun yang melihat kita tidak masalah bukan,toh kita cuma sekedar makan malam,ayolah "


Walau sedikit ragu aku akhirnya turun juga dari dalam mobil.


Seorang pelayan mempersilakan kami duduk dibangku paling pojok karena hanya bangku itulah yang saat ini masih tersisa,ternyata Bagas benar - benar lapar ia menghabiskan makanan dipiringnya hingga tidak tersisa sedikitpun aku segera mengambil tisu dan menempelkan pada bibir Bagas seperti biasanya Bagas akan memintaku melakukannya saat makan bersamanya dan aku sangat - sangat senang melakukannya.


Aku tak menyadari perlakuanku pada Bagas telah menjadi perhatian seseorang yang kebetulan berada disana,ponsel didalam tas bergetar sebuah pesan masuk,beruntung saat ini suasana riuh membuat Bagas tak mendengarnya sama sekali...........

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2