
Aku terbangun dengan kepala yang masih berdenyut - denyut,pusing di kepala dari tadi malam tak kunjung hilang.
Suhu badanku naik aku merasa demam dan sekujur badanku terasa sakit,badanku terasa lemas tak bertenaga, dengan keadaanku sekarang aku hanya bisa berada ditempat tidur
Sudah tiga hari aku tidak melakukan aktifitas seperti biasa.
Pagi ini kondisiku mulai berangsur pulih pelan - pelan aku mencoba bangkit dari tempat tidurku.
perlahan aku menuju jendela udara segar di pagi hari menerpa masuk kedalam pori - pori kulit ku,badanku terasa dingin aku segera menutupi tubuh dengan jaket yang kukenakan,aku kembali berjalan menuju tempat tidur dan duduk tepat disisinya.
"Bunda sudah bangun?" sapa putriku yang baru masuk kedalam kamarku.
Ia membawa segelas susu hangat dan roti di tangannya.ia segera meletakkan kan dimeja yang terletak tepat disamping tempat tidur,kemudian duduk disebelah ku
"Kakak kok nggak berangkat kesekolah?"
Putriku hanya menggelengkan kepala lalu mengulurkan susu hangat buatku,raut sedih terpancar diwajahnya,ia seolah sudah tau apa yang sedang terjadi pada kedua orang tuanya.
"Maafkan Bunda kak,Bunda bukanlah seorang ibu yang baik"
Putriku lalu memegang tanganku dengan erat, ia mengatakan sesuatu kalimat yang tak pernah kuduga sama sekali,kata - kata yang keluar dari bibir mungilnya menunjukkan kalimat seorang yang sudah dewasa.
Aku begitu sangat tersentuh mendengar kalimat yang barusan diucapkan putri sulungku itu,disaat orang lain menghina dan mencerca ku namun putriku sama sekali tidak membenciku,ia seolah tahu apa yang sudah terjadi dalam hidupku dan apa yang kurasakan selama ini.ia sama sekali tidak menyalahkan ku atas semua perbuatan yang telah kulakukan.
Kami berpelukan begitu lama,melihat itu si adik yang tiba - tiba muncul didalam kamar memeluk kami berdua,aku seperti mendapat kekuatan untuk mengambil keputusan.
Aku mencoba menghubungi Reza aku meminta ia pulang untuk menyelesaikan permasalahan kami,aku berharap agar Reza menerima keputusanku untuk mengakhiri pernikahan kami.
Saat makan malam berlangsung Reza baru pulang kerumah,Reza segera bergabung menikmati makan malam,tidak ada percakapan serius diantara kami saat makan malam berlangsung,aku sengaja menundanya memandang saat ini sedang ada kedua buah hatiku setelah menyelesaikan santap malam aku meminta Reza menemuiku dikamar.
"Apa yang ingin kau sampaikan!" ~ Reza
__ADS_1
"Re aku memohon padamu agar kita menyelesaikan secara baik - baik,aku ingin kita berpisah"
Ternyata Reza tidak menanggapiku dengan baik,amarahnya kian meledak,keributan antara kami didengar oleh anak - anak,Reza keluar kamar dan dengan paksa membawa anak - anak,kedua buah hatiku menolak untuk ikut dengan ayah mereka.
Mereka menangis histeris,hatiku benar - benar hancur melihatnya,aku segera menghalangi niat Reza,ia mendorong tubuhku kelantai.
"Re aku mohon hentikan!"
"Kamu sudah tidak berhak atas anak - anak,aku akan membawa bukti perselingkuhan mu saat sidang perceraian kita dinanti!"
"Re kumohon jangan lakukan itu,aku memohon padamu Re" ujarku sambil bersimpuh dikakinya.
Aku menangis sejadinya - jadinya, kedua putriku melepaskan pegangan tangan ayah mereka dan memelukku dan menangis,melihat itu tidak ada rasa simpati sedikitpun dihatinya Reza,ia kembali menarik kedua anaknya dengan mengucapkan kalimat yang menyudutkan ku didepan anak - anak.
"Re kumohon sekali lagi lepaskan anak - anak,aku akan menuruti semua keinginanmu!"
"Baiklah untuk kali ini aku akan mengabulkan keinginanmu tapi tinggalkan laki - laki ******* itu" ujar Reza melepaskan pegangan tangannya.
Buah hatiku menghambur memelukku,dengan sangat terpaksa aku menuruti kemauan Reza.
Aku hanya bisa menangis saat Reza melakukannya, aku bahkan merasa jijik saat Reza mulai menyentuhku.
Setelah itu Reza terlelap tidur, membiarkan aku dengan sejuta kesedihan.
"Maafkan aku Bagas aku tak bisa menepati janji itu" bisikku didalam hati aku mencoba tegar dan menerima semua kenyataan.
Sejak malam itu aku memutuskan hubungan dengan Bagas bahkan aku menghapus pertemanan disosial media,aku berupaya untuk melupakan Bagas.
Sikapku yang lebih memilih kembali menjalani biduk rumah tangga dengan Reza tidak membuat sikap Reza lebih baik padaku.
Reza tetap Reza yang dulu yang tak pernah memperdulikan dan memikirkan kehidupan berumah tangga bahkan yang lebih menyakitkan ia sering menghinaku dengan kata - kata pedas dan menertawakan ku,dan kini secara terang - terangan ia sering menjalin hubungan dengan wanita lain.
__ADS_1
Aku semangkin tak mengerti apa sebenarnya niat dan keinginannya dengan melanjutkan pernikahan denganku.
Demi tetap bersama dengan anak - anak aku memilih untuk membiarkan semuanya,aku mulai menyibukkan diri dengan pekerjaanku.
Telah hampir Lima bulan aku sudah tidak berhubungan dengan Bagas dan aku sama sekali tidak mendengar kabar tentang Bagas lagi.
Aku berhasil melupakannya,dengan lebih menyibukkan diri bekerja dan menjalankan usahaku,namun jika malam menyapa wajahnya selalu hadir,bahkan dalam mimpi - mimpiku.
Namun Aku gagal untuk malam ini,aku merasa begitu merindukannya,aku mencoba untuk memejamkan mata dan menepis bayangannya namun lagi - lagi aku tidak berhasil,aku kembali menangis untuk sekian kalinya mencoba melepaskan semua beban dihatiku.
Malam semangkin larut wajahku telah sembab oleh air mata namun mataku tak kunjung mengantuk.
Aku bangkit dari pembaringan malamku melangkah menuju dapur kuseduh secangkir kopi hangat untuk menemani malamku,aku kembali masuk kedalam kamar,kubuka jendela untuk sekedar menenangkan rasa gundahku dan Aku duduk didekat samping jendela kamar.
Kutatap malam penuh kehampaan, kubiarkan hati ini hancur berkeping - berkeping sehingga aku tak berani lagi untuk berharap.
Aku mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya dan menyulutnya lalu menghisapnya dengan tarikan lebih dalam.
sama seperti diriku hadir nya malam ini tampa ditemani sinar sang rembulan,hanya suara hewan - hewan malam silih berganti memecah kesunyian malam.
Dadaku terasa sesak,ada kerinduan dihatiku.
Dalam kegelapan malam sosok Bagas kembali hadir seolah menyapaku,aku membuka perlahan mataku untuk sekedar mengusir halusinasi ku.
Namun bathinku kian memberontak seolah tak terima jika kenyataannya aku harus berpisah dengan Bagas di persimpangan,dan kenyataannya membawaku berada pada titik yang mengharuskan ku untuk berhenti.
Ku lirik jam sudah mendekati pukul 4 pagi, aku kembali membiarkan bathinku dan pikiran berdebat hingga rasa kantuk mengalahkan keduanya akupun tertidur dengan keputusan yang masih mengambang.
Aku merasakan tangan seseorang sedang mengelus pucuk kepalaku, aku terbangun dari tidur,wajah manis putriku tersenyum menyapaku,aku segara bangkit dan mengusap kelopak mata.
"Maaf bunda terlambat bangun sayang"
__ADS_1
"Masih ada waktu kok bun" ujar putriku sambil menunjuk kearah jam dinding yang masih menunjuk pada angka 6.
Aku buru - buru melangkah menuju kamar mandi dan segera untuk mandi.