
Sudah 40 hari ibu meninggalkan kami,rasa kehilangan yang begitu dalam masih sangat kami rasakan,namun aku mencoba untuk menerima kenyataan bahwa kematian merupakan sebuah kepastian,aku berserah pada yang maha kuasa dan senantiasa memanjat kan doa buat ibuku tercinta.
Aku berusaha berdamai dengan perasaanku sendiri mencoba menerima kepergian orang yang sangat berarti dalam hidupku dan kini ibu tidak perlu merasakan sakit lagi.
Hari ini aku rindu pada ibu aku dan Mbak Eva juga bersama anak - anak berziarah ke makam ibu,kami memanjat doa di atas pusara ibu,setiap ayat yang ku panjatkan terbersit wajah ibu dipelupuk mataku dan tersenyum padaku.
Aku menahan air mata agar tidak tumpah,kerinduan yang begitu dalam sekaligus merupakan rindu yang paling pahit aku rasakan saat ini.
"Tolong maafkan Lina bu yang belum bisa membahagiakan ibu sepenuh nya,bahkan mungkin saja Lina pernah membuat hati ibu terluka " bisik ku dalam hati ku utarakan kata itu diatas pusara ibu,andai waktu bisa ku putar kembali aku ingin menghabiskan banyak waktu bersama ibuku namun aku sebagai manusia hanya bisa berencana sang pencipta yang menentukan semua.
Semoga Allah memberi tempat yang paling mulia disisinya diterima amal ibadahnya dan menjauhkan ibu dari siksa kubur-Nya .Amin.
Terima kasih atas semua yang pernah ibu berikan kepada kami anak-anak ibu, dan maafkanlah kami yang belum bisa membahagiakanmu, untukmu Ibu semoga ibu Khusnul khotimah.
Ku usap batu nisan ibu, setelah memanjatkan doa kami pun beranjak pulang.
Aku tahu ada atau tidaknya Ibu disampingku kehidupan akan tetap berjalan untuk itu aku harus berusaha kuat dan tegar menerima kenyataan hidup yang terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi.
Tidak yang benar-benar siap untuk kehilangan karena kehilangan sangatlah tidak menyenangkan, banyak hal yang baru aku tahu sejak di tinggalkan ibu menjadi seorang ibu ternyata bukanlah hal yang sangat mudah sedih dan sepahit apapun kisah perjalanan hidupnya seorang ibu harus tetap kuat di hadapan anak-anaknya.
Aku jadi teringat kembali kenangan bersama ibu saat kepergian ayah, sejatinya orang yang paling sangat bersedih dan berduka adalah ibu namun saat itu Ibu tidak pernah menampakan kepada anak-anaknya padahal saat itu aku sering memergoki ibuku sedang menangis setiap malam di dalam kamarnya.
__ADS_1
Aku ingat sekali saat jenazah ayah tiba di rumah aku mas Rahmat dan kakak kakak ku menangis histeris, saat ayah meninggal ibu dengan tegar menguatkan kami Ibu mencoba menghibur kami tak sedikitpun Ibu mengeluarkan air mata.
Dan setelah 3 hari kepergian ayah Mas Rahmat mengalami demam panas ibu dengan sangat telaten mengurus Mas Rahmat padahal ia sendiri sedang sakit iya begitu tidak bertenaga karena terkuras ketika meluapkan emosi kesedihan yang ia pendam sendiri.
"Kamu mau makan apa nak?" ibu akan buatkan untukmu" tanya ibu pada Mas Rahmat ketika itu.
Mas Rahmat yang sedang sakit tentunya kehilangan selera makannya, Mas Rahmat hanya menggeleng saat itu namun Ibu tetap saja memasak makanan yang enak-enak hari itu untuk memancing selera Mas Rahmat agar Mas Rahmat dan kami mau makan, Ibu merawat Mas Rahmat hingga sembuh dengan penuh kesabaran sampai akhirnya kami mengikhlaskan kepergian ayah untuk selama-lamanya.
Beban yang ditinggalkan oleh ayah tidak berhenti sampai di sana, sejak kepergian ayah, Ibu pikul sendirian tanggung jawab untuk membesarkan kami dan memikirkan masa depan kami anak-anaknya, dengan ikhlas dan tanpa pernah mengeluh Ibu mengambil alih tanggung jawab tersebut ibu selalu berupaya memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan kami yang kami sendiri tahu itu tidak mudah karena saat ini aku pun mengalami hal tersebut.
Sangat besar pengorbanan dan perjuangan yang telah ibu lakukan untuk kami hatiku semakin pilu aku mengenang semuanya karena hingga saat ini aku belum bisa membahagiakan ibu sampai saat ini,ibu merupakan poros kehidupan buat seorang anak butuh kekuatan mental yang cukup besar saat kehilangan seorang sosok ibu.
"Iya mbak"
Sebelum pulang aku kembali menoleh ke pusara ibu "Lina pamit bu" bisikku entah mengapa aku yakin ibuku mendengarkannya setelah itu kami beranjak pulang.
Dirumah ibu tampak masih berkumpul saudara-saudaraku yang lain karena nanti malam kami berniat untuk mengadakan pengajian untuk mengenang 40 hari kepergian ibu,setelah ba'da isya acara pun segera dimulai terdengar lantunan ayat-ayat berkumandang memenuhi ruang tamu,
Setelah pengajian selesai digelar,mas Rahmat meminta untuk kami berkumpul diruang keluarga,
"Kepergian ibu adalah merupakan pukulan yang sangat berat bagi kita semua dan tentunya kita semua bersedih namun kita harus tahu Allah lebih menyayangi ibu kita, untuk ketenangan ibu di sana kita harus kuat dan ikhlas serta senantiasa mendoakan ibu" ucap mas Rahmat dengan suara bergetar
__ADS_1
Mas Rahmat memang benar dan aku segera meredam segala kepedihan dan tangis ku mencoba mengikhlaskan kepergian ibu setidaknya aku pernah merasakan kasih sayang seorang ibu dan seharusnya hingga saat ini aku bersyukur memiliki mas dan kakak yang saling peduli dan menyayangi.
kamipun akhirnya saling berpelukan dan menguatkan satu sama lain, sekelebat aku melihat ibu yang sedang menatap kearah kami tersenyum kini ibu tidak merasakan sakit tadi ibu telah tenang di sana "selamat jalan Bu" bisikku dalam hati
Setelah kepergian ibuku aku berusaha bangkit dan kembali menjalani hari-hari dengan penuh semangat, aku mulai menyadari bahwa hidup bukanlah milik kita sendiri mau tak mau kita harus menerima apa yang sudah ditakdirkan, jujur kuakui ruang di hatiku terasa hampa dan kosong hidup terasa lebih jauh berbeda namun aku sadar aku masih banyak tugas di kehidupan ini masih banyak pekerjaan dan tanggung jawab yang harus kuselesaikan saat ini.
Hari ini aku kembali pulang kerumah dan mulai menjalankan kembali usaha laundry yang telah lama sengaja kututup dibantu kedua putriku kami mulai merapikan kembali tempat usahaku tersebut, di tengah kesibukan kami terdengar suara mobil dari luar rumah.
"Coba dilihat sayang siapa yang datang" ujarku pada si sulung
Putriku segera melaksanakan titah ku, iya segera melangkah menuju ruang tamu sementara aku melanjutkan pekerjaanku.
"Maafkan aku Lin" aku tidak bisa hadir saat kepergian ibu karena Bela sedang dirawat dirumah sakit" ujar Reza yang tiba - tiba saja sudah berdiri tepat dibelakang ku.
"Aku faham Re" tidak mengapa dan tolong maafkan jika ada kesalahan ibu padamu selama ini"
"Ibu adalah orang yang sangat baik,kata - katanya selama ini tidak pernah menyakitkan ku sedikitpun selama ini,aku yang menyesal tidak punya kesempatan untuk meminta maaf pada ibu" ucap Reza dengan wajah bersedih.
"Kamu tidak perlu khawatir Re karna aku yakin ibu telah pun memaafkan kita semua" ucapku mengusap pundak Reza dan segera melanjutkan pekerjaanku.
Aku mencoba berdamai dengan semuanya termasuk dengan Reza karena saat ini aku hanya ingin merasakan damai yang sesungguhnya kendati aku tak akan pernah bisa untuk mencintai Reza namun aku ingin berusaha menjalin komunikasi yang baik karena bagaimanapun Reza adalah ayah dari anak - anakku.
__ADS_1