
Hubungan yang terjalin antara aku dan Bagas selama 2 tahun baik - baik saja bahkan kami semangkin saling mencintai satu sama lain, sebelum kejadian sore itu.
# flashback
sore itu aku benar - benar sibuk,ada beberapa orang berniat melakukan pengajuan kredit,didalam perjalanan menuju salah satu rumah nasabah ku tiba - tiba ada panggilan telfon dari nomor yang tak dikenal, aku menduga panggilan tersebut dari salah satu nasabah ku,aku segera menerima panggilan telfon setelah terlebih dahulu memarkirkan motorku ditepi jalan.
"Halo apakah anda bernama Lina"? ujar seseorang yang berada diseberang sana.
"Betul buk" jawabku spontan
"Bisa kita bertemu sekarang juga?" tanya orang tersebut
"Oh bisa buk bisa,sekarang saya memang sedang berada dijalan menuju kerumah ibuk"
Tampa ada rasa curiga sedikitpun aku segera menjumpai orang tersebut yang awalnya kuduga calon nasabah ku, orang tersebut mengatakan bahwa dirinya menungguku disebuah cafe,aku segera menuju kesana.
Aku melangkah masuk kedalam cafe setelah memarkirkan motorku terlebih dahulu.
Tiba - tiba mataku tertuju pada sosok yang tidak asing lagi bagiku,dialah Bagas.
Bagas sedang bersama seseorang wanita yang usianya 4 tahun lebih tua dariku aku yakin itu adalah istri Bagas,walau belum pernah bertemu secara langsung namun aku sempat melihat photonya di ponsel milik Bagas.
Awalnya aku ingin mengurungkan niatku untuk masuk.namun aku tak ingin calon nasabah ku kecewa karena aku tidak menepati janjiku,akupun mengurungkan niat untuk pergi dari cafe tersebut kendati hatiku perih melihat pemandangan yang terjadi didepanku.
Aku mengambil tempat duduk paling pojok belakang dan memutar lewat samping aku tak ingin Bagas melihatku.
Setelah duduk pelayan cafe mendatangi ku, aku memesan secangkir cappucino,sambil menunggu pesanan ku datang aku mendial nomor yang tadi dan langsung menghubungi nomor tersebut.
"Halo buk ibuk dimana?" saya sudah berada di cafe buk"
__ADS_1
"Anda duduk dimana ya?"
"Paling pojok buk, saya memakai baju berwarna biru buk"
Sipenelepon segera mematikan ponselnya,pelayan cafe datang mengantarkan pesanan ku dan segera berlalu pergi,sesaat kemudian seseorang menyentuh pundakku dari belakang,aku segera bangkit untuk menyambut orang tersebut yang kuanggap orang nasabah ku..
Tetapi begitu terkejutnya setelah mengetahui siapa orang yang sedang berhadapan denganku dia adalah istrinya Bagas,wanita tersebut secara tiba - tiba menamparku Bagas yang memang berada ditempat itu mencoba untuk menghentikan istrinya namun tidak berhasil.
Security cafe segera turun tangan dan berhasil melerai keributan,saat situasi sudah kondusif akhirnya istri Bagas bersedia untuk menyelesaikan permasalahan ini secara baik - baik walau aku tahu istri Bagas begitu murka kepadaku dan aku sangat memahami itu semua.
Istri Bagas memberi 2 pilihan terhadap Bagas ia meminta Bagas untuk memilih antara aku dan dirinya,hatiku begitu hancur saat mendengar keputusan Bagas yang lebih memilih istrinya ketimbang diriku dan setelah mendengar kata - kata Bagas istrinya memintaku untuk menjauhi suaminya yaitu Bagas.
Kendati perasaanku terhadap Bagas tak mungkin sirna dengan kejadian tersebut,namun aku tak ada pilihan lain,Bagaspun telah memilih istrinya, aku memenuhi keinginan istrinya juga kemauan Bagas,aku segera meninggalkan cafe dengan perasaan sakit tak terhingga.
Aku memacu laju motorku agar segera sampai dirumah setibanya dirumah aku langsung menuju kamar,aku menghempaskan tubuh ke atas ranjang dan menangis tersedu-sedu hingga akhirnya aku tertidur kelelahan.
Menjelang malam aku terbangun dari tidurku,aku kembali menangis mengingat kejadian sore tadi,kuraih ponselku namun tidak ada satupun telepon atau pesan dari Bagas untukku sekedar mengucapkan permintaan maaf kepadaku.
Malam ini merupakan malam yang paling menyedihkan dan sekaligus menyakitkan buatku,aku tak bisa memejamkan mata sedetikpun aku merasa hidupku telah berakhir.
Seharian aku berada didalam kamar aku enggan untuk melakukan aktivitas apapun karena pikiranku masih kacau.
Satu minggu telah berlalu namun Bagas tak kunjung meneleponku kendati Bagas telah berbuat demikian padaku,tak langsung membuatku membenci Bagas,aku kembali menangis saat mengenang Bagas.
Hari - hari kini kulalui dengan kehampaan,harapan yang ku impikan kini akhirnya kandas ditengah jalan,aku kehilangan semangat dan dunia seolah runtuh dimata ku.
Aku berusaha untuk melupakan Bagas namun yang terjadi malah sebaliknya aku semangkin merindukannya,aku menjadi sering murung dan bahkan aku kehilangan nafsu makan.
Di sebalik rasa perih yang kualami,ada seseorang yang bahagia melihat hidupku hancur, orang tu adalah Reza ia merasa bersyukur atas penderitaan ku ini,aku tidak tahu mengapa Reza bisa mengetahui bahwa Bagas lebih memilih istrinya ketimbang diriku.
__ADS_1
Sore ini Reza kembali pulang kerumah setelah hampir Satu bulan lebih ia tidak pulang saat itu kedua buah hatiku mengajakku untuk makan malam bersama dan saat itu aku memang sedang tidak ingin makan,memang sejak Bagas memutuskan hubungan denganku aku jadi tidak nafsu makan.
"Bun ayo kita makan bersama"
"Duluan aja sayang Bunda lagi ada kerjaan" ucapku sembari tersenyum hambar
"Bunda kalian lagi sakit hati tu"
Kedua putriku menatapku seolah meminta jawaban dariku akan kata - kata yang disampaikan oleh ayah mereka, aku kembali tersenyum untuk meyakinkan pada putriku bahwa aku sedang baik - baik saja.
Aku melangkah menuju kekamar dan duduk dijendela kamar dengan menyulut sebatang ***** aku menghisapnya dalam - dalam,aku benar kesal atas ucapan Reza tadi,belum usai rasa kesal ku kembali Reza masuk kedalam kamar ia pun mengambil sebatang ***** yang ada dihadapanku sambil tertawa lepas.
"Ini adalah sebuah karma buatmu seharusnya dari awal kamu tu sadar siapa dirimu,pantas kalau laki - laki ******* itu lebih memilih istrinya yang lebih mapan darimu"
"Cukup Re biar kan aku sendiri!"
Rezapun keluar kamar dengan masih tertawa bahagia,tak lama kemudian Reza pergi keluar rumah.
"Aku menghempaskan tubuhku diatas ranjang aku menangis pilu bathinku seakan berontak ditambah dengan cibiran Reza terhadapku aku merasa dunia ini benar - benar kejam tidak adil terhadapku,aku semangkin muak melihat wajah Reza yang munafik,aku memang bersalah namun tak pantas Reza memperlakukan ku demikian sedangkan dirinya juga tidak lebih baik dariku.
pintu kamar terdengar di ketuk dari luar kemudian kedua buah hatiku masuk kedalam kamar setelah aku mengizinkan mereka untuk masuk.
"Bun apakah bunda sedang sakit"
"Bunda tidak sedang sakit nak cuma sedikit capek"
"Bunda habis nangis ya"
"Iya kepala Bunda pusing rasanya benar - benar sakit mangkanya Bunda menangis tapi sekarang sudah agak baikkan kok,kalian nggak perlu khawatir" ucapku berbohong
__ADS_1
"Biar kami bantu memijat nya bun biar hilang rasa capek nya"
Aku tidak menolaknya agar mereka percaya bahwa aku benar - benar sedang sakit,dan ternyata semua yang dilakukan kedua putriku bisa membuatku tertidur malam ini.