
Hingga siang hari Bagas tidak menghubungiku sama sekali,aku benar - benar kesal karena sikap Bagas yang mulai acuh terhadapku.
Aku berusaha menepis bayangan Bagas yang kembali melintas dalam pikiranku,semangkin aku mencoba aku semangkin mengingatnya senyumannya,tatapan teduhnya, tawa lepasnya seolah-olah menari-nari di pelupuk mataku aku jadi mengingat semua tentangnya.
Bagas begitu berarti bagiku, bahkan setiap detik dan setiap menit dalam hatiku selalu tentang dia,namun sepertinya takdir sepertinya mempermainkan ku.
" Untuk apa tuhan mempertemukan kami kembali jika akhirnya terpisah kembali?" bathinku berbisik hatiku terasa begitu sakit.
Aku kembali menatap kearah ponselku namun Bagas tak kunjung menghubungiku aku merasa putus asa hingga muncul pikiran yang bukan - bukan mungkinkah Bagas sudah kecantol wanita lain aku meneteskan air mata untuk sekian kalinya.
Kucoba memejamkan mataku untuk menghilangkan perasaan sedihku yang sedang memenuhi pikiranku sejujurnya kuakui jauh didalam lubuk hati aku sedang dilanda kerinduan yang amat dalam,aku berharap bisa bertemu dengan Bagas saat ini namun harapan itu hanyalah sebuah harapan hampa yang aku sendiri tidak tahu pasti kapan akan terjadi kembali.
Siang kini tergantikan oleh senja kelabu,mentari bersinar kemerahan sore ini aku hanya berdiam diri duduk diteras depan rumahku kubiarkan segala perasaan yang tengah bergelut di pikiranku "tahukah dirimu bahwa aku begitu merindukan mu gas" aku berbisik dalam hati.
Sudah bertahun lamanya aku mencintai Bagas namun tak pernah terpikirkan olehku akan seperti ini jadinya aku sama sekali tak mengira cintaku akan sesakit ini,mungkin juga aku yang salah pada awal melangkah mengawali kisah cintaku dengan Bagas atau mungkin aku terlalu terburu - buru menyerahkan perasaan cinta pada Bagas,tapi apakah perasaan bisa disalahkan? karena perasaan cinta akan datang begitu saja tanpa aku bisa menghentikannya.
Udara sore yang berhembus tidak bisa menyejukkan hatiku,aku segera beranjak dari dudukku melangkah masuk kedalam kamar, kuhempaskan tubuhku diatas ranjang hatiku terasa kosong terlalu lama aku berselimut rindu namun tak sedikitpun Bagas perduli bahkan mungkin saja ia telah lupa akan kata - kata yang pernah ia ucapkan dulu bahwa ia ingin selamanya bersamaku,kini semua hanya kesedihan panjang yang kurasakan sakit saat orang yang begitu berarti tiba - tiba tidak begitu perduli namun begitu rasa sayangku masih begitu kuatnya untuk Bagas.
Tampa terasa air mata mulai mengalir di pipiku,kuresapi setiap rasa sakit didada,emosiku berantakan saat aku mengingat memori indah bersama Bagas,aku benar - benar kehilangan arah tanpa Bagas hidup terasa hampa aku bahkan tak mampu menerima kenyataan seandainya jika kami tak ditakdirkan untuk bersama karena selama ini yang kutahu kebahagiaanku adalah Bagas,aku bahkan tak rela jika pertemuanku dengannya hanya untuk memberikan pelajaran tentang cara mengikhlaskan dan melepaskan untuk kehilangan memikirkan semua mendesak ku untuk menghubungi Bagas, kuraih ponselku dan mendial nomornya segera ku telepon namun sama seperti malam tadi Bagas tidak mengangkat panggilan telepon dariku emosiku semangkin meluap aku mengirimkan sebuah pesan pada Bagas aku ingin mengetahui apa reaksi Bagas saat aku menginginkan perpisahan padanya tidak menunggu waktu lama Bagas membalas pesan yang telah kukirim kan padanya, secepatnya ku baca balasan pesan dari Bagas.
"Tidak bisakah dirimu untuk sedikit bersabar aku benar - benar sibuk dan terkadang waktu untuk diriku saja aku tidak punya"
"Atau memang dirimu sudah tidak menginginkan diriku karena dirimu kini sudah menemukan orang yang lebih dariku yang setiap saat bisa bertemu tampa harus menunggu waktu lama"
__ADS_1
"Jika itu benar maka lakukanlah dan aku pamit"
Ku baca setiap kata yang dikirim Bagas melalui pesan whatsapp aku merasa bahwa aku begitu egois namun jika bicara soal rindu bisa menjadi candu yang siap datang kapan saja dan obat yang paling mujarab adalah dengan bertemu tapi sayang aku tidak bisa merasakan bertemu kala rindu itu datang menggebu - gebu sementara jarak dan waktu menjadi musuh terbesarku dari rasa rinduku itu,aku hanya ingin agar dirinya ingat bahwa ada seseorang yang menunggu dengan ketulusan saat dipisahkan oleh jarak dengan memberi kabar sebagai penawar rasa rindu itu.
Hal ini kusampai kan pada Bagas bahwa semua itu karena aku sedang merindukan dirinya setelah aku menyampaikan perihal tersebut membuatku sedikit merasa lega,namun bagaimana jika orang yang kita rindukan tidak benar - benar merindukan kita?
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi namun aku masih betah rebahan diatas ranjang,hari ini anak - anak libur sekolah aku begitu malas untuk melakukan aktifitas hari ini.
Suara dering ponsel membuatku bangun dari tidurku dengan berat kuraih ponsel diatas nakas dan kembali merebahkan tubuhku ke atas ranjang.
"Assalamualaikum apa kabar say" sapa suara dari seberang sana,aku mengenali pemilik suara tersebut suara itu milik sahabat lamaku yang bernama Rita.
"Waalaikumsalam Rit" aku tidak begitu sehat,kamu sendiri bagaimana kabarnya?"
"Ngomong - ngomong kapan acaranya akan digelar Rit"
"Hari ini say,kamu bisa dong datang"
"Maaf banget Rit kayaknya aku nggak bisa datang karena kondisiku saat ini tidak memungkinkan untuk aku hadir di pesta adikmu,salam aja ya dan semoga samawa"
"Terimakasih say atas doanya semoga dirimu cepat sembuh dan jangan terlalu dipikirkan say sebaiknya akhiri saja"
"Terimakasih Rit oke lain waktu mudah - mudahan kita dapat bertemu"
__ADS_1
"Amin assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Aku ingin melanjutkan tidurku namun tiba - tiba ucapan terakhir Rita kembali terngiang di telingaku apa maksudnya ucapan Rita barusan yang mengatakan " sebaiknya jangan dipikirkan dan ada baiknya untuk aku mengakhiri semua" bisikku dalam hati,aku merasa ada yang aneh dengan kata - kata Rita ada apa sebenarnya apa yang ingin Rita sampaikan padaku sesungguhnya.
Kata - kata Rita membuatku mengurungkan niatku untuk kembali tidur rasa kantukku pun hilang seketika aku beranjak dari tidur dan bergegas melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri setelah selesai mandi aku menuju ke dapur dan menyeduh secangkir kopi hangat.
Aku duduk di kursi meja makan untuk menikmati secangkir kopi hangat yang ku buat sendiri namun kata - kata Rita tetap saja memenuhi pikiranku membuatku semangkin penasaran ada apa sebenarnya pertanyaan yang sama kembali menyeruak di hati kecilku.
"Bunda sudah bangun?" ucap putriku menyapaku membuyarkan lamunanku seketika.
"Bun sebaiknya bunda istirahat saja hari ini tidak usah memasak untuk makan siang" ujar putriku yang telah duduk di sebelahku aku menatap kearahnya,putriku seolah tahu akan tatap mataku yang Seolah ingin bertanya padanya.
"Ayah tadi telepon bun,ayah mengajak kita untuk makan siang diluar hari ini" jelas putriku kepadaku.
"Kalian aja sayang makan siang bareng ayah,bunda kayaknya nggak bisa ikut karena kayaknya bunda kurang enak badan hari ini" ujarku menjelaskan kepada putriku, iapun sepertinya memahaminya dan sama sekali tidak memaksaku untuk tetap ikut acara makan siang bareng ayahnya siang ini.
"Bunda mau kakak buatkan sarapan apa sekarang ini"
"Tidak sayang bunda tidak ingin sarapan bunda lagi tidak selera makan sayang nanti jika bunda lapar bunda akan buat sendiri"
"Bunda yakin"
__ADS_1
"Iya sayang kamu jangan khawatir " ujarku lalu bangkit dari dudukku dan mengusap pucuk kepala putriku sembari tersenyum dan berlalu masuk kedalam kamar kembali.