CINTAMU MEMBAWAKU PULANG

CINTAMU MEMBAWAKU PULANG
Eps.39


__ADS_3

Kerinduan saat - saat seperti ini yang telah lama kami inginkan akhirnya terbalas sudah.


Kami masih terbaring diatas tempat tidur,dengan mata yang masih terpejam,terasa kami tak ingin mengakhiri sisa - sisa sore ini yang akan segera berakhir


Tiba - Tiba dering suara ponsel memecah kebisuan ketika sedang menikmati kebersamaan kami disore ini,Bagas mengecup keningku dan segera melepaskan pelukannya,ia meraih ponsel miliknya.


Dari pembicaraan Bagas aku segera tahu siapa yang sedang meneleponnya.


"Hallo sayang " sapa bagas dengan suara seraknya dan langsung dijawab oleh suara diseberang sana.


"Iya aku ketiduran sayang habis lembur sangat menguras tenaga jadi aku kelelahan,maaf sayang" ujar Bagas


"Oke aku segera pulang,sabar sayang oke,bye muachhh" ujar Bagas mengakhiri pembicaraan dan segera meletakkan ponsel miliknya,dan kembali merebahkan tubuhnya disampingku


Aku membuang muka mengarahkan pandanganku keluar jendela


"Istrimu?" tanyaku dengan nada cemburu


Bagas membawa wajahku mengarahkan padanya dan menyibakkan lembaran rambut yang menutupi kening dan pipiku ia tak menjawab pertanyaan ku kemudian Bagas membenamkan wajahku didadanya sehingga dapat kurasakan degup jantungnya.


"Apakah kau mencintaiku?"


"Apakah aku harus menjawabnya?"


"Ia dirimu harus menjawabnya" aku mulai.menangis


Bagas melepaskan pelukannya dan telentang menghadap ke langit - langit kamar ia hanya diam dan menarik napas lalu membuangnya.


"Ta.....tahukah dirimu aku cu....cukup tersiksa dengan keadaanku sekarang ini.


Bagas bangkit dari tidurnya dan membelai rambutku,aku sudah berurai air mata


"A....ku begitu menderita harus melayani orang yang tidak kucintai..... sementara itu hatiku juga sakit membayangkan dirimu disana"


"Bukan dirimu yang saja terluka,aku juga sama sayang tapi harus bagaimana aku tak mungkin meninggalkannya"


Hatiku semangkin pilu mendengar perkataan Bagas.

__ADS_1


"Aku tak ingin sore ini berakhir aku ingin setiap saat bersamamu......ataukah seharusnya kita mengakhiri kisah mimpi ini?"


"Kisah kita bukan mimpi sayang.....kita akan berusaha mewujudkan mimpi ini"


"Berjanjilah.....padaku" ujarku bergetar


"Aku akan berusaha mewujudkan mimpi kita aku akan membantumu untuk mendapatkan hak asuh anak - anak,tapi ingatlah aku tak mungkin meninggalkan istri ku,kendati aku selalu lebih memilih ingin melewati malam bersamamu"


Aku menangis terisak - isak,Bagas kembali memelukku dan menghapus air mataku


"Tolong mengerti sayang,kamu mau kan?"


Begitulah akhir cerita sore itu aku dihadapkan dengan dua pilihan yang sama - sama sulit aku takut jika nantinya aku tak mampu menahan rasa cemburuku dan tak sanggup untuk berbagi kasih,kerena aku terlalu mencintai Bagas sepenuh jiwaku.


Lagi - lagi aku harus berhadapan dengan kepahitan, selama 4 hari Bagas sama sekali tidak meneleponku,bahkan menanyakan kabar melalui pesan pun tidak,dia sedang bersama istrinya mungkin disana sedang bersenang - senang sementara aku disini sedang menunggu kabar darinya,inilah resiko yang harus ku tanggung karena aku telah berani masuk di kehidupan rumah tangga mereka.


Hari ini adalah hari terakhir bulan Desember meskipun demikian hujan turun masih sangat deras mengguyur bumi,membuat orang - orang malas untuk melakukan aktivitas.


Aku masih berada dalam pelukan selimut saat sebuah pesan masuk diponselku sinarnya membuat aku memicingkan mataku yang memang masih digelayuti rasa kantuk.


Aku membaca pesan yang dikirim oleh Bagas.


Aku hanya membaca pesan yang dikirim oleh Bagas tampa berniat membalasnya, aku tau saat ini ia sudah kembali aku memilih melanjutkan tidurku.


Jelang sore hujan agak mulai reda,hanya gerimis yang masih setia jatuh membasahi bumi,sore ini sama dengan sore biasanya aku duduk disamping jendela kamar dengan ditemani segelas kopi hangat aku memandangi setiap rintik hujan yang jatuh membasahi bunga mawar yang berada disamping jendela kamarku setiap tetesannya membawa harapan bagi sang mawar untuk tumbuh lebih indah.


Hujan mempunyai alasan mengapa ia turun membasahi bumi,sedang aku sendiri tidak punya alasan mengapa aku harus jatuh hati pada Bagas yang jelas tidak bisa kumiliki secara utuh,aku kembali mengingat saat malam Bagas berbagi kasih dengan yang lain hatiku begitu sakit bak ditusuk seribu belati.


Bagi sebagian orang pasti menganggap aku egois namun aku yakin tak sedikit orang yang setuju padaku ketika ia menghadapi kenyataan yang sama seperti diriku.


Lamunanku seketika buyar dikejutkan oleh suara putriku yang tiba - tiba muncul dihadapanku.


"Bun pesanannya udah sampai,omnya lagi ada didepan tu"


Seketika aku mengkerut kan dahi karena aku tak pernah memesan satu barang pun.


"Lho emang anak Bunda ada pesan sesuatu kah?"

__ADS_1


Putriku menggelengkan kepala menandakan bahwa ia sedang tak memesannya,aku semangkin penasaran lalu segera bangkit dari dudukku dan segera menuju ruang tamu.


Aku segera memutar kenop pintu betapa kaget nya aku saat mengetahui siapa orang yang sedang berdiri dihadapanku saat ini,dengan membawa kotak pizza ditangannya.


Aku segera menutup pintu dan berbicara dengan Bagas diteras rumah.


"Kamu kenapa nekad begini sih,jika ada yang melihatnya bisa habis aku"


"Biarin biar Reza suamimu tercinta itu tahu dan segera menceraikan mu"


"Ngaco kamu" jawabku kesal


"Oh ternyata ada yang sudah mulai menyayangi sang suami,baiklah kalau begitu dan maaf jika kehadiranku mengganggu"


Setelah meletakkan kotak pizza diatas meja Bagaspun segera beranjak akan pergi namun secara spontan aku segera menahannya.


"Jangan pergi yank aku mencintaimu"


Aku sungguh tidak tahu mengapa aku menahan Bagas pergi,perasaan sayangku memang tidak bisa untuk kututupi dari Bagas,disisi lain aku ingin menjauh dari Bagas namun saat Bagas ingin menjauh seakan aku tidak ingin berpisah dengannya mengapa cinta harus sesulit ini........oh entahlah,Bagaspun segera mengurungkan niatnya.


"Maaf nyonya saya tidak mendengar apa yang nyonya katakan tadi,bisakah diulang lagi?"


"Nggak lucu tau" ucapku cemberut mencibir


Bagas mencubit hidungku,setelah beberapa saat mengobrol bersama Bagas diteras rumah aku meminta Bagas untuk segera pulang.


"Baiklah yank tapi ntar malam kita ketemu yuk"


"Nggak bisa yank anak - anak bakal curiga karena aku jarang ada urusan malam - malam bahkan bisa dikatakan tidak pernah"


"Aku kangen yank,kalau besok siang kamu tau sendiri aku bekerja" ujar Bagas dengan raut kecewa


Aku dan Bagas memang hanya bisa bertemu saat dirinya cuti dan itupun Waktu kami terbatas karna ia harus segera mengunjungi sang istri tepat Waktu,setelah aku memberi pengertian pada Bagas iapun akhirnya bisa mengerti.


"Baiklah yank tapi jangan cuma dibaca doang chatku dan jangan cuek saat aku telepon ok"


Aku mengganggukkan kepala dan tersenyum padanya,Bagas mencubit hidungku dengan mesranya dan segera berpamitan padaku.

__ADS_1


Aku segera masuk kedalam rumah sembari senyum sendiri inilah kelebihan Bagas dibanding Reza,Bagas selalu memberi perhatian padaku dan selalu berusaha untuk membujukku saat aku sedang marah namun Reza tidak pernah berbuat sekali pun bahkan sudah hampir 1 bulan Reza tidak pulang kerumah sedangkan untuk meneleponku bisa dikatakan jarang.


Aku segera menghampiri kedua buah hatiku yang sedang berada dikamarnya dan memanggil mereka untuk menikmati pizza dari Bagas.


__ADS_2