CINTAMU MEMBAWAKU PULANG

CINTAMU MEMBAWAKU PULANG
Eps.76


__ADS_3

Reza hari ini menginap dirumah setelah makan makan malam Reza menghampiriku yang tengah duduk diteras depan rumah sembari menikmati secangkir teh hangat.


"Lin aku ingin membicarakan sesuatu padamu"


"Silakan Re aku mendengarkanmu"


"Aku berharap kita bisa memulai hubungan kita seperti dulu lagi,aku ingin kita mengakhiri pertengkaran kita selama ini kita mulai dari awal,aku akan pindah kerja kembali disini"


"Aku pun berharap hubungan kita baik - baik saja untuk kedepannya karena walau bagaimanapun dirimu adalah ayah dari anak - anakku " jawabku menarik napas dalam kemudian menghembuskan perlahan-lahan.


"Benarkah Lin aku sangat senang mendengarkannya dirimu memberikan kesempatan untuk kita membenahi kembali rumah tangga kita " ujar Reza memegang tanganku..


"Maafkan aku Re"


"Aku sudah memaafkan mu Lin,mangkanya malam ini aku berada di hadapanmu,aku benar - benar sangat merindukanmu"


"Maafkan aku sekali lagi,aku hanya ingin hubungan kita sebatas seorang teman tidak lebih Re,namun demikian kita bisa sama - sama merawat anak - anak dengan kasih penuh kasih tampa ada pertikaian yang terjadi seperti dulu lagi"


"Maksudmu Lin"


"Aku ingin kita tetap menjalin hubungan baik namun aku juga tetap menginginkan kita mengakhiri hubungan sebagai suami istri"


"Mengapa Lin,apakah dirimu tidak bisa membuka hati untukku lagi"


"Maafkan aku Re karena perasaan mencintaimu sudah tidak tersisa sedikitpun,hatiku sudah terlanjur jauh pergi aku harap dirimu mau mengerti"


"Tidak bisakah kamu beri aku kesempatan" ujar Reza menatap kearahku.


"Maafkan aku Re"


Reza melangkah masuk kedalam rumah dengan raut wajah muram.


Seandainya perasaan suka pada seseorang bisa diarahkan aku akan memilih Reza sesuai dengan keinginan almarhumah ibu ku,walau hatiku pernah tersakiti aku akan memberikan kesempatan kedua pada Reza akan tetapi hatiku menolak.

__ADS_1


Aku bukanlah orang yang mudah jatuh cinta, namun aku bukanlah orang yang suka mempermainkan perasaan orang lain aku tidak akan pernah kembali ketika aku sudah benar-benar pergi.


Malam mulai larut dan seperti biasa jika Reza berada di rumah aku akan tidur bersama kedua putriku,aku melangkah masuk kedalam kamar Reza telah tertidur kupandangi wajahnya hatiku merasa iba "Maafkan aku Re aku tidak bisa memberikan cinta padamu seperti dulu lagi,aku sudah terlanjur memberikan hatiku pada orang lain" bisikku dalam hati,setelah mengambil selimut aku melangkah keluar kamar aku memilih tidur bersama kedua putriku.


Sudah seminggu Reza berada dirumah tidak ada tanda - tandanya ia akan kembali ke kota B.


Aku sebenarnya ingin ngobrol dengannya terkait perceraian kami namun aku merasa saat ini waktunya belum tepat untuk mengutarakannya karena selama sejak satu minggu yang lalu Reza tampak murung hingga aku tak tega untuk menyampaikan niatku itu.


Sore ini ibu mertuaku datang kerumahku sejak kejadian dulu baru hari ini ia kembali berkunjung kerumahku.


"Assalamualaikum" sapa ibu mertuaku ia segera masuk menghampiriku yang tengah sibuk menyetrika baju milik pelanggan ku.


"Waalaikumsalam eh mama, gimana kabarnya ma,mama sehat kan?" ujarku lalu menyalaminya.


"Alhamdulillah Mama sehat nak, di mana Reza nak"


"Ada ma, sedang menonton bersama anak-anak"


Dan setelah kedatangan mertuaku sore itu hubunganku dengan mertua ku mulai membaik, pagi ini setelah mengantar anak-anak ke sekolah Reza memasukkan beberapa pakaian yang memang masih berada di rumahku ke dalam sebuah koper aku hanya diam melihat Reza yang tengah sibuk dengan kegiatannya.


Aku memilih ih melakukan pekerjaan memasak ku di dapur lalu Reza datang menghampiriku yang saat ini tengah sibuk memasak.


"Lin aku ingin bicara denganmu" ujar Reza, aku segera menghentikan kegiatan memasak lalu duduk di meja makan bersebelahan dengan Reza.


"Lin aku akan mengontrak rumah dan kembali pindah bekerja disini,aku tak ingin kita berpisah untuk itu aku berikan waktu pada mu untuk mempertimbangkan semuanya,aku akan menunggu sampai dirimu dapat menerimaku kembali"


Hatiku terenyuh saat mendengar ucapan Reza,setelah kepergiannya aku tertegun sesaat aku malah melamun, aku sendiri bingung apa yang seharusnya aku lakukan terhadap Reza karena sebuah rasa tidak bisa untuk kita kendalikan,dan rasaku terhadap Reza hanya sebagai orang yang pernah dekat tepatnya aku hanya menghargainya Reza sebagai sesama manusia.


Reza kini mungkin benar telah berubah lebih baik terhadapku terlihat dari perlakuannya beberapa hari ini tapi cintaku telah menjadi milik Bagas seutuhnya walau sering kini aku merasa pedihnya saat jarak memisahkan kami kembali.


Sering kali kita mendengar bahwa melepaskan jauh lebih mudah daripada mempertahankan tapi tidak berlaku bagi mereka yang terlanjur mencintai seseorang dengan tulus dan memberikan hati dengan sepenuhnya jiwa.


Itu yang kurasakan saat ini hubunganku bersama Bagas mangkin lama semangkin tidak jelas,malah saat ini dia jarang sekali meneleponku alasannya karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hatiku begitu sakit oleh rasa rindu yang selalu bergejolak di hatiku, jangankan untuk bertemu berkomunikasi lewat dunia maya kini sudah terasa sulit tak jarang Bagas lama membalas pesan yang sengaja kukirim.

__ADS_1


Sering kali kucoba untuk mengakhiri kisah ini namun aku selalu gagal bukan tak mampu untuk mencari yang lain namun hatiku telah terjebak dengan perasaan satu arah yang aku sendiri kini tak yakin mungkinkah Bagas akan berjalan menuju kearahku sementara Bagas sepertinya telah menjadi candu bagiku.


Sudah hampir 5 bulan ku lalui hari - hari tampa tahu kapan pertemuan itu kembali terjadi.


"Apa jadi diri melanjutkan kontrak kerja disana yank"


"Ia " jawab Bagas datar.


"Jadi kapan kamu kembali mengunjungi ku kembali aku rindu yank"


"Aku belum tahu sementara pekerjaanku begitu padat untuk saat ini biarkan berjalan seperti ini,aku akan berusaha mengabari jika disaat waktu luang ku "


Kata - kata yang terakhir Bagas ucapkan diakhir obrolan kami sore ini begitu membuatku sangat bersedih,aku sangat merindukannya terlebih saat malam datang menyapa aku begitu kesepian hatiku diliputi kekecewaan yang kubutuhkan kekuatan dan dukungan dari Bagas namun untuk menelepon disaat malam pun sudah jarang ia lakukan.


Sejujurnya aku merasa sangat bodoh mempertahankan sesuatu yang terus menerus menyakitkan berharap pada sesuatu yang tak tahu pasti.


Air mata membasahi pipiku malam ini aku begitu merindukan Bagas namun sikap cueknya apakah bertanda dia sudah tak menginginkan diriku dan mungkinkah hanya aku saja yang merindukannya hingga ingin secepatnya bertemu.


Dorongan perasaan yang bimbang membuatku mencoba menghubunginya setelah lama menunggu Bagas menerima panggilan telepon dariku.


"Maaf aku mengganggu" ucapku pada Bagas malam ini.


"Gapapa aku yang seharusnya meminta maaf karena saat ini aku benar-benar sibuk sehingga jarang memberi kabar dirimu, kok belum udah larut lho,entar dirimu sakit "


"Aku belum ngantuk"


"Kok bisa emang ada apa?"


"Dirimu bisa - bisanya nanya gitu,dirimu sudah berubah kamu nggak peka"


Aku segera memutuskan Sabungan telepon mengakhiri obralan dengan Bagas malam ini,aku diliputi amarah namun Bagas tidak kembali menghubungi padahal aku mengharap agar dia kembali menghubungiku malam ini tangis ku lalu pecah setelah beberapa saat Bagas tak juga kunjung meneleponku.


Aku terbangun jam menunjukkan pukul 5 subuh jangankan menelepon mengirim pesan tidak dilakukan Bagas,air mataku kembali tumpah aku tidak marah pada keadaan yang membuat kami saling berjauhan saat ini tapi yang membuatku marah sikap acuh Bagas padaku saat ini.

__ADS_1


__ADS_2