CINTAMU MEMBAWAKU PULANG

CINTAMU MEMBAWAKU PULANG
Eps.67


__ADS_3

Aku duduk didepan teras rumah menikmati semilir angin yang menerpa lembut rambutku.


"Bun kenapa om Bagas udah lama tidak main kemari ya,emang om Bagas lagi sibuk ya bun" tanya Rara putri kecilku.


"Om Bagas pindah bekerja sayang jauh om Bagas sekarang berada diluar negri"


"Owh pantesan nggak pernah main kemari"


Ddrtt.........ddrtt......ddrtt ......


getar suara ponselku kembali terdengar.


"Siapa yang sedang telepon bunda?"


"Om Bagas sayang" jawabku segera menerima telepon dari Bagas


"Halo "


"Halo sayang,kamu lagi ngapain nih"


"Lagi duduk bareng Rara "


"Mana dong aku pengen ngomong rindu dengan my princess please"


Akupun memberikan teleponku pada putriku Rara,dan merekapun ngobrol Rara tampak senang ngobrol dengan Bagas aku menatap wajah anakku tiba - tiba aku merasa sedih melihat ekspresi wajah anakku yang sangat bahagia aku takut jika nanti ternyata hubungan ku dengan Bagas kandas ditengah jalan sementara anak - anakku mulai dekat dengan Bagas.


Putriku mengembalikan ponsel tersebut kepadaku setelah merasa puas ngobrol dengan Bagas.


"Yank seminggu lagi aku bakal pulang ke Indonesia nanti aku usahakan kita agar bisa ketemuan"


"Benarkah?"


"Benar sayang,kamu senang nggak mendengarnya"


"Aku senang sekali mendengarnya sayang"


"Kamu minta oleh - oleh apa sayang"


"Aku tidak menginginkan apa - apa yang kuinginkan hanyalah kehadiranmu"

__ADS_1


"Oke tunggu aku sayang,i Miss you"


"I Miss you to"


Aku merasa sangat bahagia sekali mendengar kabar kepulangan Bagas aku semangkin tak sabar ingin segera berjumpa dengannya.


Tapi tiba - tiba aku teringat kembali kejadian beberapa minggu yang lalu naluriku mengatakan bahwa yang kulihat adalah Bagas aku tidak mungkin salah lihat mata mungkin bisa tertipu tapi mata hati tak mungkin pernah salah.


Ngilu rasa hatiku saat itu walau sepintas aku melihat Bagas menatap perempuan itu dengan tatapan nafsu....b***** ,aku mencoba menekan dada agar rasa sakitnya sedikit berkurang tapi yang ada aku malah sesak napas dibuatnya.


Mataku sudah tidak bisa lagi kutahan untuk tidak mengeluarkan air mata antara sakit hati dan masih cinta berat membuatku mangkin tersiksa aku butuh Fahri,aku melirik pada ponsel ku hari ini anak itu tidak meneleponku bahkan tidak ada pesan satupun darinya.


"Bunda kok melamun ada apa bun"


Aku jadi gelagapan dan buru - buru mengusap kelopak mataku saat putriku sulungku telah berdiri di depan pintu,sudah berapa lama ia berdiri disana batinku, putriku menatapku dengan tatapan penuh tanya.


"N...nggak kenapa - kenapa kok sayang"


"Bun kita jalan - jalan yuk,kakak bosen dirumah"


"Baiklah sayang dan bersiap - siaplah kemudian kita akan pergi jalan - jalan"


Setelah selesai berkeliling mall dengan membeli beberapa belanjaan yang sebetulnya tidak terlalu penting aku mengajak kedua putriku untuk mengisi perut disebuah resto cepat saji yang berada di Mall tersebut.


Aku buru - buru mengurungkan niatku ketika secara tak sengaja aku melihat sosok yang sangat familiar itu,kali ini mataku tidak mungkin salah,jariku bergerak meraba pahaku lalu kucubit aku merasakan sakit ternyata aku tidak sedang bermimpi.


Bagas menatap wanita itu tersenyum penuh hasrat,aku pernah melihat Reza dengan wanita lain dan adegan yang lebih parah dengan ini namun hatiku tak sehancur ini tiba - tiba tubuhku terasa kaku dan dingin kepalaku terasa pusing antara sadar tidak sadar aku memutar balik dan menarik kedua putriku untuk pergi dari sana.


"Bunda kenapa tidak jadi kita makan ayam kremesnya?


"Kepala bunda mendadak sakit sayang nanti kita beli diluar saja ya dan makan dirumah sayang"


Tampa banyak tanya kedua putriku menuruti kata - kataku aku sudah tidak ingat lagi mengapa dengan secepat kilat aku telah sampai diparkiran yang aku ingat hanyalah senyuman Bagas kepada wanita itu, gestur dan tatapan matanya tidak bisa berbohong bahwa Bagas sangat tertarik dengan wanita seksi itu.Oh shiit hatiku semangkin perih mengingatnya ternyata Bagas tak selugu seperti dulu seorang yang kuanggap sebagai malaikat ternyata adalah setan berujud manusia.


Aku segera menghidupkan mesin motorku dan melaju meninggalkan area parkiran, hatiku semangkin remuk kini aku sudah tidak bisa membendung air mataku yang akan tumpah aku menangis saat mengemudi motorku.


"Bun jadi beli ayam kremesnya?" kita sudah melewatinya Bun"


"Iya Bun " timpal sikakak

__ADS_1


"Kalian bisa diam nggak kepala bunda sakit!"


Tampa sadar aku membentak kedua putriku untuk pertama kalinya,seketika aku menyadarinya dan memutar balik arah motorku kemudian aku menghentikan motor ku tepat didepan outlet KFC yang berada disekitar jalan yang kami lalui.


"Kakak turun belilah kepala bunda sakit sayang tampa membuka helm aku menyerahkan 2 lembar uang ratusan pada putriku aku tak ingin kedua putriku tahu bahwa aku sedang menangis.


Setelah selesai membeli ayam kremes tampa ada percakapan antara aku dan kedua putriku,kami segera pulang kerumah,aku memandangi kedua putriku setibanya dirumah mereka diam tak banyak bicara aku menjadi sedih dan ku rangkul keduanya.


"Maafkan bunda sayang,kepala bunda sakit sekali bunda tidak bisa menahannya"


Mereka menghapus sisa air mataku yang tadi tumpah membasahi pipiku.


"Bunda biar adik pijat ya kepalanya"


"Iya bun, bunda segera kekamar ya kakak ambilkan obat di laci" timpal sisulung aku hanya mengangguk dan melangkahkan kaki menuju kedalam kamar,sesaat kemudian sisulung masuk memberikan aku obat pereda sakit kepala sementara Rara putri kecilku sedang fokus memijat kepalaku,aku segera meminum obat yang diberikan putriku.


"Sayang kalian boleh pergi bunda ingin istirahat ya"


"Baik bunda "ucap kedua putriku dan segera menuju pintu kamar,keluar dan menutupnya kembali,meninggalkan aku dikamar sendiri,aku kembali menangis sejadinya,aku merasa benar - benar gila dibuat Bagas kuraih ponselku dan segera menghubungi Bagas namun tak satupun ia angkat telepon ku walau aku telah berulang kali meneleponnya,aku semangkin kalap dengan melempar semua bantal dan guling dari tempat tidur hatiku sangat sakit aku mengingat bagaimana saat Bagas sedang mencumbu ku pasti saat ini ia sedang melakukannya dengan wanita itu,aku seperti tampak tidak waras setelah melihat kejadian itu bahkan aku masih berupaya menghubunginya mengapa mencinta sesakit ini,aku selalu setia pada orang yang kucintai namun mengapa mereka semua *******,selalu saja menyakiti hatiku.


Dering suara telepon pun berbunyi aku buru - buru meraihnya masih berharap itu adalah Bagas dan ternyata bukan Bagas melainkan Fahri


"Hallo mbak cantik lagi ngapain ni"


"Kamu dimana Fahri mbak mau ketemu"


"Mbak.....mbak kenapa menangis?" ada apa mbak?' bisa mbak mau ketemu dimana?"


"Dicafe kamu bisa kan ,cafe pertama kali kita jumpa"


"Oke mbak aku segera kesana"


#Setelah sampai dicafe brother,soalnya lagi sakit hati banget say,nggak bisa basa - basi pengen langsung meluapkan rasa sakit yang sudah sampai ubun -ubun#


Aku segera menghampiri Fahri yang telah duduk dipojok ruangan cafe dan aku menumpahkan tangis ku dalam pelukan Fahri.


"Menangis lah mbak jika itu bisa membuat mbak lega aku akan selalu temani mbak" ucap Fahri dan membiarkan aku tenggelam dipeluknya dengan sejuta luka.


Mangkin lama aku sudah bisa sedikit demi sedikit menguasai rasa sedihku tangis ku sudah tak terdengar lagi aku melepaskan pelukanku pada Fahri dan segera duduk tak berapa lama seorang waitress datang,aku ingin segera melupakan Bagas dengan memesan minuman beralkohol,Fahri mengenggam tanganku aku membiarkan ia melakukannya suara alunan musik yang memenuhi ruangan cafe begitu sentimentil hingga butiran bening kembali mengalir di kelopak mataku kendati tak se histeris tadi.

__ADS_1


Mungkin ini karma untukku yang sudah berani masuk dalam kehidupan rumah tangga Bagas awalnya aku tak pernah memperdulikan bagaimana sakit hati istri Bagas jika ia melihatku bermesraan dengan suaminya,jika Bagas sendiri sanggup meninggalkan istrinya hanya untuk kencan denganku karena aku lebih muda dari istrinya,maka sangat besar kemungkinan Bagas juga lebih memilih wanita itu ketimbang aku yang kalah cantik dari wanita itu mengingat itu air mataku kembali pecah tak terbendung.


__ADS_2