CINTAMU MEMBAWAKU PULANG

CINTAMU MEMBAWAKU PULANG
Eps.65


__ADS_3

Fahri mempersilakan aku masuk,akupun segera masuk kedalam rumah aku mendengar suara orang yang sedang terbatuk-batuk dari dalam rumah.


"Mbak silakan duduk sebentar,saya mau kedalam dulu ya"


karena sudah kebelet pipis dan aku tidak bisa untuk menahannya aku segera menghentikan langkah Fahri yang hendak melangkah pergi menuju sebuah kamar dimana datangnya suara batuk dari seorang wanita yang bisa kutebak dari suara tuanya pasti beliau adalah nenek Fahri.


"Fahri mbak numpang kamar kecilnya"


"Owh silakan mbak langsung kebelakang,aku mau melihat nenek dulu dikamar"


Aku segera buru - buru menuju kamar mandi yang sudah diarahkan Fahri tersebut,rumah nenek Fahri tidak begitu besar namun suasananya sangat asri ruangannya begitu bersih dan tertata rapi.


Setelah selesai dari kamar mandi aku segera kembali menuju ruang tapi namun aku begitu penasaran saat melalui sebuah kamar yang tidak tertutup rapat aku mencoba melihat dari sela - sela gorden pintu kamar saat itu aku melihat begitu telatennya Fahri yang sedang mengurusi sang nenek yang sepertinya sedang sakit.


Aku mencoba memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar namun ada sedikit keraguan didalam hatiku.


"Masuk aja mbak gapapa kok" ujar Fahri dari dalam kamar.


Akupun melangkah dan mendekati Fahri yang sedang menyuapi bubur neneknya,wanita tua itu menatapku penuh tanya aku tersenyum padanya wanita tua itu seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Oiya mbak inilah nenekku yang kuceritakan kemarin pada mbak beliaulah yang selama ini mengurusi ku" ucap Fahri


"Nek ini teman Fahri nek"


"Halo nenek " sapa ku sambil menyalaminya sang nenek tersenyum kepadaku dan mengajakku agar duduk disampingnya.


"Oiya Fahri kakek kamu kemana kok mbak dari tadi tidak melihatnya?"


"Saat ini kami hanya tinggal berdua dirumah ini mbak,kakek telah menghadap yang maha kuasa setengah tahun lalu"


"Jadi siapa yang jagain nenek saat kamu bekerja?"


"Ada mbak cuma si bibik hari ini lagi izin karena lagi ada urusan kelurga"


Sang nenek tampak senang saat aku menyuapi buah padanya ia pun mengusap lembut tanganku.


"Fahri mbak salut sama kamu,terus jadi pribadi yang baik ya dan selalu jagain nenek dengan penuh kasih sayang"


"Insyaallah mbak,nenek sudah Fahri anggap seperti ibu kandung Fahri"


Kuusap pundak Fahri untuk memberikan kekuatan atas apa yang sudah ia jalani aku bisa merasakan apa yang Fahri rasakan,sakit memang saat kita harus kehilangan orang yang sangat kita cintai apalagi sudah tidak bisa bertemu ketika rasa rindu itu kembali hadir.


Matahari mulai naik pertanda hari sudah siang aku segera pulang setelah berpamitan pada nenek dan Fahri,nenek tampak sedih saat aku akan pulang nenek memintaku agar kembali mengunjunginya akupun berjanji pada nenek ketika ada waktu luang aku akan mengunjunginya kembali,kukayuh sepedaku dengan hati yang nelangsa melihat kehidupan Fahri pastinya Fahri begitu kesepian.


Sebelum pulang kerumah aku mampir ke salah satu pasar tradisional untuk membeli keperluan berbagai bahan - bahan dapur.

__ADS_1


Sebelum benar - benar masuk kedalam pasar aku memarkirkan sepedaku terlebih dahulu,aku menghentikan langkah saat mataku tampa sengaja melihat mobil Bagas yang melintas sangat cepat tepat didepanku,namun Bagas tidak sedang sendirian di samping Bagas duduk seorang wanita cantik dan aku tahu benar itu bukanlah istri Bagas.


Dadaku terasa sesak,hatiku berkecamuk terjadi perdebatan didalam pikiranku, mengapa semua terasa semangkin sulit aku menarik napas dalam,dan meneruskan langkahku kedalam pasar dan berbelanja,mungkin tadi aku hanya salah lihat,bukankah Bagas saat ini berada diluar negri? aku menyakinkan diri mencoba menghibur diri sendiri walau dalam hati kecilku tetap mengatakan bahwa itu benar mobil Bagas.


Aku kembali menuju parkiran setelah selesai berbelanja dan kukayuh kembali sepedaku pulang kerumah kujalani rutinitas ku dengan hati yang gusar aku begitu tidak bersemangat.


Kali ini aku merasa sangat jenuh setelah menyelesaikan pekerjaan rumah aku tak tahu akan berbuat apa,kuhempaskan tubuhku ke atas ranjang "ahhhh suntuk sekali,mengapa semua terasa melelahkan bathinku berteriak aku merasa sangat frustasi,tak berselang lama akupun tertidur.


Aku terbangun terusik dengan dering suara telepon,kelopak mataku perlahan terbuka silau sinar pada ponsel membuatku memejamkan mata kembali aku segera meraih ponselku.


"Halo" sapa ku dengan suara serak


"Libur gini malah tiduran mbak,mendingan jalan yuk mbak"


"Hmmm Emang mau kemana?"


"Terserah mbak aja"


"Lha kamu yang ngajak kok malah terserah mbak"


"Kalau aku pengennya ke hotel lah mbak" ujar Fahri tertawa


"Dasar otak mesum kamu"


"Lho tadi mbak kan nanya aku jawab mbak malah marah,normal mbak aku kan cowok"


"Mangkanya aku nanya mbak"


"Yasudah bagaimana kalau kita jalan - jalan kepantai saja kamu mau?"


"Siap mbak"


Setelah memutuskan sambungan telepon aku bergegas mandi dan bersiap - siap setelah itu aku menuju pantai dimana aku sudah berjanji pada Fahri,setibanya disana ternyata Fahri telah sampai lebih dulu dariku.


"Hai udah lama kamu?"


"Lumayan mbak"


"Terus gimana dengan nenek,jangan bilang kamu tinggalkan sendirian" aku segera turun dari motorku yang ku parkir kan dibawah pohon rindang.


"Si bibik udah selesai urusannya,mangkanya aku bisa keluar"


Aku dan Bagas eh sori Fahri berjalan menuju bangku yang berada disisi pantai lalu kamipun duduk ditepian pantai aku lagi - lagi menarik napas dalam kembali mengingat kejadian tadi saat tak sengaja melihat mobil Bagas yang melintas didepanku aku berulang kali menepisnya dan mencoba menyakinkan diri bahwa yang kulihat tadi bukan mobil Bagas.


Tiba - tiba suara ponselku berdering kutatap layar ponselku dan ternyata Bagas menghubungiku.

__ADS_1


"Halo"


"Kok jawabnya singkat gitu sih yank,kamu kenapa?"


"Tidak kenapa - kenapa?"


"Lalu kenapa dirimu nggak bersemangat gitu atau dirimu malas dan sudah bosan dengan telepon ku baiklah kalau begitu,dan maaf kalau teleponku ini menganggu"


"Bukan bukan itu" jawabku aku mencoba kuat namun air mataku tak mampu untuk kubendung dan akhirnya menetes dari kelopak mataku aku sudah tak perduli dengan Fahri yang sedang menatapku.


"Kok dirimu malah menangis kalau memang sudah bosan aku mengerti kok dan aku sadar karena jarak memang sulit untuk sebuah hubungan"


"Dirimu sebenarnya berada dimana sih?"


"Kenapa dirimu nanyanya begitu sih yank"


Air mataku semangkin pecah Fahri mengenggam tanganku dan menatapku seolah memberikan kekuatan padaku yang saat ini sedang terluka dan rapuh aku membiarkannya karna saat ini aku memang membutuhkan orang lain untuk memberikan kekuatan padaku.


"Pagi tadi aku melihat mobilmu yank melintas didepanku saat aku sedang berbelanja"


"Dimana?"


"Didepan pasar tradisional dirimu saat itu sedang bersama seorang wanita dan itu aku tau dia bukan istrimu"


"Kamu salah orang sayang tidak mungkin aku berada disana,kalaupun aku berada disana orang yang pertama aku hubungi adalah dirimu sayang"


"Ataukah aku hanya salah lihat gitu maksudmu?"


"Benar sekali dirimu salah lihat yank,mangkanya jangan pikir macam - macam jadinya dirimu sedih sendiri,sekarang hapus air matamu aku disini lagi kerja nanti aku akan telepon kembali oke sayang"


"Tunggu yank aku masih kangen dan aku mau dirimu"


"Aku lebih dari itu,aku ingin peluk dirimu dan kita bercinta bagai dulu lagi tapi saat ini aku hanya bisa menahan semuanya"


"Yank"


"Iya kenapa?"


"Kapan kamu kembali?"


"Lama sayang sekitar 2 tahun lagi"


"Jadi selama itukah kita tidak bisa bertemu?"


"Ada cuti sih, nanti aku akan usahakan ketika pulang aku akan mengatur waktu untuk kita bertemu,sekarang udah dulu ya sayang muachhh.

__ADS_1


Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Bagas kulemparkan pandanganku jauh diujung laut dan secara perlahan kulepas kan genggaman tangan Fahri sesaat hening mewarnai senja ditepian pantai.


__ADS_2